<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017</id><updated>2011-07-31T10:57:06.525+07:00</updated><category term='Lainlain'/><category term='Masalah Nikah'/><category term='Nikah'/><category term='Audio'/><category term='Keluarga Sakinah'/><title type='text'>abinyarasyid</title><subtitle type='html'>Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata : "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?. Allah berfirman : "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". [Al-Baqarah: 30].</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>31</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-7350400732101339292</id><published>2009-12-12T09:21:00.001+07:00</published><updated>2009-12-12T09:23:10.400+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Audio'/><title type='text'>Kajian Buhul Cinta Untuk Melestarikan Sepasang Kekasih Sampai Ke Surga</title><content type='html'>Tema : BuhulCintaUntukMelestarikanSepasangKekasihSampaiKeSurga&lt;br /&gt;Pemateri : Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah &lt;br /&gt;&lt;a href="http://ia331413.us.archive.org/0/items/BuhulCintaUntukMelestarikanSepasangKekasihSampaiKeSurga/BuhulCintaUntukMelestarikanCintaSepasangKekasihSampaiKeSurga.mp3"&gt;BuhulCintaUntukMelestarikan SepasangKekasihSampaiKeSurga&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-7350400732101339292?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/7350400732101339292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/kajian-buhul-cinta-untuk-melestarikan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/7350400732101339292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/7350400732101339292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/kajian-buhul-cinta-untuk-melestarikan.html' title='Kajian Buhul Cinta Untuk Melestarikan Sepasang Kekasih Sampai Ke Surga'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-4982005674784406098</id><published>2009-12-11T14:01:00.000+07:00</published><updated>2009-12-11T14:07:24.333+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Masalah Nikah'/><title type='text'>Berlebih-Lebihan Dalam Meminta Mahar</title><content type='html'>Oleh : Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah bin Baz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertanyaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya melihat dan semua juga melihat bahwa kebanyakan orang saat ini berlebih-lebihan di dalam meminta mahar dan mereka menuntut uang yang sangat banyak (kepada calon suami) ketika akan mengawinkan putrinya, ditambah dengan syarat-syarat lain yang harus dipenuhi. Apakah uang yang diambil dengan cara seperti itu halal ataukah haram hukumnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawaban&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yang diajarkan adalah meringankan mahar dan menyederhanakannya serta tidak melakukan persaingan, sebagai pengamalan kita kepada banyak hadits yang berkaitan dengan masalah ini, untuk mempermudah pernikahan dan untuk menjaga kesucian kehormatan muda-mudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Para wali tidak boleh menetapkan syarat uang atau harta (kepada pihak lelaki) untuk diri mereka, sebab mereka tidak mempunyai hak dalam hal ini ; ini adalah hak perempuan (calon istri) semata, kecuali ayah. Ayah boleh meminta syarat kepada calon menantu sesuatu yang tidak merugikan putrinya dan tidak mengganggu pernikahannya. Jika ayah tidak meminta persyaratan seperti itu, maka itu lebih baik dan utama. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya". [An-Nur : 32]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda yang diriwayatkan dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu 'anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah".[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hendak menikahkan seorang shahabat dengan perempuan yang menyerahkan dirinya kepada beliau, ia bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Carilah sekalipun cincin yang terbuat dari besi". [Riwayat Bukhari]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika shahabat itu tidak menemukannya, maka Rasulullah menikahkannya dengan mahar "mengajarkan beberapa surat Al-Qur'an kepada calon istri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahar yang diberikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada istri-istrinya pun hanya bernilai 500 Dirham, yang pada saat ini senilai 130 Real, sedangkan mahar putri-putri beliau hanya bernilai 400 Dirham. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri tuladan yang baik".[Al-Ahzab : 21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala beban biaya pernikahan itu semakin sederhana dan mudah, maka semakin mudahlah penyelamatan terhadap kesucian kehormatan laki-laki dan wanita dan semakin berkurang pulalah perbuatan keji (zina) dan kemungkaran, dan jumlah ummat Islam makin bertambah banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin besar dan tinggi beban perkawinan dan semakin ketat perlombaan mempermahal mahar, maka semakin berkuranglah perkawinan, maka semakin menjamurlah perbuatan zina serta pemuda dan pemudi akan tetap membujang, kecuali orang dikehendaki Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka nasehat saya kepada seluruh kaum Muslimin di mana saja mereka berada adalah agar mempermudah urusan nikah dan saling tolong menolong dalam hal itu. Hindari, dan hindarilah perilaku meununtut mahar yang mahal, hindari pula sikap memaksakan diri di dalam pesta pernikahan. Cukuplah dengan pesta yang dibenarkan syari'at yang tidak banyak membebani kedua mempelai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memerbaiki kondisi kaum muslimin semuanya dan memberi taufiq kepada mereka untuk tetap berpegang teguh kepada Sunnah di dalam segala hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kitabud Da'wah, Al-Fatawa hal 166-168 dari Fatwa Syaikh Ibnu Baz]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Muthofa Aini dkk, Penerbit Darul Haq]&lt;br /&gt;_________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan redaksi " Sebaik-baik nikah adalah yang paling mudah". Dan oleh Imam Muslim dengan lafazh yang serupa dan di shahihkan oleh Imam Hakim dengan lafaz tersebut diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/"&gt;almanhaj &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-4982005674784406098?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/4982005674784406098/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/berlebih-lebihan-dalam-meminta-mahar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/4982005674784406098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/4982005674784406098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/berlebih-lebihan-dalam-meminta-mahar.html' title='Berlebih-Lebihan Dalam Meminta Mahar'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-8936702406811848563</id><published>2009-12-11T13:50:00.000+07:00</published><updated>2009-12-11T13:50:32.048+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lainlain'/><title type='text'>Kutitip Surat Ini Untukmu</title><content type='html'>Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah Ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku,&lt;br /&gt;&lt;span class="hilite"&gt;Surat&lt;/span&gt; &lt;span class="hilite"&gt;ini&lt;/span&gt; datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku!&lt;br /&gt;Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas &lt;span class="hilite"&gt;ini&lt;/span&gt; lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku… 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri &lt;span class="hilite"&gt;ini&lt;/span&gt; sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kabar gembira tersebut &lt;span class="hilite"&gt;aku&lt;/span&gt; membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu grmbira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap &lt;span class="hilite"&gt;aku&lt;/span&gt; menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. &lt;span class="hilite"&gt;Aku&lt;/span&gt; merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau pun lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan. Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, &lt;span class="hilite"&gt;aku&lt;/span&gt; peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkonganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku… telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. &lt;span class="hilite"&gt;Aku&lt;/span&gt; tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapanku pada setiap harinya; agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar &lt;span class="hilite"&gt;aku&lt;/span&gt; berbuat sesuatu untukmu… itulah kebahagiaanku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula &lt;span class="hilite"&gt;aku&lt;/span&gt; setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo’akan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu &lt;span class="hilite"&gt;aku&lt;/span&gt; mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati &lt;span class="hilite"&gt;ini&lt;/span&gt;. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama &lt;span class="hilite"&gt;ini&lt;/span&gt; kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran. &lt;span class="hilite"&gt;Aku&lt;/span&gt; benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan yang lewat &lt;span class="hilite"&gt;aku&lt;/span&gt; merasa bahwa engkaulah yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama &lt;span class="hilite"&gt;ini&lt;/span&gt; kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku… ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang &lt;span class="hilite"&gt;ini&lt;/span&gt; sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga &lt;span class="hilite"&gt;aku&lt;/span&gt; menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ibu memohon kepadamu, Nak! Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang wajahmu!!&lt;br /&gt;Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit… Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu… Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya engakau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu… Mana balas budimu, nak!? Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah ta’ala telah berfirman, &lt;em&gt;"Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?!" (QS. Ar Rahman: 60)&lt;/em&gt; Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?! Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah &lt;span class="hilite"&gt;aku&lt;/span&gt; berbuat lalai dalam melayanimu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantu dan budakmu. Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang layak untukku wahai anakku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang &lt;span class="hilite"&gt;ini&lt;/span&gt;? Sedangkan Allah ta’ala mencintai orang yang berbuat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan &lt;span class="hilite"&gt;aku&lt;/span&gt; tidak menginginkan yang lain.&lt;br /&gt;Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki supel, dermawan, dan berbudi. Anakku… Tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta &lt;span class="hilite"&gt;ini&lt;/span&gt;, ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga &lt;span class="hilite"&gt;aku&lt;/span&gt; bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah ta’ala, sebagaimana dalam hadits: &lt;em&gt;"Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!" (HR. Ahmad)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Anakku. &lt;span class="hilite"&gt;Aku&lt;/span&gt; sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau telah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan shalat berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;em&gt; Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia? Beliau berkata: "Shalat pada waktunya", aku berkata: "Kemudian apa, wahai Rasulullah?" Beliau berkata: "Berbakti kepada kedua orang tua", dan aku berkata: "Kemudian, wahai Rasulullah!" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah", lalu beliau diam. Sekiranya &lt;/em&gt;&lt;span class="hilite"&gt;&lt;em&gt;aku&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt; bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun ‘alaih)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku!! &lt;span class="hilite"&gt;Ini&lt;/span&gt; &lt;span class="hilite"&gt;aku&lt;/span&gt;, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah ta’ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang &lt;span class="hilite"&gt;aku&lt;/span&gt; takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:&lt;em&gt; "Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang", dikatakan, "Siapa dia,wahai Rasulullah?, "Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga". (HR. Muslim)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan &lt;span class="hilite"&gt;ini&lt;/span&gt; telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana &lt;span class="hilite"&gt;aku&lt;/span&gt; akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku… Bagaimana ibumu &lt;span class="hilite"&gt;ini&lt;/span&gt; kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana terkena do’a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunlah Nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan &lt;em&gt;al jaza’ min jinsil amal…&lt;/em&gt; "Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…" Aku tidak ingin engkau nantinya menulis &lt;span class="hilite"&gt;surat&lt;/span&gt; yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana &lt;span class="hilite"&gt;aku&lt;/span&gt; menulisnya dengan air mata itu pula kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.Anakku… Setelah engkau membaca &lt;span class="hilite"&gt;surat&lt;/span&gt; &lt;span class="hilite"&gt;ini&lt;/span&gt;,terserah padamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh,&lt;br /&gt;Ibumu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diketik ulang dari buku ‘Kutitip &lt;span class="hilite"&gt;Surat&lt;/span&gt; &lt;span class="hilite"&gt;Ini&lt;/span&gt; Untukmu’ karya Ustadz &lt;span class="hilite"&gt;Armen&lt;/span&gt; Halim &lt;span class="hilite"&gt;Naro&lt;/span&gt;, Lc rahimahullah)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-8936702406811848563?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/8936702406811848563/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/kutitip-surat-ini-untukmu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/8936702406811848563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/8936702406811848563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/kutitip-surat-ini-untukmu.html' title='Kutitip Surat Ini Untukmu'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-1122621395493447520</id><published>2009-12-05T16:09:00.001+07:00</published><updated>2009-12-05T16:10:33.482+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Masalah Nikah'/><title type='text'>Wanita Tidak Boleh Menikahkan Diri Sendiri, Wanita Menikah Tanpa Seizin Walinya</title><content type='html'>Oleh : Syaikh Muhammad bin Ibrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertanyaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya : Telah sampai pada saya bahwa ada seorang wanita Australia menikah tanpa wali, tidak disebutkan berapa maharnya dan tidak disaksikan kecuali oleh dua orang yaitu seorang laki-laki muslim dan seorang wanita Nashrani ibunda mempelai wanita. Di dalam proses akad disaksikan oleh teman-temannya serta wanita pencatat perkawinan yang Kristen pula. Setelah dua tahun dari masa penikahan wanita tersebut masuk Islam dan dikaruniai dua anak. Ia bertanya tentang sah tidaknya pernikahan tersebut dan bila tidak sah, apa yang harus dilakukannya dan bagaimana shalatnya karena ia tidak menguasai kecuali bahasa Inggris?&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawaban&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Akad nikah yang telah disebutkan di atas hukumnya tidak sah karena tidak ada wali dan dua orang saksi, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Tidak (sah akad) nikah tanpa wali dan dua orang saksi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika mahar tidak disebutkan pada saat akad nikah, maka belum halal. Adapun cara untuk membenarkan kembali akad nikah, yaitu dengan mengadakan pernikahan baru di hadapan pihak yang terkait dan dilakukan akan nikah setelah keduanya bersedia dan rela. Seandainya tidak bisa menghadirkan wali, maka harus menggunakan wali hakim yang diberi wewenang untuk menikahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang yang telah terjadi masa lalu semuanya tidak dianggap dosa dan kesalahan, dan kedudukan anak-anaknya sah menurut syari’at dan nasabnya tetap dinisbatkan kepada bapak mereka, dengan syarat jika selama ini keduanya meyakini bahwa pernikahan tersebut sah, sebab hal ini termasuk senggama syubhat. Mengenai shalatnya, sang isteri harus secepatnya belajar membaca Al-Fatihah dan dzikir-dzikir yang wajib dibaca dalam shalat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatawa wa Rasa’il Syaikh Muhammad bin Ibrahim, juz 10/90]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wanita Menikah Tanpa Seizin Walinya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertanyaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Apakah boleh seorang gadis menikah tanpa izin walinya? Dan apa hukumnya surat menyurat atau berbicara lewat telpon antara remaja laki-laki dn perempuan dalam rangka berteman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawaban&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh seorang gadis menikah tanpa wali atau izin bapaknya sebab ia adalah walinya yang merupakan orang yang paling tahu tentang kemaslahatan anaknya. Tetapi sebaliknya wali tidak boleh menghalangi anaknya untuk menikah dengan laki-laki yang sebanding juga shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Jika datang kepadamu seseorang baik agama dan amanahnya yang (meminang anakmu), maka kawinkanlah, jika tidak engkau (nikahkan) pasti akan terjadi fitnah dan bencana besar di muka bumi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak etis apabila seorang gadis bersikeras mau menikah dengan laki-laki yang tidak disukai ayahnya sebab bisa jadi apa yang dilakukan bapaknya lebih baik, sementara ia tidak tahu karena kurang berpengalaman. Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu” [Al-Baqarah : 216]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan si gadis itu harus berdoa kepada Allah agar diberi jodoh orang yang shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang masalah surat-menyurat atau berbicara lewat telpon itu tidak boleh karena sangat banyak dampak negatifnya dan menghilangkan rasa malu dari wanita tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kitabul Muntaqa min Fatawa Syaikh Fauzan, juz 3 hal. 237-238]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah lil Mar’atil Muslimah, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerjemah Zaenal Abidin Syamsudin Lc, Penerbit Darul Haq]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-1122621395493447520?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/1122621395493447520/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/wanita-tidak-boleh-menikahkan-diri.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/1122621395493447520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/1122621395493447520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/wanita-tidak-boleh-menikahkan-diri.html' title='Wanita Tidak Boleh Menikahkan Diri Sendiri, Wanita Menikah Tanpa Seizin Walinya'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-2393445773767815722</id><published>2009-12-04T13:37:00.002+07:00</published><updated>2009-12-04T13:46:31.696+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Audio'/><title type='text'>Kajian Peran Isteri Menjadikan Suami Sholeh</title><content type='html'>Tema : Peran Isteri Menjadikan Suami Sholeh&lt;br /&gt;Pemateri : Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah &lt;br /&gt;&lt;a href="http://ia341338.us.archive.org/2/items/KajianRadioRodja_404/PeranIstriMenjadikanSuamiSoleh_ustArmenHalim.mp3"&gt;PeranIsteriMenjadikanSuamiSholeh&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.radiorodja.com/"&gt;Radio Rodja &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-2393445773767815722?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/2393445773767815722/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/kajian-peran-istri-menjadikan-suami.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/2393445773767815722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/2393445773767815722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/kajian-peran-istri-menjadikan-suami.html' title='Kajian Peran Isteri Menjadikan Suami Sholeh'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-8628344606624316920</id><published>2009-12-04T13:27:00.002+07:00</published><updated>2009-12-04T13:29:29.865+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga Sakinah'/><title type='text'>Hak Isteri Yang Harus Dipenuhi Suami (5)</title><content type='html'>&lt;b&gt;[9]. Suami Harus Berlaku Adil Terhadap Isterinya, Jika Ia Mempunyai Isteri Lebih Dari Satu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yaitu berbuat adil dalam hal makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan dalam hal tidur seranjang. Ia tidak boleh sewenang-wenang atau berbuat zhalim karena sesungguhnya Allah melarang yang demikian. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Barangsiapa memiliki dua isteri, kemudian ia lebih condong kepada salah satu dari keduanya, maka ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan pundaknya miring sebelah.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2133), at-Tirmidzi (no. 1141), Ahmad (II/295, 347, 471), an-Nasa'i (VII/63), Ibnu Majah (no. 1969), ad-Darimi (II/143), Ibnu Jarud (no. 722), Ibnu Hibban (no. 1307—al-Mawaarid) dan lainnya, dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 2017)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Pada dasarnya poligami (ta’addud) dibolehkan dalam Islam apabila seorang dapat berlaku adil. Di akhir buku ini, penulis bawakan pembahasan tentang hal ini dalam bab Kedudukan Wanita dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;[10]. Jika Seorang Pulang Dari Safar, Hendaklah Terlebih Dahulu Ia Menuju Masjid Untuk Mengerjakan Shalat Dua Raka'at, Lalu Pulang Ke Rumahnya Untuk Bercampur Dengan Isterinya&lt;/b&gt;Hal ini adalah Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang diceritakan oleh Ka’ab bin Malik radhiyallaahu ‘anhu ketika ia tidak ikut perang Tabuk dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3088) dan Muslim (no. 716 (74)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian hendaklah suami mengutus seseorang untuk memberi kabar kedatangannya agar mereka dapat bersiap-siap menyambut kedatangannya. Atau dapat menggunakan telepon atau HP pada zaman sekarang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di malam itu hendaklah ia tidak langsung tidur sebelum memenuhi hajat biologis isterinya, jika ia mampu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Jangan tergesa-gesa hingga engkau dapat datang pada waktu malam -yaitu ‘Isya'- agar ia (isterimu) sempat menyisir rambut yang kusut dan mencukur bulu kemaluannya. Selanjutnya, hendaklah engkau menggaulinya”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5245, 5246, 5247), Muslim (no. 1466 (57)), Ahmad (III/298, 302, 303, 355) dan al-Baihaqi (VII/254), dari hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma. Dalam hadits ini, maknanya adalah jima’. Jadi, orang yang berakal adalah orang mencampuri isterinya. (Fat-hul Baari IX/342)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sejumlah hak para isteri yang harus ditunaikan oleh para suami. Sesungguhnya memenuhi hak-hak isteri merupakan salah satu keselamatan keluarga, serta sebagai sebab menjauhnya segala permasalahan yang dapat mengusik dan menghubungkan rasa aman, tenteram, damai, serta rasa cinta dan kasih sayang.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Dinukil dari al-Wajiiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz (hal. 304-305)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Waspadalah Terhadap Fitnah Wanita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan suami terhadap isterinya dan kecintaan isteri terhadap suaminya tidak boleh menjadikan keduanya mengharamkan apa yang telah Allah halalkan dan menghalalkan apa yang telah Allah haramkan, atau melakukan dosa-dosa dan maksiat karena ingin mendapat keridhaan masing-masing dari keduanya atas yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala pernah menegur Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Dia berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Sungguh, Allah telah mewajibkan kepadamu membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui, Mahabijak-sana.” [At-Tahrim : 1-2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ash-Shahiihain dari hadits ‘Aisyah radhiyal-laahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah minum madu di tempat Zainab binti Jahsyi dan tinggal bersamanya. Aku dan Hafshah bersepakat untuk mengatakan kepada beliau apabila beliau menemui salah seorang dari kami, ‘Apakah engkau telah memakan maghafir? Sungguh aku mendapati darimu aroma maghafir.’ Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak, tetapi tadi aku minum madu di rumah Zainab binti Jahsyi dan aku tidak akan mengulanginya dan aku bersumpah. Jangan engkau beberkan hal ini kepada seorang pun.’ Maka turunlah ayat ini [At-Tahrim: 1-2]”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 4912) dan Muslim (no. 1474), dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini Allah telah memperingatkan kaum laki-laki agar tidak terfitnah dengan wanita, begitu juga kaum wanita agar tidak terfitnah dengan laki-laki.&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu,&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Yaitu terkadang isteri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenar-kan oleh agama]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.” [At-Taghaabuun : 14-15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Dari jenis unta, sapi, kambing dan biri-biri]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” [Ali ‘Imran : 14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Tidak ada fitnah yang aku tinggalkan setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita.”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5096) dan Muslim (no. 2740 (97)), dari Shahabat Usamah bin Zaid radhiyallaahu‘anhu]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya dunia ini manis dan indah. Dan sesungguhnya Allah menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada bani Israil adalah karena wanita.”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2742 (99)), dari Shahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah seorang muslim benar-benar waspada terhadap fitnah ini, karena di antara manusia ada yang terseret oleh kecintaannya yang berlebihan terhadap isterinya sehingga ia berbuat durhaka kepada orang tua, memutuskan silaturahmi dan berbuat kerusakan di bumi, sehingga laknat Allah akan menimpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah; lalu dibuat tuli (pendengarannya) dan dibutakan penglihatannya).” [Muhammad : 22-23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara manusia ada yang diseret oleh kecintaannya kepada isterinya untuk mencari harta yang haram guna memenuhi kecintaannya dan memuaskan syahwatnya. Di antara mereka pun ada yang saling membunuh dengan tetangganya dengan sebab ulah isterinya. Maka, hendaklah seseorang berhati-hati terhadap fitnah wanita.[&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;Dinukil dari Fiqh Ta’amul bainaz Zaujain (hal. 67-69) secara ringkas]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-8628344606624316920?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/8628344606624316920/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/hak-isteri-yang-harus-dipenuhi-suami-5.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/8628344606624316920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/8628344606624316920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/hak-isteri-yang-harus-dipenuhi-suami-5.html' title='Hak Isteri Yang Harus Dipenuhi Suami (5)'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-213387967316812977</id><published>2009-12-04T08:22:00.005+07:00</published><updated>2009-12-04T08:51:42.769+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Masalah Nikah'/><title type='text'>Nikah Tanpa “KUA” Bermasalahkah?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Oleh : Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Penulis masih ingat betul, tatkala Majalah al-Furqon edisi 12/Th. III, pernah mencantumkan artikel berjudul &lt;b&gt;“Nikah Sirri Antara Hukum Syar’i dan Undang-Undang Negara”&lt;/b&gt; oleh akhuna al-Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf. Ternyata tanpa terduga, banyak komplain dan suara miring saat itu yang masuk ke meja redaksi, ada yang mempertanyakan kepada kami dengan baik, namun ada juga yang bernada emosi, sehingga sebagian mereka berlebihan tatkala berkomentar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penulis telah membuat suatu bid’ah baru dalam agama”!!! “Tidak ada ulama yang berpendapat seperti itu”!!! dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Oleh karena itu, kami memandang perlu kiranya penjelasan tambahan tentang masalah penting ini agar tidak terjadi kesalahpahaman dan fitnah di antara kita semua. Kami berdoa kepada Allah agar memberikan taufiq kepada penulis untuk menulis kebenaran. Apabila tulisan ini memang benar, maka itu hanyalah taufiq Allah semata. Sebaliknya, apabila ada kesalahan, maka itu datangnya dari Syetan dan kelemahan hamba yang lemah ini. Kami terbuka untuk menerima nasehat dan kritikan yang membangun dari semuanya, tentunya dengan cara dan adab Islami yang indah. Wallahul Muwaffiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Definisi Nikah ‘Urfi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Masalah yang sedang kita bahas ini dalam istilah fiqih kontemporer dikenal dengan istilah&lt;b&gt; Zawaj ‘Urfi, &lt;/b&gt;yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pernikahan yang memenuhi syarat-syarat pernikahan tetapi tidak dicatat secara resmi oleh pegawai pemerintah yang menangani pernikahan (baca: KUA).&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[&lt;i&gt;Majalah Al-Buhuts Al-Fiqhiyyah,&lt;/i&gt; edisi 36, Th. 9/Rojab-Sya’ban-Ramadhan 1428 H, hal. 194]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebut dengan nikah ‘urfi (adat) karena pernikahan ini merupakan adat dan kebiasaan yang berjalan dalam masyarakat muslim sejak masa Nabi dan para sahabat yang mulia, di mana mereka tidak perlu untuk mencatat akad pernikahan mereka tanpa ada permasalahan dalam hati mereka.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Al-’Aqdu Al-’Urf, oleh Azmi Mamduh hal. 11, Mustajaddat Fiqhiyyah fi Qodhoya Zawaj wa Tholaq oleh Usamah Al-Asyqor hlm. 130]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari definisi di atas, dapat kita fahami bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan yang menonjol antara pernikahan syar’i dengan pernikahan ‘urfi, perbedaannya hanyalah antara resmi dan tidak resmi, karena pernikahan ‘urfi adalah sah dalam pandangan syar’i disebabkan terpenuhinya semua persyaratan nikah seperti adanya wali dan saksi, hanya saja belum dianggap resmi oleh pemerintah karena belum tercatat oleh pegawai KUA setempat sehingga mudah untuk digugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR. Abdul Fattah Amr berkata: “Nikah ‘urfi mudah untuk dipalsu dan digugat, berbeda dengan pernikahan resmi yang sulit untuk digugat”.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[As-Siyasah Asy-Syar’iyyah fil Ahwal Syakhsyiyyah oleh Amr Abdul Fattah&amp;nbsp; hlm. 43]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Faktor-Faktor Pendorong Nikah ‘Urfi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang untuk memilih pernikahan tanpa dicatat di KUA. Di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;1. Faktor Sosial:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;a. Problem Poligami&lt;br /&gt;Syari’at Islam membolehkan bagi seorang laki-laki yang mampu untuk menikah lebih dari satu istri. Sebagian kaum lelaki ingin mempraktekkan hal ini, namun ada hambatan sosial yang menghalanginya, sebab poligami dipandang negatif oleh masyarakatnya atau undang-undang Negara yang mempersulit poligami atau bahkan melarangnya. Nah, tatkala ada seorang yang ingin berpoligami dan dalam waktu yang sama dia ingin menjaga keutuhan keluargannya, di situlah dia memilih jalan pernikahan model ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Undang-Undang Usia&lt;br /&gt;Dalam suatu Negara, biasanya ada undang-undang tentang usia layak menikah. Di saat ada seorang pemuda atau pemudi yang sudah siap menikah tetapi belum terpenuhi usia dalam undang-undang, maka diapun akhirnya memilih jalan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tempat Tinggal Yang Tidak Menetap&lt;br /&gt;Sebagian orang tidak menetap tempat tinggalnya karena terikat dengan pekerjaan yang digelutinya. Terkadang dia harus tinggal beberapa waktu yang cukup lama sedangkan istrinya tidak bisa menemaninya di sana. Dari situlah dia memilih pernikahan model ini guna menjaga kehormatannya.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;2. Faktor Harta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebagian suku atau Negara masih mengakar adat jual mahal maskawin alias mahar sehingga menjadi medan kebanggaan bagi mereka. Nah, tatkala ada pasangan suami istri yang ridho dengan mahar yang relatif murah, mereka menempuh pernikahan model ini karena khawatir diejek oleh masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Faktor agama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Termasuk faktor juga adalah lemahnya iman, dimana sebagian orang lebih menempuh jalan ini untuk memenuhi hasratnya bersama kekasihnya dan tidak ingin terikat dalam suatu pernikahan resmi.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Lihat selangkapnya dalam Az-Zawaj Al-’Urfi hlm. 85-89 oleh DR. Ahmad bin Yusuf Ad-Daryuwisy]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sejarah Pencatatan Akad Nikah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin pada zaman dahulu mencukupkan diri untuk melangsungkan nikah dengan lafadz dan saksi, tanpa memandang perlu untuk dicatat dalam catatan resmi. Namun, dengan berkembangnya kehidupan dan berubahnya keadaan, di mana dimungkinkan para saksi untuk lupa, lalai, meninggal dunia dan sebagainya, maka diperlukan adanya pencatatan akad nikah secara tertulis.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Majalah Al-Buhuts Al-Fiqhiyyah edisi 36, hlm.194]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal pencatatan akad nikah adalah ketika kaum muslimin mulai mengakhirkan mahar atau sebagian mahar, lalu catatan pengakhiran mahar tersebut dijadikan sebagai bukti pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam mengatakan: “Para sahabat tidak menulis mahar karena mereka tidak mengakhirkannya, bahkan memberikannya secara langsung, seandainya di antara mereka ada yang mengakhirkan tetapi dengan cara yang baik. Tatkala manusia mengakhirkan mahar padahal waktunya lama dan terkadang lupa maka mereka menulis mahar yang diakhirkan tersebut, sehingga catatan itu merupakan bukti kuat tentang mahar dan bahwasanya wanita tersebut adalah istrinya”.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Majmu’ Fatawa 32/131]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Manfaat Pencatatan Akad Nikah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pencatatan akad nikah secara resmi memiliki beberapa manfaat yang banyak sekali, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Menjaga hak dari kesia-siaan, baik hak suami istri atau hak anak berupa nasab, nafkah, warisan dan sebagainya. Catatan resmi ini merupakan bukti otentik yang tidak bisa digugat untuk mendapatkan hak tersebut.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Menyelesaikan persengkatan antara suami istri atau para walinya ketika mereka bersengketa dan berselisih, karena bisa jadi salah satu di antara mereka akan mengingkari suatu hak untuk kepentingan pribadi dan pihak lainnya tidak memiliki bukti karena saksi telah tiada. Maka dengan adanya catatan ini, hal itu tidak bisa diingkari.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. Catatan dan tulisan akan bertahan lama jangka waktunya, sehingga sekalipun yang bertanda tangan telah meninggal dunia namun catatan masih bisa digunakan setiap waktu. Oleh karena itu, para ulama menjadikan tulisan merupakan salah satu cara penentuan hukum.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4. Catatan nikah akan menjaga suatu pernikahan dari pernikahan yang tidak sah, karena akan diteliti terlebih dahulu beberapa syarat dan rukun pernikahan serta penghalang-penghalangnya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 5. Menutup pintu pengakuan-pengakuan dusta dalam pengadilan, di mana bisa saja sebagian orang yang hatinya rusak mengaku telah menikahi seorang wanita secara dusta untuk menjatuhkan lawannya dan mencemarkan kehormatannya hanya karena mudahnya suatu pernikahan dengan saksi palsu.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Lihat Az-Zawaj Al-’Urfi hlm. 74-75 oleh DR. Yusuf bin Ahmad Ad-Daryuwisy]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bila Undang-Undang Mewajibkan Pencatatan Akad Nikah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Melihat manfaat-manfaat pencatatan akad nikah di atas, maka hampir semua Negara sekarang membuat undang-undang agar pernikahan warganya dicatat oleh pegawai yang telah ditunjuk pemerintah. Undang-undang ini merupakan politik syar’i&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Ketahuilah bahwa politik yang syar’i adalah yang tidak bertentangan dengan syari’at, bukan hanya yang diperintahkan syari’at. Semua undang-undang yang membawa kepada keadilan dan kemaslahatan selagi tidak bertentangan dengan syari’at maka itulah politik syar’i. Lihat hal ini dalam I’lamul Muwaqqi’in 6/517 oleh Ibnul Qoyyim dan As-Siyasah Asy-Syar’iyyah Al-Lati Yuriduha Salafiyyun hlm. 14-16 oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Salman)] &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;yang ditetapkan oleh pemerintah karena memandang maslahat di baliknya yang sangat besar sekali yaitu untuk menjaga hak dan khawatir adanya pengingkaran.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[As-Siyasah Asy-Syar’iyyah fii Ahwal Asy-Syakhsyiyyah hlm. 43 oleh ‘Amr Abdul Fattah]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak boleh lupa bahwa agama Islam dibangun di atas maslahat dan menolak kerusakan. Seandainya saja undang-undang ini disepelehkan pada zaman sekarang niscaya akan terbuka lebar kerusakan dan bahaya yang sangat besar serta pertikaian yang berkepanjangan, tentu saja hal itu sangat tidak sesuai dengan syari’at kita yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apabila pemerintah memandang adanya undang-undang keharusan tercatatnya akad pernikahan, maka itu adalah undang-undang yang sah dan wajib bagi rakyat untuk mematuhinya dan tidak melanggarnya. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. (QS. An-Nisa’: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mawardi berkata: “Allah mewajibkan kepada kita untuk mentaati para pemimpin kita”.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Al-Ahkam As-Sulthoniyah hlm. 30]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi dalil-dalil lainnya yang mewajibkan kepada kita untuk taat kepada pemimpin selama perintah tersebut bukan suatu yang maksiat.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Lihat buku yang sangat bagus tentang masalah ini “Mu’amalatul Hukkam” oleh Syaikh Abdus Salam Barjas]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kaidah fiqih yang populer dikatakan:&lt;br /&gt;Ketetapan pemerintah pada rakyat tergantung kepada maslahat (kebaikan).&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Lihat Al-Asybah wa Nadhoir oleh Ibnu Nujaim hlm. 123, Al-Asybah wa Nadhoir oleh As-Suyuthi hlm. 121, Al-Mantsur fil Qowa’id Al-Fiqhiyyah oleh Az-Zarkasyi 1/309]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, masalahat apa yang lebih besar daripada menjaga kehormatan dan nasab manusia?!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: Perintah pemerintah terbagi menjadi tiga macam:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Perintah yang sesuai dengan perintah Allah seperti sholat fardhu, maka wajib mentaatinya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Perintah yang maksiat kepada Allah seperti cukur jenggot, maka tidak boleh mentaatinya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. Perintah yang bukan perintah Allah dan bukan juga maksiat kepada Allah seperti undang-undang lalu lintas, undang-undang pernikahan dan sebagainya yang tidak bertentangan dengan syari’at, maka majib ditaati juga, bila tidak mentaatinya maka dia berdosa dan berhak mendapatkan hukuman setimpal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun anggapan bahwa tidak ada ketaatan kepada pemimpin kecuali apabila sesuai dengan perintah Allah saja, sedangkan peraturan-peraturan yang tidak ada dalam perintah syari’at maka tidak wajib mentaatinya, maka ini adalah pemikiran yang bathil dan bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Lihat Syarh Riyadhus Sholihin 3/652-656]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apakah Pencatatan Akad Merupakan Syarat Sahnya Nikah?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Betapapun pentingnya pencatatan akad nikah pada zaman sekarang yang penuh dengan fitnah dan pertikaian. Sekalipun demikian, pencatatan akad nikah dalam catatan resmi KUA bukanlah sebuah syarat sahnya sebuah pernikahan. Artinya, suatu pernikahan tetap hukumnya sah apabila telah terpenuhi semua syaratnya sekalipun tidak tercatat dalam KUA.&amp;nbsp; Hal ini berdasarkan argumen sebagai berikut:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Tujuan pencatatan akad nikah adalah menjaga hak suami istri, dan nasab anak apabila terjadi persengketaan. Tujuan ini sudah bisa terwujudkan dengan adanya saksi dan mengumumkan pernikahan.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Tidak ada dalil syar’i untuk mengatakan bahwa pencatatan akad nikah adalah syarat sahnya pernikahan.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. Pencatatan akad nikah tidak dikenal pada zaman Nabi, sahabat dan ulama salaf, mereka hanya mencukupkan dengan saksi dan mengumumkan pernikahan.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4. Dalam persyaratan ini terkadang sulit realisasinya dalam sebagian tempat dan keadaan, seperti di pelosok-pelosok desa yang sulit mendapatkan pegawai resmi pencatatan akad nikah.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Az-Zawaj Al-Urfi hlm. 68-71 oleh Al-Ustadz DR. Ahmad bin Yusuf]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Hukum Nikah Tanpa KUA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Karena masalah pencatatan akad nikah ini termasuk masalah kontemporer, maka tak heran biasanya para ulama berbeda pandang tentang hukumnya. Silang pendapat mereka dapat kita bagi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Sebagian ulama berpendapat bahwa nikah tanpa KUA hukumnya boleh dan sah secara mutlak, karena pencatatan bukanlah termasuk syarat nikah dan tidak ada pada zaman Nabi dan sahabat.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Sebagian ulama berpendapat bahwa nikah tanpa KUA hukumnya haram dan tidak boleh pada zaman sekarang, karena itu termasuk nikah sirri yang terlarang dan melanggar peraturan pemerintah.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. Sebagian ulama berpendapat bahwa nikah tanpa KUA hukumnya sah karena semua syarat nikah telah terpenuhi hanya saja dia berdosa karena melanggar peraturan pemerintah yang bukan maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menimbang ketiga pendapat di atas, penulis lebih cenderung kepada pendapat ketiga yang mengatakan bahwa pernikahan tanpa KUA hukumnya adalah sah sebab pencatatan akad nikah bukanlah syarat sahnya nikah sebagaimana telah lalu. Hanya saja, bila memang suatu pemerintah telah membuat suatu undang-undang keharusan pencatatan akad nikah, maka wajib bagi kita untuk mentaatinya dan tidak melanggarnya karena hal itu bukanlah undang-undang yang maksiat atau bertentangan dengan syari’at bahkan undang-undang tersebut dibuat untuk kemaslahatan yang banyak. Apalagi, hal itu bukanlah suatu hal yang sulit, bahkan betapa banyak penyesalan terjadi akibat pernikahan yang tak tercatat di bagian resmi pemerintah&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Lihat beberapa kejadian dan penyesalan tersebut dalam Mustajaddat Fiqhiyyah fii Qodhoya Zawaj wa Tholaq oleh Usamah Al-Asyqor hlm. 152-156]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini sebuah fatwa tentang masalah ini dari anggota komisi fatwa Saudi Arabia yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, anggota Syaikh Abdur Rozzaq Afifi, Abdullah Al-Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Soal:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam undang-undang Negara, seorang muslim dan muslimah yang ingin menikah dituntut untuk datang ke kantor pencatatan akad nikah, sehingga keduanya-pun datang ke kantor bersama para saksi dan melangsungkan akad nikah di sana. Apakah ini merupakan nikah yang syar’i? Bila jawabannya adalah tidak, maka apakah muslim dan muslimah harus mendaftar dan mencatat sebelum akad nikah sesuai dengan undang-undang? perlu diketahui bahwa pencatatan ini berfaedah bagi suami istri ketika terjadi sengketa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawab:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apabila telah terjadi akad ijab qobul dengan terpenuhinya semua syarat nikah dan tidak ada semua penghalangnya maka pernikahan hukumnya adalah sah. Dan apabila secara undang-undang, pencatatan akad nikah membawa masalahat bagi kedua mempelai baik untuk masa sekarang maupun masa depan maka hal itu wajib dipatuhi.&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Fatawa Lajnah Daimah 18/87 no. 7910. Demikian juga para anggota komisi fatwa sekarang seperti Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa’ad Asy-Sasyri dan lain-lain, penulis pernah menanyakan kepada mereka tentang masalah ini, dan jawaban mereka seperti kesimpulan kami. Wallahu A’lam. Kami sampaikan hal ini karena beberapa ikhwan yang komplain dahulu meminta kepada kami fatwa ulama kita tentang masalah ini. Semoga dengan keterangan ini, kita bisa lebih menerima dengan lapang dada. Amiin]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dari keterangan di atas, dapat kita tarik sebuah kesimpulan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Nikah tanpa pencatatan secara resmi oleh pegawai pemerintah hukumnya adalah sah selagi semua persyaratan nikah telah terpenuhi.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Pencatatan nikah memang tidak ada pada zaman Nabi dan para sahabat, namun itu hanyalah politik syar’i yang tidak bertentangan dengan agama, bahkan memiliki banyak manfaat.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. Wajib bagi setiap muslim untuk mentaati undang-undang tersebut dan tidak melanggarnya karena ini termasuk salah satu bentuk ketaatan kepada pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah pembahasan yang dapat kami ketengahkan pada kesempatan kali ini. Sekali lagi, hati kami terbuka untuk menerima tanggapan dan kritikan dari saudara pembaca semua demi kebaikan kita bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Referensi&lt;br /&gt;1. Mustajaddat Fiqhiyyah fii Qodhoya Zawaj wa Tholaq karya Usamah Umar Sulaiman Al-Asyqor, Dar Nafais, Yordania, cet kedua 1425 H.&lt;br /&gt;2. Az-Zawaj Al-’Urfi karya DR. Ahmad bin Yusuf Ad-Daryuwisy, Darul Ashimah, KSA, cet pertama 1426 H.&lt;br /&gt;3. Dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://abiubaidah.com/"&gt;Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: white;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-213387967316812977?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/213387967316812977/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/nikah-tanpa-kua-bermasalahkah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/213387967316812977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/213387967316812977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/nikah-tanpa-kua-bermasalahkah.html' title='Nikah Tanpa “KUA” Bermasalahkah?'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-1361219094560073571</id><published>2009-12-04T07:42:00.001+07:00</published><updated>2009-12-04T08:51:42.774+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><title type='text'>Nikahilah Wanita karena Agamanya</title><content type='html'>Yahya bin Yahya an Naisaburi mengatakan bahwa beliau berada di dekat Sufyan bin Uyainah ketika ada seorang yang menemui Ibnu Uyainah lantas berkata, “Wahai Abu Muhammad, aku datang ke sini dengan tujuan mengadukan fulanah -yaitu istrinya sendiri-. Aku adalah orang yang hina di hadapannya”.&lt;span id="more-657"&gt;&lt;/span&gt; Beberapa saat lamanya, Ibnu Uyainah menundukkan kepalanya. Ketika beliau telah menegakkan kepalanya, beliau berkata, “&lt;i&gt;Mungkin, dulu engkau menikahinya karena ingin meningkatkan martabat dan kehormatan?”&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;“Benar, wahai Abu Muhammad”&lt;/i&gt;, tegas orang tersebut. Ibnu Uyainah berkata, “&lt;i&gt;Siapa yang menikah karena menginginkan kehormatan maka dia akan hina. Siapa yang menikah karena cari harta maka dia akan menjadi miskin. Namun siapa yang menikah karena agamanya maka akan Allah kumpulkan untuknya harta dan kehormatan di samping agama&lt;/i&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Kemudian beliau mulai bercerita, “Kami adalah empat laki-laki bersaudara, Muhammad, Imron, Ibrahim dan aku sendiri. Muhammad adalah kakak yang paling sulung sedangkan Imron adalah bungsu. Sedangkan aku adalah tengah-tengah. Ketika Muhammad hendak menikah, dia berorientasi pada kehormatan. Dia menikah dengan perempuan yang memiliki status sosial yang lebih tinggi dari pada dirinya. Pada akhirnya dia jadi orang yang hina. Sedangkan Imron ketika menikah berorientasi pada harta. Karenanya dia menikah dengan perempuan yang hartanya lebih banyak dibandingkan dirinya. Ternyata, pada akhirnya dia menjadi orang miskin. Keluarga istrinya merebut semua harta yang dia miliki tanpa menyisakan untuknya sedikitpun. Maka aku penasaran, ingin menyelidiki sebab terjadinya dua hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak disangka suatu hari Ma’mar bin Rasyid datang. Kau lantas bermusyawarah dengannya. Kuceritakan kepadanya kasus yang dialami oleh kedua saudaraku. Ma’mar lantas menyampaikan hadits dari Yahya bin Ja’dah dan hadits Aisyah. Hadits dari Yahya bin ja’dah adalah sabda Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, “&lt;i&gt;Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi&lt;/i&gt;” (HR Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan hadits dari Aisyah adalah sabda Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, “Perempuan yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan biaya pernikahannya” (HR Ahmad no 25162, menurut Syeikh Syu’aib al Arnauth, sanadnya lemah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu kuputuskan untuk menikah karena faktor agama dan agar beban lebih ringan karena ingin mengikuti sunnah Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;. Di luar dugaan Allah kumpulkan untukku kehormatan dan harta di samping agama. (Tahdzib al Kamal 11/194-195, Maktabah Syamilah).&lt;br /&gt;Demikianlah nasehat dan petuah salah seorang ulama besar di zamannya, Sufyan bin Uyainah bin Maimun Abi Imran. Beliau lahir pada pertengahan Sya’ban tahun 107 H dan meninggal dunia pada hari sabtu tanggal 1 Rajab tahun 198 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam nasehat beliau di atas bagaimanakah wujud nyata dari menerapkan sabda Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, “&lt;i&gt;Pilihlah yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi&lt;/i&gt;”. Namun banyak orang yang bangga dengan pendapatnya. Kebahagiannya menurutnya adalah memiliki istri cantik, memiliki kelas sosial yang bergengsi atau mendapatkan istri yang kaya meski agama perempuan tersebut nol besar. Tentang hadits di atas al Amir ash Shan’ani mengatakan, “Hadits ini menceritakan bahwa faktor yang mendorong laki-laki untuk menikah adalah salah satu dari empat hal ini. Faktor terakhir menurut para laki-laki adalah agama. Namun Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/i&gt;malah memerintahkan para laki-laki jika sudah mendapatkan perempuan yang agamanya baik supaya tidak memalingkan hati kepada yang lainnya. Bahkan terdapat larangan menikahi perempuan bukan karena motivasi agama. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, al Bazzar dan Baihaqi dari Abdullah bin Amr, Nabi bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Janganlah kalian menikahi perempuan karena cantiknya. Boleh jadi kecantikan tersebut akan membinasakannya. Jangan pula karena hartanya karena harta boleh jadi akan menyebabkannya melampaui batas. Menikahlah karena agama. Sungguh budak hitam yang cacat namun baik agamannya itu yang lebih baik&lt;/i&gt;” (Namun hadits ini dinilai sebagai hadits yang sangat lemah oleh al Albani dalam kajian beliau untuk Ibnu Majah no 1859-pent)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas juga menunjukkan bahwa dekat-dekat dengan orang yang baik agamanya itulah yang terbaik dalam semua kondisi. Dengan dekat-dekat dengan mereka kita bisa mengambil manfaat dari akhlak, berkah dan tingkah-laku mereka. Terlebih lagi adalah istri karena istri adalah kawan tidur, ibu untuk anak-anak dan orang yang diberi amanah untuk menjaga harta dan rumah suami serta kehormatannya. Yang dimaksud dengan ‘&lt;i&gt;taribat yadak&lt;/i&gt;’ adalah tangan dilekatkan ke tanah karena miskin”(Subulus Salam 4/431-432).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://ustadzaris.com/"&gt;Ustadz Aris Munandar&amp;nbsp; &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-1361219094560073571?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/1361219094560073571/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/nikahilah-wanita-karena-agamanya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/1361219094560073571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/1361219094560073571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/nikahilah-wanita-karena-agamanya.html' title='Nikahilah Wanita karena Agamanya'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-7495705458483286214</id><published>2009-12-03T10:31:00.004+07:00</published><updated>2009-12-03T10:59:10.237+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Audio'/><title type='text'>Kajian Istri Shalihah Anugrah Terindah</title><content type='html'>Tema : Istri Shalihah AnugrahTerindah&lt;br /&gt;Pembicara : Ustadz Abu Haidar &lt;br /&gt;&lt;a href="http://ia331436.us.archive.org/2/items/IstriSholihahAnugerahTerindah/IstriShalihahAnugrahTerindah.mp3"&gt;IstriShalihahAnugrahTerindah&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-7495705458483286214?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/7495705458483286214/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/kajian-istri-shalihah-anugrahterindah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/7495705458483286214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/7495705458483286214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/kajian-istri-shalihah-anugrahterindah.html' title='Kajian Istri Shalihah Anugrah Terindah'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-7199337039239837488</id><published>2009-12-03T10:27:00.001+07:00</published><updated>2009-12-04T08:51:42.777+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga Sakinah'/><title type='text'>Hak Isteri Yang Harus Dipenuhi Suami (4)</title><content type='html'>&lt;b&gt;[6]. Mengajarkan Ilmu Agama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di antara hak seorang isteri yang harus dipenuhi suaminya adalah memberikan pendidikan dan pengajaran dalam perkara agama. Dengan memahami dan mengamalkan agamanya, seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ‘Azza wa Jalla berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At-Tahrim : 6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Menjaga keluarga dari api Neraka mengandung maksud menasihati mereka agar taat, bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan mentauhidkan-Nya serta menjauhkan syirik, mengajarkan kepada mereka tentang syari’at Islam, dan tentang adab-adabnya. Para Shahabat dan mufassirin menjelaskan tentang tafsir ayat tersebut sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Ajarkanlah agama kepada keluarga kalian, dan ajarkan pula adab-adab Islam.”&lt;br /&gt;2. Qatadah rahimahullaah berkata, “Suruh keluarga kalian untuk taat kepada Allah! Cegah mereka dari berbuat maksiyat! Hendaknya mereka melaksanakan perintah Allah dan bantulah mereka! Apabila kalian melihat mereka berbuat maksiyat, maka cegah dan laranglah mereka!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullaah berkata: “Ajarkan keluarga kalian untuk taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang (hal itu) dapat menyelamatkan diri mereka dari api Neraka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Imam asy-Syaukani mengutip perkataan Ibnu Jarir: “Wajib atas kita untuk mengajarkan anak-anak kita Dienul Islam (agama Islam), serta mengajarkan kebaikan dan adab-adab Islam.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Lihat Tafsiir ath-Thabari (XII/156-157) cet. Darul Kutub Ilmiyah, Tafsiir Ibnu Katsir (IV/412-413) cet. Maktabah Darus Salam dan Tafsiir Fat-hul Qadiir (V/253) cet. Darul Fikr]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah, kewajiban seorang suami untuk membekali dirinya dengan thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu syar’i) dengan menghadiri majelis-majelis ilmu yang mengajarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih -generasi yang terbaik, yang mendapat jaminan dari Allah-, sehingga dengan bekal tersebut dia mampu mengajarkannya kepada isteri dan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia tidak sanggup untuk mengajarkannya, hendaklah seorang suami mengajak isteri dan anaknya untuk bersama-sama hadir di dalam majelis ilmu yang mengajarkan Islam berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih, mendengarkan apa yang disampaikan, memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan hadirnya suami-isteri di majelis ilmu akan menjadikan mereka sekeluarga dapat memahami Islam dengan benar, beribadah dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah ‘Azza wa Jalla semata serta senantiasa meneladani Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Insya Allah, hal ini akan memberikan manfaat dan berkah yang sangat banyak karena suami maupun isteri saling memahami hak dan kewajibannya sebagai hamba Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan yang serba materialistis seperti sekarang ini, banyak suami yang melalaikan diri dan keluarganya. Berdalih mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, dia mengabaikan kewajiban yang lainnya. Seolah-olah dia merasa bahwa kewajibannya cukup hanya dengan memberikan nafkah berupa harta, kemudian nafkah batinnya, sedangkan pendidikan agama yang merupakan hal paling pokok justru tidak pernah dipedulikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali sang suami jarang berkumpul dengan keluarganya untuk menunaikan ibadah bersama-sama. Sang suami pergi ke kantor pada pagi hari ba’da Shubuh dan kembali ke rumahnya larut malam. Pola hidup seperti ini adalah pola hidup yang tidak baik. Tidak pernah atau jarang sekali ia membaca Al-Qur’an, kurang sekali memperhatikan isteri dan anaknya shalat, dan tidak memperhatikan pendidikan agama mereka sehari-hari. Bahkan pendidikan anaknya dia percayakan sepenuhnya kepada pendidikan di sekolah, dan bangga dengan sekolah-sekolah yang memungut biaya sangat mahal karena alasan harga diri. Ia merasa bahwa tugasnya sebagai orang tua telah ia tunaikan seluruhnya. Lantas bagaimana kita dapat mewujudkan anak yang shalih, sedangkan kita tahu bahwa salah satu kewajiban yang mulia seorang kepala rumah tangga adalah mendidik keluarganya. Sementara tidak bisa kita pungkiri juga bahwa pengaruh negatif dari lingkungan yang cukup kuat berupa media cetak dan elektronik seperti koran, majalah, tabloid, televisi, radio, VCD, serta peralatan hiburan lainnya sangat mudah mencemari pikiran dan perilaku sang anak. Bahkan media ini bisa menjadi orang tua ketiga, maka kita harus mewaspadai media-media yang ada dan alat-alat permainan yang sangat berpengaruh buruk terhadap perilaku anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kewajiban seorang suami harus memperhatikan pendidikan isteri dan anaknya, baik tentang Tauhid, shalat, bacaan Al-Qur’annya, pakaiannya, pergaulannya, serta bentuk-bentuk ibadah dan akhlak yang lainnya. Karena Islam telah mengajarkan semua sisi kehidupan, kewajiban kita untuk mempelajari dan mengamalkannya sesuai Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula kewajiban seorang isteri adalah membantu suaminya mendidik anak-anak di rumah dengan baik. Seorang isteri diperintahkan untuk tetap tinggal di rumah mengurus rumah dan anak-anak, serta menjauhkan diri dan keluarga dari hal-hal yang bertentangan dengan syari’at Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;[7]. Menasihati Isteri Dengan Cara Yang Baik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan agar berbuat baik kepada kaum wanita, berlaku lemah lembut dan sabar atas segala kekurangannya, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia &lt;br /&gt;menyakiti tetangganya. Berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berwasiat-lah kepada wanita dengan kebaikan.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5185-5186) dan Muslim (no. 1468 (62)), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;[8]. Mengizinkannya Keluar Untuk Kebutuhan Yang Mendesak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di antara hak isteri adalah suami mengizinkannya keluar untuk suatu kebutuhan yang mendesak, seperti pergi ke warung, pasar dan lainnya untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Berdasarkan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya Allah telah mengizinkan kalian (para wanita) keluar (rumah) untuk keperluan (hajat) kalian.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5237), dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, keluarnya mereka harus dengan beberapa syarat, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memakai hijab syar’i yang dapat menutupi seluruh tubuh.&lt;br /&gt;2. Tidak ikhtilath (berbaur) dengan kaum laki-laki.&lt;br /&gt;3. Tidak memakai wangi-wangian (parfum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang suami pun dibolehkan untuk mengizinkan isterinya untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid apabila ketiga syarat di atas terpenuhi.&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Apabila isteri salah seorang dari kalian meminta izin untuk pergi ke masjid, janganlah ia menghalanginya.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5238), Muslim (no. 442 (134)), at-Tirmidzi (no. 570), an-Nasa-i (II/42) dan Ibnu Majah (no. 16), dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Janganlah kalian melarang para wanita hamba Allah mendatangi masjid-masjid Allah.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 900), Muslim (no. 442 (136)), at-Tirmidzi (no. 570) dan an-Nasa-i (II/42), dari Shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-7199337039239837488?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/7199337039239837488/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/hak-isteri-yang-harus-dipenuhi-suami-4.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/7199337039239837488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/7199337039239837488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/hak-isteri-yang-harus-dipenuhi-suami-4.html' title='Hak Isteri Yang Harus Dipenuhi Suami (4)'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-7712866543303837309</id><published>2009-12-03T10:16:00.001+07:00</published><updated>2009-12-04T08:51:42.782+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga Sakinah'/><title type='text'>Hak Isteri Yang Harus Dipenuhi Suami (3)</title><content type='html'>&lt;b&gt;[3]. Jangan Engkau Memukul Wajahnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di antara hak yang harus dipenuhi seorang suami kepada isterinya ialah tidak memukul wajah isterinya, meski terjadi perselisihan yang sangat dahsyat, misalnya karena si isteri telah berbuat durhaka kepada suaminya. Memukul wajah sang isteri adalah haram hukumnya. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suami-nya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Nusyuz, yaitu meninggalkan kewajibannya selaku isteri, seperti meninggalkan rumah tanpa seizin suaminya, dan lainnya]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.” [An-Nisaa' : 34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Dalam ayat ini, Allah membolehkan seorang suami memukul isterinya. Akan tetapi ada hal yang perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh tentang bolehnya memukul adalah harus terpenuhinya kaidah-kaidah sebagai berikut, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Setelah dinasihati, dipisahkan tempat tidurnya, namun tetap tidak mau kembali kepada syari’at Islam.&lt;br /&gt;2. Tidak diperbolehkan memukul wajahnya.&lt;br /&gt;3. Tidak boleh memukul dengan pukulan yang menimbulkan bekas atau membahayakan isterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukulannya pun pukulan yang tidak melukai, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1218 (147)), dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ada sebagian Shahabat yang memukul isterinya, kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Namun ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu mengadukan atas bertambah beraninya wanita-wanita yang nusyuz (durhaka kepada suaminya), sehingga Rasul memberikan rukhshah untuk memukul mereka. Para wanita berkumpul dan mengeluh dengan hal ini, kemudian Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya mereka itu (yang suka memukul isterinya) bukan orang yang baik di antara kamu.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2146), Ibnu Majah (no. 1985), Ibnu Hibban (no. 1316 -al-Mawaarid) dan al-Hakim (II/188), dari Sahabat Iyas bin ‘Abdillah bin Abi Dzubab radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Abdullah bin Jam’ah bahwasanya ia telah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Bagaimana mungkin seseorang di antara kalian sengaja mencambuk isterinya sebagaimana ia mencambuk budaknya, lalu ia menyetubuhinya di sore harinya?”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 4942), Muslim (no. 2855) dan at-Tirmidzi (no. 2401)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan tentang laki-laki yang baik, yaitu yang baik kepada isteri-isterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada isterinya dan aku adalah yang paling baik kepada isteriku”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thahawi dalam al-Musykilul Atsar (VI/343, no. 2523), Ibnu Majah (no. 1977), dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma. Hadits ini diriwayatkan pula oleh &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Ibnu Hibban (no. 1312 -al-Mawaarid) dan at-Tirmidzi (no. 3895), dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada isterinya.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih lighairihi: Diriwayatkan oleh Ahmad (II/250 dan 472), at-Tirmidzi (no. 1162) dan Ibnu Hibban (no. 1311 -al-Mawaarid), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 284)]&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;[4]. JanganlahSekali-kali Engkau Menjelakkan Isteri&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Contoh ucapan yang dimaksud adalah “Semoga Allah menjelekkanmu” atau “Kamu dari keturunan yang jelek” atau yang lainnya yang menyakitkan hati sang isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang suami telah memilih isterinya sebagai pendamping hidupnya, maka kewajiban dia untuk mendidik isterinya dengan baik. Setiap manusia tidak ada yang sempurna, sehingga adanya kekurangan dalam kehidupan berumah tangga merupakan sesuatu yang wajar saja terjadi dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang isteri memiliki kekurangan dalam satu sisi, dan suami pun memiliki kekurangan dari sisi yang lain. Tidak selayaknya melimpahkan tumpuan kesalahan tersebut seluruhnya kepada sang isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Tidak boleh seorang mukmin menjelekkan seorang mukminah. Jika ia membenci satu akhlak darinya maka ia ridha darinya (dari sisi) yang lain.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1469), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu]&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Seorang suami, sebagai kepala rumah tangga berkewajiban untuk membimbing dan mendidiknya dengan sabar sehingga dapat menjadi isteri yang shalihah dan dapat melayani suaminya dengan penuh keridhaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk memanjatkan do’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas kebaikan tabiat isterinya dengan memegang ubun-ubunnya seusai ‘aqad nikah sambil membaca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang dibawanya.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2160), Ibnu Majah (no. 1918), al-Hakim (II/185), al-Baihaqi (VII/148), dan al-Hakim menshahihkannya, dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Aadabuz Zifaaf (hal. 92-93)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila isteri Anda salah, keliru atau melawan Anda, maka nasihatilah dengan cara yang baik, tidak boleh menjelek-jelekkannya, dan do’akanlah agar Allah memperbaikinya dan menjadikannya isteri yang shalihah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;[5]. Tidak Boleh Engkau Memisahkannya, Kecuali Di Dalam Rumah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang suami dalam keadaan marah kepada isterinya atau terjadi ketidakharmonisan di antara keduanya, maka seorang suami tidak berhak untuk mengusir sang isteri dari rumahnya. Islam menganjurkan untuk meninggalkan mereka di dalam rumah, di tempat tidurnya dengan tujuan untuk mendidiknya. Sang suami harus tetap bergaul dengan baik terhadap isterinya, seperti yang termaktub di dalam kitab suci Al-Qur-an yang mulia, Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah (diizinkan) keluar kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas.” [Ath-Thalaq : 1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga firman-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : … Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak pada-nya.” [An-Nisaa' : 19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan adalah ikatan yang kokoh "miitsaqon gholiidhoo", tidak selayaknya hanya karena masalah yang kecil dan sepele kemudian tercerai-berai. Bahkan dalam masalah-masalah yang sangat besar pun, kita diperintahkan untuk bersabar menghadapinya, serta saling menasihati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan menjadi sangat sulit bagi orang tua (suami dan isteri) untuk membimbing dan mendidik keturunannya agar menjadi anak yang shalih, manakala sang suami berpisah dengan isterinya. Sedangkan anak yang shalih merupakan salah satu aset yang sangat berharga, baik untuk kehidupan kedua orang tuanya di dunia terlebih di akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kata-kata yang mengandung perceraian (thalaq) harus dijauhkan dengan sejauh-jauhnya meskipun sang suami dalam keadaan marah yang sangat, baik diutarakan dengan sungguh-sungguh maupun sekedar berkelakar. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang kalimat thalaq ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Tiga hal yang apabila diucapkan akan sungguh-sungguh terjadi, main-mainnya (pun) terjadi, yaitu nikah, thalaq, dan ruju’.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2194), at-Tirmidzi (no. 1184), Ibnu Majah (no. 2039), al-Hakim (II/198) dan Ibnul Jarud (no. 712) dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 1826)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang ketika dalam keadaan marah, cenderung untuk mengeluarkan kata-kata yang kotor, perkataan yang jelek, dusta, mencaci maki, mengungkit-ungkit kejelekan lawan bicara, menyanjung-nyanjung dirinya dan mengeluarkan kalimat yang mengandung kekufuran atau yang lainnya. Untuk itulah, ketika kita dalam keadaan marah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk mengucapkan perkataan yang baik, atau kalau tidak mampu maka dianjurkan untuk diam, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Apabila seseorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih lighairihi: Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 245 dan 1320), Ahmad (I/239, 283, 365), dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1375)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-7712866543303837309?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/7712866543303837309/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/hak-isteri-yang-harus-dipenuhi-suami-3.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/7712866543303837309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/7712866543303837309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/hak-isteri-yang-harus-dipenuhi-suami-3.html' title='Hak Isteri Yang Harus Dipenuhi Suami (3)'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-6971853016334262250</id><published>2009-12-02T10:06:00.001+07:00</published><updated>2009-12-04T08:51:42.785+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga Sakinah'/><title type='text'>Hak Isteri Yang Harus Dipenuhi Suami  (2)</title><content type='html'>&lt;b&gt;[2]. Engkau Memberinya Pakaian Apabila Engkau Berpakaian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seorang suami haruslah memberikan pakaian kepada isterinya sebagaimana ia berpakaian. Apabila ia menutup aurat, maka isterinya pun harus menutup aurat. Hal ini menunjukkan kewajiban setiap suami maupun isteri untuk menutup aurat. Bagi laki-laki batas auratnya adalah dari pusar hingga ke lutut (termasuk paha). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Paha itu aurat.”&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2796, 2797) dari Ibnu ‘Abbas dan Jarhad al-Aslami radhiyallaahu ‘anhum. Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 4280)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sedangkan bagi wanita adalah seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangannya. Termasuk aurat bagi wanita adalah rambut dan betisnya. Jika auratnya sampai terlihat oleh selain mahramnya, maka ia telah berbuat dosa, termasuk dosa bagi suaminya karena telah melalaikan kewajiban ini. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Ada dua golongan penghuni Neraka, yang belum pernah aku lihat keduanya, yaitu suatu kaum yang memegang cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, ia berjalan berlenggak-lenggok dan kepalanya dicondongkan seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium aroma Surga, padahal sesungguhnya aroma Surga itu tercium sejauh perjalanan begini dan begini.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2128), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;• Beberapa syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam berpakaian (busana) muslimah yang sesuai dengan syari’at Islam&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Untuk lebih jelasnya, silakan membaca kitab Jilbab al-Mar-atil Muslimah (Jilbab Wanita Muslimah) yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah dan kutaib an-Nisaa' wal Mauzhah wal Aziyaa' oleh Khalid bin ‘Abdurrahman asy-Syayi’ cet. Darul Wathan Riyadh, diterjemahkan dengan judul “Bahaya Mode”]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;b&gt;• Menutupi Seluruh Tubuh, Kecuali Wajah Dan Kedua Telapak Tangan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Wahai Nabi! Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [Al-Ahzaab : 59]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Asma’ binti Abi Bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Wahai Asma', sesungguhnya apabila seorang wanita telah haidh (sudah baligh), maka tidak boleh terlihat darinya kecuali ini dan ini.”&lt;br /&gt;Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam berisyarat ke wajah dan kedua telapak tangan beliau.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4104), dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha. Lihat takhrij lengkap hadits ini dalam kitab ar-Raddul Mufhim (Hal. 79-102) oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah. Beliau menghasankan hadits ini dengan takhrij ilmiah menurut kaidah ulama ahli hadits]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bukan Berfungsi Sebagai Perhiasan&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat.” [An-Nuur : 31]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Ada tiga golongan, jangan engkau tanya tentang mereka (karena mereka termasuk orang-orang yang binasa):... dan seorang wanita yang ditinggal pergi suaminya, padahal suaminya telah mencukupi keperluan duniawinya, namun setelah itu ia ber-tabarruj...”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Hakim (I/119) dan Ahmad (VI/19), dari Shahabat Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3058)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;• Kainnya Harus Tebal, Tidak Boleh Tipis (Transparan)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita dilarang memakai pakaian yang ketat atau tipis sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Pada akhir ummatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun (hakikatnya) mereka telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat punuk unta. Laknatlah mereka karena sebenarnya mereka itu wanita yang terlaknat.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jamush Shaghiir (I/127-128) dari hadits Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;• Harus Longgar Dan Tidak Ketat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Usamah bin Zaid berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberiku baju Qubthiyah yang tebal (biasanya baju tersebut tipis-pen) yang merupakan baju yang dihadiahkan oleh Dihyah al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan kepada isteriku. Nabi bertanya, ‘Mengapa engkau tidak mengenakan baju Qubthiyah?’ Aku menjawab, ‘Aku pakaikan baju itu pada isteriku.’ Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam, karena aku khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tubuhnya.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Diriwayatkan oleh adh-Dhiya' al-Maqdisi dalam kitab al-Hadits al-Mukhtarah (I/441)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;• Tidak Memakai Wangi-Wangian (Parfum)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Larangan mempergunakan parfum bagi wanita ini begitu keras, bahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarangnya meskipun untuk pergi ke masjid. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Siapa pun wanita yang memakai wangi-wangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar tercium baunya, maka ia (seperti) pelacur.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/414, 418), an-Nasa’i (VIII/153), Abu Dawud (no. 4173) dan at-Tirmidzi (no. 2786), dari Abu Musa radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan jika isteri menggunakannya di hadapan suaminya, di dalam rumahnya, maka hal ini dibolehkan —bahkan— dianjurkan berhias untuk suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;• Tidak Menyerupai Pakaian Laki-Laki&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4098), Ibnu Majah (no. 1903), al-Hakim (IV/194) dan Ahmad (II/325), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Jilbaab al-Mar-atil Muslimah (hal. 141) oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;• Tidak Menyerupai Pakaian Wanita-Wanita Kafir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebab dalam syari’at Islam telah ditetapkan bahwa kaum muslimin—muslim dan muslimah—tidak boleh bertasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, baik dalam ibadah, ikut merayakan hari raya, dan berpakaian dengan pakaian khas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Barangsiapa menyerupai suatu kaum, ia termasuk golongan mereka.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4031), Ahmad (II/50, 92), dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 6149) dan Jilbaab al-Mar-atil Muslimah (hal. 203-204) ]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;• Bukan Pakaian Syuhrah (Pakaian Untuk Mencari Popularitas)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Barangsiapa yang mengenakan pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya di hari Kiamat lalu membakarnya dengan api Neraka.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4029) dan Ibnu Majah (no. 3607), dari Shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Jilbaab al-Mar-atil Muslimah (hal. 213)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian syuhrah adalah pakaian yang dipakai untuk meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal, yang dipakai oleh seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah, yang dipakai oleh seseorang untuk menampakkan kezuhudan dan bertujuan untuk riya’.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Jilbab al-Mar’atil Muslimah (hal. 213)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;• Diutamakan Berwarna Gelap (Hitam, Coklat, dll)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mengenai dianjurkannya pakaian berwarna gelap bagi muslimah adalah berdasarkan contoh dari para Shahabiyah radhiyallaahu ‘anhunna. Mereka mengenakan pakaian berwarna gelap agar lebih bisa menghindarkan fitnah dari pakaian yang mereka kenakan. Sangat sempurna apabila jilbab yang dikenakan seorang wanita berkain tebal dan berwarna gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara hadits yang menyebutkan bahwa pakaian wanita pada zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berwarna gelap adalah hadits yang diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallaahu ‘anha, ia berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Tatkala ayat ini turun, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuhnya,’ maka wanita-wanita Anshar keluar rumah dalam keadaan seolah-olah di kepala mereka terdapat burung gagak karena pakaian (jilbab hitam) yang mereka kenakan.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4101)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh al-Albani rahimahullaah berkata, “Lafazh ‘ghirban’ adalah bentuk jamak dari ‘ghurab’ (burung gagak). Pakaian (jilbab) mereka diserupakan dengan burung gagak karena warnanya yang hitam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga mengatakan, “Hadits ini dibawakan juga dalam kitab ad-Durr (V/221) berdasarkan riwayat ‘Abdurrazzaq, ‘Abdullah bin Humaid, Abu Dawud, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih, dari hadits Ummu Salamah dengan lafazh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantaran pakaian (jilbab) hitam yang mereka kenakan.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Lihat Jilbab al-Mar-atil Muslimah (hal. 82-83). Sebagian ulama membolehkan seorang muslimah memakai pakaian selain warna hitam. Akan tetapi harus diingat bahwa warna selain hitam tersebut bukan sebagai perhiasan seperti yang dilakukan para muslimah sekarang ini. Dimana mereka mengenakan pakaian dengan warna dan model yang beraneka ragam sehingga menarik perhatian orang banyak]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;• Dilarang Memakai Pakaian Yang Terdapat Gambar Makhluk Yang Bernyawa. Larangan Ini Berlaku Untuk Laki-Laki Dan Perempuan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang suami malu dan risih dengan pakaian yang tidak menutup aurat -dengan celana pendek misalnya- untuk pergi ke kantor, maka hendaknya dia juga merasa risih ketika mengetahui bahwa isterinya pergi ke pasar, ke tempat umum atau keluar rumah dengan aurat terbuka. Sehingga orang-orang yang jahil dan berakhlak buruk turut melihat keindahan tubuh isteri yang dicintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang suami hendaknya memiliki rasa cemburu dalam masalah ini, karena kalau tidak, niscaya dia akan menjadi dayyuts (membiarkan kejelekan yang timbul dalam rumah tangganya), dan ini akan menjadi awal malapetaka yang dapat menghancurleburkan kehidupan rumah tangga yang telah dibangun dan dibinanya dengan susah payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang suami hendaknya menasihati isterinya dalam masalah pakaian ini sehingga isterinya tidak melanggar batas-batas yang telah ditetapkan syari’at dan menyempurnakannya dengan pakaian terbaik menurut syari’at Islam. Hal ini supaya ia tidak terjebak pada istilah-istilah busana muslim yang modis dan trendi, yang justru pada hakikatnya merupakan busana yang terlaknat seperti hal-hal tersebut di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-6971853016334262250?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/6971853016334262250/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/hak-isteri-yang-harus-dipenuhi-suami-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/6971853016334262250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/6971853016334262250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/hak-isteri-yang-harus-dipenuhi-suami-2.html' title='Hak Isteri Yang Harus Dipenuhi Suami  (2)'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-7992687125116309177</id><published>2009-12-01T12:16:00.000+07:00</published><updated>2009-12-01T12:16:47.635+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Audio'/><title type='text'>Dialog Seputar Keluarga</title><content type='html'>Tema : Dialog Seputar Keluarga&lt;br /&gt;Pemateri : Ustadz Firdaus Sanusi&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ia331416.us.archive.org/0/items/DialogSeputarKeluarga/120-ustadzFirdausSanusi_dialogSeputarKeluarga.mp3"&gt;DialogSeputarKeluarga&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-7992687125116309177?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/7992687125116309177/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/dialog-seputar-keluarga.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/7992687125116309177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/7992687125116309177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/dialog-seputar-keluarga.html' title='Dialog Seputar Keluarga'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-4994302712339720610</id><published>2009-12-01T12:03:00.003+07:00</published><updated>2009-12-04T08:51:42.789+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga Sakinah'/><title type='text'>Hak Isteri Yang Harus Dipenuhi Suami  (1)</title><content type='html'>Ketika jenjang pernikahan sudah dilewati, maka suami dan isteri haruslah saling memahami kewajiban-kewajiban dan hak-haknya agar tercapai keseimbangan dan keserasian dalam membina rumah tangga yang harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kewajiban-kewajiban dan hak-hak tersebut adalah seperti yang tersurat dalam sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dari Shahabat Mu’awiyah bin Haidah bin Mu’awiyah al-Qusyairi radhiyallaahu ‘anhu bahwasanya dia bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, apa hak seorang isteri yang harus dipenuhi oleh suaminya?” Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Engkau memberinya makan apabila engkau makan, &lt;br /&gt;2. Engkau memberinya pakaian apabila engkau ber-pakaian,&lt;br /&gt;3. Janganlah engkau memukul wajahnya,&lt;br /&gt;4. Janganlah engkau menjelek-jelekkannya, dan&lt;br /&gt;5. Janganlah engkau meninggalkannya melainkan di dalam rumah (yakni jangan berpisah tempat tidur melainkan di dalam rumah).”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2142), Ibnu Majah (no. 1850), Ahmad (IV/447, V/3, 5), Ibnu Hibban (no. 1286, al-Mawaarid), al-Baihaqi (VII/295, 305, 466-467), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (IX/159-160), dan an-Nasa'i dalam ‘Isyratun Nisaa' (no. 289) dan dalam Tafsiir an-Nasa'i (no. 124). Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;[1]. Engkau Memberinya Makan Apabila Engkau Makan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Memberi makan merupakan istilah lain dari memberi nafkah. Memberi nafkah ini telah diwajibkan ketika sang suami akan melaksanakan ‘aqad nikah, yaitu dalam bentuk mahar, seperti yang tersurat dalam Al-Qur’an, surat al-Baqarah ayat 233.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : …Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya.” [Al-Baqarah : 233]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ketika terjadi perceraian, suami masih berkewajiban memberikan nafkah kepada isterinya selama masih dalam masa ‘iddahnya dan nafkah untuk mengurus anak-anaknya. Barangsiapa yang hidupnya pas-pasan, dia wajib memberikan nafkah menurut kemampuannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : ...Dan orang yang terbatas rizkinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” [Ath-Thalaq : 7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban seseorang untuk memberikan nafkah, meskipun ia dalam keadaan serba kekurangan, tentunya hal ini disesuaikan dengan kadar rizki yang telah Allah berikan kepada dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ayat ini pula, memberikan nafkah kepada isteri hukumnya adalah wajib. Sehingga dalam mencari nafkah, seseorang tidak boleh bermalas-malasan dan tidak boleh menggantungkan hidupnya kepada orang lain serta tidak boleh minta-minta kepada orang lain untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anaknya. Sebagai kepala rumah tangga, seorang suami harus memiliki usaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai kemampuannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan meminta-minta menurut Islam adalah perbuatan yang sangat hina dan tercela. Burung saja, yang diciptakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla tidak sesempurna manusia yang dilengkapi dengan kemampuan berpikir dan tenaga yang jauh lebih besar, tidak pernah meminta-minta dalam mencari makan dan memenuhi kebutuhannya. Dia terbang pada pagi hari dalam keadaan perutnya kosong, dan kembali ke sarangnya pada sore hari dengan perut yang telah kenyang. Demikianlah yang dilakukannya setiap hari, meski hanya berbekal dengan sayap dan paruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mencari rizki, seseorang hendaknya berikhtiar (usaha) terlebih dahulu, kemudian bertawakkal (menggantungkan harapan) hanya kepada Allah, sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka sungguh kalian akan diberikan rizki oleh Allah sebagaimana Dia memberikan kepada burung. Pagi hari burung itu keluar dalam keadaan kosong perutnya, kemudian pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2344), Ahmad (I/30), Ibnu Majah (no. 4164), at-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Dishahihkan juga oleh al-Hakim (IV/318), dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang suami juga harus memperhatikan rizki-rizki yang halal dan thayyibah, untuk diberikan kepada isteri dan anaknya. Bukan dengan cara-cara yang tercela dan dilarang oleh syari’at Islam yang mulia. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan menerima dari sesuatu yang haram. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kepada kaum mukminin seperti yang Dia perintahkan kepada para Rasul. Maka, Allah berfirman: ’Hai Rasul-Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih." [Al-Mukminuun : 51]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah Ta’ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian." [Al-Baqarah : 172]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan orang yang lama bepergian; rambutnya kusut; berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, ‘Yaa Rabb-ku, yaa Rabb-ku,’ padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi kecukupan dengan yang haram, bagaimana do’anya akan dikabulkan?”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1015), at-Tirmidzi (no. 2989), Ahmad (II/328) dan ad-Darimi (II/300), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafkah yang diberikan sang suami kepada isterinya, lebih besar nilainya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dibandingkan dengan harta yang diinfaqkan (meskipun) di jalan Allah ‘Azza wa Jalla atau diinfaqkan kepada orang miskin atau untuk memerdekakan seorang hamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Uang yang engkau infaqkan di jalan Allah, uang yang engkau infaqkan untuk memerdekakan seorang hamba (budak), uang yang engkau infaqkan untuk orang miskin, dan uang yang engkau infaqkan untuk keluargamu, maka yang lebih besar ganjarannya adalah uang yang engkau infaqkan kepada keluargamu.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 995), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap yang dinafkahkan oleh seorang suami kepada isterinya akan diberikan ganjaran oleh Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : ...Dan sesungguhnya, tidaklah engkau menafkahkan sesuatu dengan niat untuk mencari wajah Allah, melainkan engkau diberi pahala dengannya sampai apa yang engkau berikan ke mulut isterimu akan mendapat ganjaran.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1295) dan Muslim (no. 1628), dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang suami yang tidak memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anaknya, maka ia berdosa. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang wajib ia beri makan (nafkah).”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1692), dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud (V/376, no. 1485)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-4994302712339720610?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/4994302712339720610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/hak-isteri-yang-harus-dipenuhi-suami-1_01.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/4994302712339720610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/4994302712339720610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/hak-isteri-yang-harus-dipenuhi-suami-1_01.html' title='Hak Isteri Yang Harus Dipenuhi Suami  (1)'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-8760934940035865193</id><published>2009-12-01T11:59:00.003+07:00</published><updated>2009-12-04T08:51:42.792+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga Sakinah'/><title type='text'>Hak Suami Yang Harus Dipenuhi Isteri (3)</title><content type='html'>&lt;b&gt;3. Isteri Harus Berhias Dan Mempercantik Diri Untuk Suami   &lt;/b&gt;    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri Harus Berhias Dan Mempercantik Diri Untuk Suami, Selalu Tersenyum Dan Tidak Bermuka Masam Di Hadapan Suaminya, Juga Jangan Sampai Ia Memperlihatkan Keadaan Yang Tidak Disukai Oleh Suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang isteri tidak boleh meremehkan kebersihan dirinya, sebab kebersihan merupakan bagian dari iman. Dia harus selalu mengikuti sunnah, seperti membersihkan dirinya, mandi, memakai minyak wangi dan merawat dirinya agar ia selalu berpenampilan bersih dan harum di hadapan suaminya, hal ini menyebabkan terus berseminya cinta kasih di antara keduanya dan kehidupan ini akan terasa nikmat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Berhias untuk suami adalah dianjurkan selagi dalam batas-batas yang tidak dilarang oleh syari’at, seperti mencukur alis, menyambung rambut, mentato tubuhnya dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang isteri ideal selalu nampak ceria, lemah lembut dan menyenangkan suami. Jika suami pulang ke rumah setelah seharian bekerja, maka ia mendapatkan sesuatu yang dapat menenangkan dan menghibur hatinya. Jika suami mendapati isteri yang bersolek dan ceria menyambut kedatangannya, maka ia telah mendapatkan ketenangan yang hakiki dari isterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” [Ar-Ruum : 21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sebaik-baik isteri adalah yang menyenangkan jika engkau melihatnya, taat jika engkau menyuruhnya, serta menjaga dirinya dan hartamu di saat engkau pergi.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani, dari ‘Abdullah bin Salam. Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 3299)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Seorang Isteri Tidak Boleh Mengungkit-ungkit Apa Yang Pernah Ia Berikan Dari Hartanya Kepada Suaminya Maupun Keluarganya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena menyebut-nyebut pemberian dapat membatalkan pahala. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya ; Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).” [Al-Baqarah : 264]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Seorang Isteri Tidak Boleh Menyakiti Suami, Baik Dengan Ucapan Maupun Perbuatan. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang isteri tidak boleh memanggil suami dengan kejelekan atau mencaci-makinya karena yang demikian itu dapat menyakiti hati suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Tidaklah seorang isteri menyakiti suaminya di dunia, melainkan isterinya dari para bidadari Surga akan berkata, ‘Janganlah engkau menyakitinya. Celakalah dirimu! Karena ia hanya sejenak berkumpul denganmu yang kemudian meninggalkan-mu untuk kembali kepada kami.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1174), dari Shahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;6. Isteri Harus Dapat Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua Dan Kerabat Suami.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena seorang isteri tidak dianggap berbuat baik kepada suaminya jika ia memperlakukan orang tua dan kerabatnya dengan kejelekan. Setiap isteri harus memperhatikan kedua orang tua suami dan berbuat baik kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Isteri Harus Pandai Menjaga Rahasia Suami Dan Rahasia Rumah Tangga. Jangan Sekali-kali Ia Menyebarluaskannya. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri yang shalihah tidak boleh mengabarkan/ menceritakan suaminya kepada orang lain, tidak membocorkan rahasianya dan tidak membuka apa yang disembunyikan dan tidak membuka aib suaminya. Dan di antara rahasia yang paling dalam adalah perkara ranjang suami-isteri. Sungguh, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8. Isteri Harus Bersungguh-Sungguh Dalam Menjaga Keberlangsungan Rumah Tangga Bersama Suami-nya. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah ia meminta cerai tanpa ada alasan yang disyari’atkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya ; Siapa pun isteri yang meminta cerai dari suaminya tanpa alasan yang benar, maka ia tidak akan mencium aroma Surga.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2226) dan at-Tirmidzi (no. 1187, 2055) dari Shahabat Tsauban radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 2035)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para isteri yang meminta cerai adalah orang-orang munafik.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1186) dari Shahabat Tsauban radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 632) dan Shahiihul Jaami’ (no. 6681). Point 4-9 dinukil dari kitab al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz (hal. 305-309) secara ringkas]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-8760934940035865193?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/8760934940035865193/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/hak-suami-yang-harus-dipenuhi-isteri-3_01.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/8760934940035865193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/8760934940035865193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/hak-suami-yang-harus-dipenuhi-isteri-3_01.html' title='Hak Suami Yang Harus Dipenuhi Isteri (3)'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-8948351150808409960</id><published>2009-12-01T11:53:00.002+07:00</published><updated>2009-12-04T08:51:42.793+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga Sakinah'/><title type='text'>Hak Suami Yang Harus Dipenuhi Isteri (2)</title><content type='html'>&lt;b&gt;2. Isteri Harus Banyak Bersyukur Dan Tidak Banyak Menuntut&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukur adalah ciri dari hamba-hamba Allah yang mulia. Dan orang-orang yang bersyukur sangat sedikit, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : ... Sedikit dari hamba-Ku yang bersyukur.” [Saba’ :13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap mukmin dan mukminah diperintahkan untuk bersyukur karena dengan bersyukur, Allah akan menambahkan rizki yang telah Dia berikan kepadanya. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya ; Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat.’” [Ibrahim : 7]&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Seorang isteri diperintahkan untuk bersyukur kepada suaminya yang telah memberikan nafkah lahir dan batin kepadanya. Karena dengan syukurnya isteri kepada suaminya dan tidak banyak menuntut, maka rumah tangga akan bahagia. Isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya dan banyak menuntut merupakan pertanda isteri tidak baik dan tidak merasa cukup dengan rizki yang Allah karuniakan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah syukur ini sangat ditekankan dalam Islam, bahkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengancam dengan masuk Neraka bagi para wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, dan pada hari Kiamat Allah Ta’ala pun tidak akan melihat seorang wanita yang banyak menuntut kepada suaminya dan tidak bersyukur kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Diperlihatkan Neraka kepadaku dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita, mereka kufur.” Para Shahabat bertanya: “Apakah disebabkan kufurnya mereka kepada Allah?” Rasul menjawab: “(Tidak), mereka kufur kepada suaminya dan mereka kufur kepada kebaikan. Seandainya seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada isterinya selama setahun, kemudian isterinya melihat sesuatu yang jelek pada diri suaminya, maka dia mengatakan, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu sekalipun.’”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 29, 1052, 5197) dan Muslim (no. 907 (17)), Abu ‘Awanah (II/379-380), Malik (I/166-167, no. 2), an-Nasa-i (III/146, 147, 148) dan al-Baihaqi (VII/294), dari Shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal suaminya sudah banyak berbuat baik kepada isterinya selama setahun penuh. Karena sekali (saja) suami tidak berbuat baik kepada si isteri, maka dilupakan seluruh kebaikannya selama satu tahun. Itulah yang disebut kufur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, misalnya seorang suami secara rutin telah memberikan nafkah berupa harta kepada isterinya. Namun, suatu waktu Allah ‘Azza wa Jalla mentakdirkan dirinya bangkrut sehingga tidak dapat memberikan nafkah dalam jumlah yang seperti biasanya kepada isterinya, kemudian si isteri mengatakan, “Memang, engkau tidak pernah memberikan nafkah.” Atau contoh yang lainnya, yaitu isteri yang terlalu banyak menuntut, meski sang suami sudah berusaha dengan sekuat tenaga dari pagi hingga sore untuk mencari nafkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman Allah ‘Azza wa Jalla kepada orang-orang yang semacam ini sangatlah keras, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, dan dia selalu menuntut (tidak pernah merasa cukup).”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh an-Nasa-i dalam Isyratin Nisaa' (no. 249), al-Baihaqi (VII/294), al-Hakim (II/190) dan ia berkata, “Hadits ini sanadnya shahih, namun al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi, dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 289)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lain, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sesungguhnya orang yang selalu melakukan kefasikan adalah penghuni Neraka.” Dikatakan, “Wahai Rasulullah, siapakah yang selalu berbuat fasik itu?” Beliau menjawab, “Para wanita.” Seorang Shahabat bertanya, “Bukankah mereka itu ibu-ibu kita, saudari-saudari kita, dan isteri-isteri kita?” Beliau menjawab, “Benar. Akan tetapi apabila mereka diberi sesuatu, mereka tidak bersyukur. Apabila mereka ditimpa ujian (musibah), mereka tidak bersabar.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (III/428, IV/604) dari Shahabat ‘Abdurrahman bin Syabl radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 3058)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-8948351150808409960?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/8948351150808409960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/hak-suami-yang-harus-dipenuhi-isteri-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/8948351150808409960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/8948351150808409960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/hak-suami-yang-harus-dipenuhi-isteri-2.html' title='Hak Suami Yang Harus Dipenuhi Isteri (2)'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-2277678441457344071</id><published>2009-12-01T11:10:00.002+07:00</published><updated>2009-12-01T11:10:18.630+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Audio'/><title type='text'>Kajian Dia Surgamu atau Nerakamu</title><content type='html'>Tema&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp; Dia Surgamu atau Nerakamu&lt;br /&gt;Pemateri&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ia341339.us.archive.org/2/items/KajianRadioRodja_404/DiaSurgamuAtauNerakamu_ustArmenHalim.mp3"&gt;DiaSurgamuAtauNerakamu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.radiorodja.com/"&gt;Radio Rodja&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-2277678441457344071?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/2277678441457344071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/kajian-dia-surgamu-atau-nerakamu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/2277678441457344071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/2277678441457344071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/kajian-dia-surgamu-atau-nerakamu.html' title='Kajian Dia Surgamu atau Nerakamu'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-6509057599278060377</id><published>2009-12-01T10:54:00.001+07:00</published><updated>2009-12-04T08:51:42.795+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><title type='text'>Tata Cara Pernikahan Dalam Islam (4)</title><content type='html'>&lt;b&gt;MALAM PERTAMA DAN ADAB BERSENGGAMA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;4. Malam Pertama Dan Adab Bersenggama&lt;br /&gt;Saat pertama kali pengantin pria menemui isterinya setelah aqad nikah, dianjurkan melakukan beberapa hal, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama:&lt;/b&gt; Pengantin pria hendaknya meletakkan tangannya pada ubun-ubun isterinya seraya mendo’akan baginya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak maka peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah ‘basmalah’ serta do’akanlah dengan do’a berkah seraya mengucapkan: ‘Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.’”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2160), Ibnu Majah (no. 1918), al-Hakim (II/185) dan ia menshahihkannya, juga al-Baihaqi (VII/148), dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 92-93)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Kedua:&lt;/b&gt; Hendaknya ia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at bersama isterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh al-Albani rahimahullaah berkata: “Hal itu telah ada sandarannya dari ulama Salaf (Shahabat dan Tabi’in).&lt;br /&gt;1. Hadits dari Abu Sa’id maula (budak yang telah dimerdekakan) Abu Usaid.&lt;br /&gt;Ia berkata: “Aku menikah ketika aku masih seorang budak. Ketika itu aku mengundang beberapa orang Shahabat Nabi, di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Dzarr dan Hudzaifah radhiyallaahu ‘anhum. Lalu tibalah waktu shalat, Abu Dzarr bergegas untuk mengimami shalat. Tetapi mereka berkata: ‘Kamulah (Abu Sa’id) yang berhak!’ Ia (Abu Dzarr) berkata: ‘Apakah benar demikian?’ ‘Benar!’ jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka shalat. Ketika itu aku masih seorang budak. Selanjutnya mereka mengajariku, ‘Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua shalat dua raka’at. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kamu berdua...!’”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (X/159, no. 30230 dan ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191-192). Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 94-97), cet. Darus Salam, th. 1423 H]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hadits dari Abu Waail.&lt;br /&gt;Ia berkata, “Seseorang datang kepada ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, lalu ia berkata, ‘Aku menikah dengan seorang gadis, aku khawatir dia membenciku.’ ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Sesungguhnya cinta berasal dari Allah, sedangkan kebencian berasal dari syaitan, untuk membenci apa-apa yang dihalalkan Allah. Jika isterimu datang kepadamu, maka perintahkanlah untuk melaksanakan shalat dua raka’at di belakangmu. Lalu ucapkanlah (berdo’alah):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan isteriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rizki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rizki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191, no. 10460, 10461)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga:&lt;/b&gt; Bercumbu rayu dengan penuh kelembutan dan kemesraan. Misalnya dengan memberinya segelas air minum atau yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits Asma’ binti Yazid binti as-Sakan radhiyallaahu ‘anha, ia berkata: “Saya merias ‘Aisyah untuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu saya datangi dan saya panggil beliau supaya menghadiahkan sesuatu kepada ‘Aisyah. Beliau pun datang lalu duduk di samping ‘Aisyah. Ketika itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam disodori segelas susu. Setelah beliau minum, gelas itu beliau sodorkan kepada ‘Aisyah. Tetapi ‘Aisyah menundukkan kepalanya dan malu-malu.” ‘Asma binti Yazid berkata: “Aku menegur ‘Aisyah dan berkata kepadanya, ‘Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam!’ Akhirnya ‘Aisyah pun meraih gelas itu dan meminum isinya sedikit.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/438, 452, 453, 458). Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 91-92), cet. Darus Salam, th. 1423 H]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keempat: &lt;/b&gt;Berdo’a sebelum jima’ (bersenggama), yaitu ketika seorang suami hendak menggauli isterinya, hendaklah ia membaca do’a:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka, apabila Allah menetapkan lahirnya seorang anak dari hubungan antara keduanya, niscaya syaitan tidak akan membahayakannya selama-lamanya.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 141, 3271, 3283, 5165), Muslim (no. 1434), Abu Dawud (no. 2161), at-Tirmidzi (no. 1092), ad-Darimi (II/145), Ibnu Majah (no. 1919), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa' (no. 144, 145), Ahmad (I/216, 217, 220, 243, 283, 286) dan lainnya, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelima: &lt;/b&gt;Suami boleh menggauli isterinya dengan cara bagaimana pun yang disukainya asalkan pada kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Isteri-Isterimu adalah ladang bagimu, maka datangi-lah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.” [Al-Baqarah : 223]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Pernah suatu ketika ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, celaka saya.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu celaka?’ ‘Umar menjawab, ‘Saya membalikkan pelana saya tadi malam.’&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Pelana adalah kata kiasan untuk isteri. Yang dimaksud ‘Umar bin al-Khaththab adalah menyetubuhi isteri pada kemaluannya tetapi dari arah belakang. Hal ini karena menurut kebiasaan, suami yang menyetubuhi isterinya berada di atas, yaitu menunggangi isterinya dari arah depan. Jadi, karena ‘Umar menunggangi isterinya dari arah belakang, maka dia menggunakan kiasan “membalik pelana”. (Lihat an-Nihayah fii Ghariibil Hadiits (II/209))] &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan komentar apa pun, hingga turunlah ayat kepada beliau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Isteri-Isterimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai...” [Al-Baqarah : 223]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setubuhilah isterimu dari arah depan atau dari arah belakang, tetapi hindarilah (jangan engkau menyetubuhinya) di dubur dan ketika sedang haidh".&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (I/297), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa' (no. 91) dan dalam Tafsiir an-Nasa-i (I/256, no. 60), at-Tirmidzi (no. 2980), Ibnu Hibban (no. 1721-al-Mawarid) dan (no. 4190-Ta’liiqatul Hisaan ‘ala Shahiih Ibni Hibban), ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (no. 12317) dan al-Baihaqi (VII/198). At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan.” Hadits ini dishahihkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fat-hul Baari (VIII/291)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Silahkan menggaulinya dari arah depan atau dari belakang asalkan pada kemaluannya".&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Aatsaar (III/41) dan al-Baihaqi (VII/195). Asalnya hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 4528), Muslim (no. 1435) dan lainnya, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat al-Insyirah fii Adabin Nikah (hal. 48) oleh Abu Ishaq al-Huwaini]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Seorang Suami Dianjurkan Mencampuri Isterinya Kapan Waktu Saja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;• Apabila suami telah melepaskan hajat biologisnya, janganlah ia tergesa-gesa bangkit hingga isterinya melepaskan hajatnya juga. Sebab dengan cara seperti itu terbukti dapat melanggengkan keharmonisan dan kasih sayang antara keduanya. Apabila suami mampu dan ingin mengulangi jima’ sekali lagi, maka hendaknya ia berwudhu’ terlebih dahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika seseorang diantara kalian menggauli isterinya kemudian ingin mengulanginya lagi, maka hendaklah ia berwudhu’ terlebih dahulu.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (308 (27)) dan Ahmad (III/28), dari Shahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Yang afdhal (lebih utama) adalah mandi terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Rafi' radhi-yallaahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menggilir isteri-isterinya dalam satu malam. Beliau mandi di rumah fulanah dan rumah fulanah. Abu Rafi' berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa tidak dengan sekali mandi saja?” Beliau menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini lebih bersih, lebih baik dan lebih suci.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 219), an-Nasa-i dalam Isyratun Nisaa' (no. 149), dan yang lainnya. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (no. 216) dan Adabuz Zifaf (hal. 107-108)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Seorang suami dibolehkan jima’ (mencampuri) isterinya kapan waktu saja yang ia kehendaki; pagi, siang, atau malam. Bahkan, apabila seorang suami melihat wanita yang mengagumkannya, hendaknya ia mendatangi isterinya. Hal ini berdasarkan riwayat bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat wanita yang mengagumkan beliau. Kemudian beliau mendatangi isterinya -yaitu Zainab radhiyallaahu ‘anha- yang sedang membuat adonan roti. Lalu beliau melakukan hajatnya (berjima’ dengan isterinya). Kemu-dian beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya wanita itu menghadap dalam rupa syaitan dan membelakangi dalam rupa syaitan.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Maksudnya isyarat dalam mengajak kepada hawa nafsu]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; Maka, apabila seseorang dari kalian melihat seorang wanita (yang mengagumkan), hendaklah ia mendatangi isterinya. Karena yang demikian itu dapat menolak apa yang ada di dalam hatinya.” &lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1403), at-Tirmidzi (no. 1158), Adu Dawud (no. 2151), al-Baihaqi (VII/90), Ahmad (III/330, 341, 348, 395) dan lafazh ini miliknya, dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (I/470-471)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam an-Nawawi rahimahullaah berkata : “ Dianjurkan bagi siapa yang melihat wanita hingga syahwatnya tergerak agar segera mendatangi isterinya - atau budak perempuan yang dimilikinya -kemudian menggaulinya untuk meredakan syahwatnya juga agar jiwanya menjadi tenang.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Syarah Shahiih Muslim (IX/178)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, ketahuilah saudara yang budiman, bahwasanya menahan pandangan itu wajib hukumnya, karena hadits tersebut berkenaan dan berlaku untuk pandangan secara tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” .[An-Nuur : 30]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Buraidah, dari ayahnya radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ber-sabda kepada ‘Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai ‘Ali, janganlah engkau mengikuti satu pandangan pandangan lainnya karena yang pertama untukmu dan yang kedua bukan untukmu”.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2777) dan Abu Dawud (no. 2149)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Haram menyetubuhi isteri pada duburnya dan haram menyetubuhi isteri ketika ia sedang haidh/ nifas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haidh. Katakanlah, ‘Itu adalah sesuatu yang kotor.’ Karena itu jauhilah&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Jangan bercampur dengan isteri pada waktu haidh]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; isteri pada waktu haidh; dan janganlah kamu dekati sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang bertaubat dan mensucikan diri.” [Al-Baqarah : 222]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang menggauli isterinya yang sedang haidh, atau menggaulinya pada duburnya, atau mendatangi dukun, maka ia telah kafir terhadap ajaran yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3904), at-Tirmidzi (no. 135), Ibnu Majah (no. 639), ad-Darimi (I/259), Ahmad (II/408, 476), al-Baihaqi (VII/198), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa' (no. 130, 131), dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dilaknat orang yang menyetubuhi isterinya pada duburnya.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Adi dari ‘Uqbah bin ‘Amr dan dikuatkan dengan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2162) dan Ahmad (II/444 dan 479). Lihat Adaabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 105)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kaffarat bagi suami yang menggauli isterinya yang sedang haidh.&lt;br /&gt;Syaikh al-Albani rahimahullaah berkata, “Barangsiapa yang dikalahkan oleh hawa nafsunya lalu menyetubuhi isterinya yang sedang haidh sebelum suci dari haidhnya, maka ia harus bershadaqah dengan setengah pound emas Inggris, kurang lebihnya atau seperempatnya. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang menggauli isterinya yang sedang haidh. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hendaklah ia bershadaqah dengan satu dinar atau setengah dinar.’”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 264), an-Nasa-i (I/153), at-Tirmidzi (no. 136), Ibnu Majah (no. 640), Ahmad (I/172), dishahihkan oleh al-Hakim (I/172) dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 122)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Apabila seorang suami ingin bercumbu dengan isterinya yang sedang haidh, ia boleh bercumbu dengannya selain pada kemaluannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lakukanlah apa saja kecuali nikah (jima'/ bersetubuh).”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 302), Abu Dawud (no. 257), dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 123)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Apabila suami atau isteri ingin makan atau tidur setelah jima’ (bercampur), hendaklah ia mencuci kemaluannya dan berwudhu' terlebih dahulu, serta mencuci kedua tangannya. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila beliau hendak tidur dalam keadaan junub, maka beliau berwudhu' seperti wudhu' untuk shalat. Dan apabila beliau hendak makan atau minum dalam keadaan junub, maka beliau mencuci kedua tangannya kemudian beliau makan dan minum.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 222, 223), an-Nasa-i (I/139), Ibnu Majah (no. 584, 593) dan Ahmad (VI/102-103, dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 390) dan Shahiihul Jaami’ (no. 4659)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, ia berkata, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apabila Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur dalam keadaan junub, beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu’ (seperti wudhu') untuk shalat.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 288), Muslim (no. 306 (25)), Abu Dawud (no. 221), an-Nasa-i (I/140). Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 4660)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Sebaiknya tidak bersenggama dalam keadaan sangat lapar atau dalam keadaan sangat kenyang, karena dapat membahayakan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Suami isteri dibolehkan mandi bersama dalam satu tempat, dan suami isteri dibolehkan saling melihat aurat masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun riwayat dari ‘Aisyah yang mengatakan bahwa ‘Aisyah tidak pernah melihat aurat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah riwayat yang bathil, karena di dalam sanadnya ada seorang pendusta.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Lihat Adabuz Zifaf hal. 109]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Haram hukumnya menyebarkan rahasia rumah tangga dan hubungan suami isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap suami maupun isteri dilarang menyebarkan rahasia rumah tangga dan rahasia ranjang mereka. Hal ini dilarang oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, orang yang menyebarkan rahasia hubungan suami isteri adalah orang yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah. &lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya pada hari Kiamat adalah laki-laki yang bersenggama dengan isterinya dan wanita yang bersenggama dengan suaminya kemudian ia menyebarkan rahasia isterinya.” &lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (no. 17732), Muslim (no. 1437), Abu Dawud (no. 4870), Ahmad (III/69) dan lainnya. Hadits ini ada kelemahannya karena dalam sanadnya ada seorang rawi yang lemah bernama ‘Umar bin Hamzah al-‘Amry. Rawi ini dilemahkan oleh Yahya bin Ma’in dan an-Nasa-i. Imam Ahmad berkata tentangnya, “Hadits-haditsnya munkar.” Lihat kitab Mizanul I’tidal (III/192), juga Adabuz Zifaf (hal. 142). Makna hadits ini semakna dengan hadits-hadits lain yang shahih yang melarang menceritakan rahasia hubungan suami isteri]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lain yang shahih, disebutkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian lakukan (menceritakan hubungan suami isteri). Perumpamaannya seperti syaitan laki-laki yang berjumpa dengan syaitan perempuan di jalan lalu ia menyetubuhinya (di tengah jalan) dilihat oleh orang banyak…”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/456-457)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullaah berkata, “Apa yang dilakukan sebagian wanita berupa membeberkan maslah rumah tangga dan kehidupan suami isteri kepada karib kerabat atau kawan adalah perkara yang diharamkan. Tidak halal seorang isteri menyebarkan rahasia rumah tangga atau keadaannya bersama suaminya kepada seseorang. &lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : “Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” [An-Nisaa' : 34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah laki-laki yang bersenggama dengan isterinya dan wanita yang bersenggama dengan suaminya, kemudian ia menyebarkan rahasia pasangannya".&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Fataawaa al-Islaamiyyah (III/211-212)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-6509057599278060377?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/6509057599278060377/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/tata-cara-pernikahan-dalam-islam-4.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/6509057599278060377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/6509057599278060377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/12/tata-cara-pernikahan-dalam-islam-4.html' title='Tata Cara Pernikahan Dalam Islam (4)'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-3117286018651217626</id><published>2009-11-28T13:46:00.002+07:00</published><updated>2009-12-04T08:37:07.168+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga Sakinah'/><title type='text'>Hak Suami Yang Harus Dipenuhi Isteri (1)</title><content type='html'>Ketahuilah bahwa seorang suami adalah pemimpin di dalam rumah tangga, bagi isteri, juga bagi anak-anaknya, karena Allah telah menjadikannya sebagai pemimpin. Allah memberi keutamaan bagi laki-laki yang lebih besar daripada wanita, karena dialah yang berkewajiban memberi nafkah kepada isterinya. Dan Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya.” [An-Nisaa' : 34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, suami mempunyai hak atas isterinya yang harus senantiasa dipelihara, ditaati dan ditunaikan oleh isteri dengan baik yang dengan itu ia akan masuk Surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Masing-masing dari suami maupun isteri memiliki hak dan kewajiban, namun suami mempunyai kelebihan atas isterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan mereka (para wanita) memiliki hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang pantas. Tetapi para suami mempunyai kelebihan di atas mereka. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” [Al-Baqarah : 228]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Ketaatan Isteri Kepada Suaminya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setelah wali atau orang tua sang isteri menyerahkan kepada suaminya, maka kewajiban taat kepada suami menjadi hak tertinggi yang harus dipenuhi, setelah kewajiban taatnya kepada Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[&lt;i&gt;Hadits hasan shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1159), Ibnu Hibban (no. 1291 - al-Mawaarid) dan al-Baihaqi (VII/291), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini diriwayatkan juga dari beberapa Shahabat. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 1998)&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sujud merupakan bentuk ketundukan sehingga hadits tersebut di atas mengandung makna bahwa suami mendapatkan hak terbesar atas ketaatan isteri kepadanya. Sedangkan kata: “Seandainya aku boleh...,” menunjukkan bahwa sujud kepada manusia tidak boleh (dilarang) dan hukumnya haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang isteri harus taat kepada suaminya dalam hal-hal yang ma’ruf (mengandung kebaikan dalam agama). Misalnya ketika diajak untuk jima’ (bersetubuh), diperintahkan untuk shalat, berpuasa, shadaqah, mengenakan busana muslimah (jilbab yang syar’i), menghadiri majelis ilmu, dan bentuk-bentuk perintah lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan syari’at. Hal inilah yang justru akan mendatangkan Surga bagi dirinya, seperti sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Apabila seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya (menjaga kehormatannya), dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[&lt;i&gt;Hadits hasan shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (no. 1296 al-Mawaarid) dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Shahiih Mawaariduzh Zham’aan (no. 1081)&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang sifat wanita penghuni Surga,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Wanita-wanita kalian yang menjadi penghuni Surga adalah yang penuh kasih sayang, banyak anak, dan banyak kembali (setia) kepada suaminya yang apabila suaminya marah, ia mendatanginya dan meletakkan tangannya di atas tangan suaminya dan berkata, ‘Aku tidak dapat tidur nyenyak hingga engkau ridha.’”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (XIX/140, no. 307) dan Mu’jamul Ausath (VI/301, no. 5644), juga an-Nasa-i dalam Isyratun Nisaa' (no. 257). Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahiihah (no. 287)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan pada zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang wanita yang datang dan mengadukan perlakuan suaminya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dari Hushain bin Mihshan, bahwasanya saudara perempuan dari bapaknya (yaitu bibinya) pernah mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena ada suatu keperluan. Setelah ia menyelesaikan keperluannya, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah bersuami?” Ia menjawab, “Sudah.” Beliau bertanya lagi, “Bagaimana sikapmu kepada suamimu?” Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi (haknya) kecuali yang aku tidak mampu mengerjakannya.”&lt;br /&gt;Maka, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Perhatikanlah bagaimana hubunganmu dengannya karena suamimu (merupakan) Surgamu dan Nerakamu.”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (VI/233, no. 17293), an-Nasa-i dalam ‘Isyratin Nisaa' (no. 77-83), Ahmad (IV/341), al-Hakim (II/189), al-Baihaqi (VII/291), dari bibinya Husain bin Mihshan radhiyallaahu ‘anhuma. Al-Hakim berkata, “Sanadnya shahih.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menggambarkan perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk memperhatikan hak suami yang harus dipenuhi isterinya karena suami adalah Surga dan Neraka bagi isteri. Apabila isteri taat kepada suami, maka ia akan masuk Surga, tetapi jika ia mengabaikan hak suami, tidak taat kepada suami, maka dapat menyebabkan isteri terjatuh ke dalam jurang Neraka. Nasalullaahas salaamah wal ‘aafiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, dalam masalah berhubungan suami isteri pun, jika sang isteri menolak ajakan suaminya, maka ia akan dilaknat oleh Malaikat, sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Apabila seorang suami mengajak isterinya ke tempat tidur (untuk jima’/bersetubuh) dan si isteri menolaknya [sehingga (membuat) suaminya murka], maka si isteri akan dilaknat oleh Malaikat hingga (waktu) Shubuh.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3237, 5193, 5194), Muslim (no. 1436), Ahmad (II/255, 348, 386, 439, 468, 480, 519, 538), Abu Dawud (no. 2141) an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa' (no. 84), ad-Darimi (II/149-150) dan al-Baihaqi (VII/292), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain (Muslim) disebutkan: “sehingga ia kembali”. Dan dalam riwayat lain (Ahmad dan Muslim) disebutkan: “sehingga suaminya ridha kepadanya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud “hingga kembali” yaitu hingga ia bertaubat dari perbuatan itu.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Fat-hul Baari (IX/294-295)] &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang wanita tidak akan bisa menunaikan hak Allah sebelum ia menunaikan hak suaminya. Andaikan suami meminta dirinya padahal ia sedang berada di atas punggung unta, maka ia (isteri) tetap tidak boleh menolak.”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1853), Ahmad (IV/381), Ibnu Hibban (no. 1290- al-Mawaarid) dari ‘Abdullah bin Abi Aufa radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Aadabuz Zifaaf (hal. 284)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ajaran Islam, seorang isteri dilarang berpuasa sunnat kecuali dengan izin suaminya, apabila suami berada di rumahnya (tidak safar). Berdasarkan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya ; Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnat) sedangkan suaminya ada (tidak safar) kecuali dengan izinnya. Tidak boleh ia mengizinkan seseorang memasuki rumahnya kecuali dengan izinnya dan apabila ia menginfakkan harta dari usaha suaminya tanpa perintahnya, maka separuh ganjarannya adalah untuk suaminya.”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5195), Muslim (no. 1026) dan Abu Dawud (no. 2458) dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dan lafazh ini milik Muslim]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ini ada tiga faedah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Dilarang puasa sunnat kecuali dengan izin suami.&lt;br /&gt;[2]. Tidak boleh mengizinkan orang lain masuk kecuali dengan izin suami.&lt;br /&gt;[3]. Apabila seorang isteri infaq/shadaqah hendaknya dengan izin suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ini seorang isteri dilarang puasa sunnat tanpa izin dari suami. Larangan ini adalah larangan haram, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi rahimahullaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam an-Nawawi berkata, “Hal ini karena suami mempunyai hak untuk “bersenang-senang” dengan isterinya setiap hari. Hak suami ini sekaligus merupakan kewajiban seorang isteri untuk melayani suaminya setiap saat. Kewajiban tersebut tidak boleh diabaikan dengan alasan melaksanakan amalan sunnah atau amalan wajib yang dapat ditunda pelaksanaannya.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Syarah Shahiih Muslim (VII/115)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika isteri berkewajiban mematuhi suaminya dalam melampiaskan syahwatnya, maka lebih wajib lagi baginya untuk mentaati suaminya dalam urusan yang lebih penting dari itu, yaitu yang berkaitan dengan pendidikan anak dan kebaikan keluarganya, serta hak-hak dan kewajiban lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat petunjuk bahwa hak suami lebih utama dari amalan sunnah, karena hak suami merupakan kewajiban bagi isteri. Melaksanakan kewajiban harus didahulukan daripada melaksanakan amalan sunnah.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Fat-hul Baari (IX/296)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam hanya membatasi ketaatan dalam hal-hal ma’ruf yang sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah sebagaimana yang dipahami oleh generasi terbaik, yaitu Salafush Shalih. Sedangkan perintah-perintah suami yang bertentangan dengan hal tersebut, tidak ada kewajiban bagi sang isteri untuk memenuhinya, bahkan dia berkewajiban untuk memberikan nasihat kepada suaminya dengan lemah lembut dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-3117286018651217626?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/3117286018651217626/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/hak-suami-yang-harus-dipenuhi-isteri-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/3117286018651217626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/3117286018651217626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/hak-suami-yang-harus-dipenuhi-isteri-1.html' title='Hak Suami Yang Harus Dipenuhi Isteri (1)'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-71006919332318875</id><published>2009-11-26T17:10:00.002+07:00</published><updated>2009-12-04T08:51:42.798+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><title type='text'>Kiat-Kiat Menuju Pelaminan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh indah ikatan suci antara dua orang insan yang pasrah untuk saling berjanji setia menemani mengayuh biduk mengarungi lautan kehidupan. Dari ikatan suci ini dibangun keluarga bahagia, yang dipimpin oleh seorang suami yang shalih dan dimotori oleh seorang istri yang shalihah. Mereka mengerti hak-hak dan kewajiban mereka terhadap pasangannya, dan mereka pun memahami hak dan kewajiban mereka kepada Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt;. Kemudian lahir dari mereka berdua anak-anak yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah &lt;i&gt;Azza Wa Jalla&lt;/i&gt;. Cinta dan kasih sayang pun tumbuh subur di dalamnya. Rahmat dan berkah Allah pun terlimpah kepada mereka. Inilah keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, samara kata orang. Inilah model keluarga yang diidamkan oleh setiap muslim tentunya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Tidak diragukan lagi, bahwa untuk menggapai taraf keluarga yang demikian setiap orang harus melewati sebuah pintu, yaitu pernikahan. Dan usaha untuk meraih keluarga yang samara ini hendaknya sudah dimulai saat merencanakan pernikahan. Pada tulisan singkat ini akan sedikit dibahas beberapa kiat menuju pernikahan Islam yang diharapkan menjadi awal dari sebuah keluarga yang samara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berbenah Diri Untuk Mendapatkan Yang Terbaik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penulis ingin membicarakan 2 jenis manusia ketika ditanya: “Anda ingin menikah dengan orang shalih/shalihah atau tidak?”. Manusia jenis pertama menjawab “Ya, tentu saja saya ingin”, dan inilah muslim yang masih bersih fitrahnya. Ia tentu mendambakan seorang suami atau istri yang taat kepada Allah, ia mendirikan shalat ia menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ia menginginkan sosok yang shalih atau shalihah. Maka, jika orang termasuk manusia pertama ini agar ia mendapatkan pasangan yang shalih atau shalihah, maka ia harus berusaha menjadi orang yang shalih atau shalihah pula. Allah &lt;i&gt;Azza Wa Jalla&lt;/i&gt; berfirman yang artinya: &lt;i&gt;“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula”&lt;/i&gt; [QS. An Nur: 26]. Yaitu dengan berbenah diri, berusaha untuk bertaubat dan meninggalkan segala kemaksiatan yang dilakukannya kemudian menambah ketaatan kepada Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan manusia jenis kedua menjawab: “Ah saya sih ndak mau yang alim-alim” atau semacam itu. Inilah seorang muslim yang telah keluar dari fitrahnya yang bersih, karena sudah terlalu dalam berkubang dalam kemaksiatan sehingga ia melupakan Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt;, melupakan kepastian akan datangnya hari akhir, melupakan kerasnya siksa neraka. Yang ada di benaknya hanya kebahagiaan dunia semata dan enggan menggapai kebahagiaan akhirat. Kita khawatir orang-orang semacam inilah yang dikatakan oleh Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; sebagai orang yang enggan masuk surga. Lho, masuk surga koq tidak mau? Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;i&gt;“Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan”&lt;/i&gt;. Para sahabat bertanya: ‘Siapakah yang enggan itu wahai Rasulullah?’. Beliau bersabda: &lt;i&gt;“Yang taat kepadaku akan masuk surga dan yang ingkar terhadapku maka ia enggan masuk surga”&lt;/i&gt; [HR. Bukhari]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang istri atau suami adalah teman sejati dalam hidup dalam waktu yang sangat lama bahkan mungkin seumur hidupnya. Musibah apa yang lebih besar daripada seorang insan yang seumur hidup ditemani oleh orang yang gemar mendurhakai Allah dan Rasul-Nya? Padahal Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam &lt;/i&gt;bersabda: &lt;i&gt;“Keadaan agama seorang insan tergantung pada keadaan agama teman dekatnya. Maka sudah sepatutnya kalian memperhatikan dengan siapa kalian berteman dekat”&lt;/i&gt; [HR. Ahmad, Abu Dawud. Dihasankan oleh Al Albani]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bekali Diri Dengan Ilmu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ilmu adalah bekal penting bagi seseorang yang ingin sukses dalam pernikahannya dan ingin membangun keluarga Islami yang samara. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu agama tentunya. Secara umum, seseorang perlu membekali diri dengan ilmu-ilmu agama, minimal ilmu-ilmu agama yang wajib bagi setiap muslim. Seperti ilmu tentang aqidah yang benar, tentang tauhid, ilmu tentang syirik, tentang wudhu, tentang shalat, tentang puasa, dan ilmu yang lain, yang jika ilmu-ilmu wajib ini belum dikuasai maka seseorang dikatakan belum benar keislamannya. Lebih baik lagi jika membekali diri dengan ilmu agama lainnya seperti ilmu hadits, tafsir al Qur’an, Fiqih, Ushul Fiqh karena tidak diragukan lagi bahwa ilmu adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Renungkanlah firman Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt;, yang artinya: &lt;i&gt;“Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”&lt;/i&gt; [QS. Al Mujadalah: 11]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara khusus, ilmu yang penting untuk menjadi bekal adalah ilmu tentang pernikahan. Tata cara pernikahan yang syar’I, syarat-syarat pernikahan, macam-macam mahram, sunnah-sunnah dalam pernikahan, hal-hal yang perlu dihindari, dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Siapkan Harta Dan Rencana&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak dapat dipungkiri bahwa pernikahan membutuhkan kemampuan harta. Minimal untuk dapat memenuhi beberapa kewajiban yang menyertainya, seperti mahar, mengadakan walimah dan kewajiban memberi nafkah kepada istri serta anak-anak. Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;i&gt;“Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.”&lt;/i&gt; [HR. Ahmad, Abu Dawud].&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun kebutuhan akan harta ini jangan sampai dijadikan pokok utama sampai-sampai membuat seseorang tertunda atau terhalang untuk menikah karena belum banyak harta. Harta yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan keluarganya itu sudah mencukupi. Karena Allah dan Rasul-Nya mengajarkan akhlak zuhud (sederhana) dan qana’ah (mensyukuri apa yang dikarunai Allah) serta mencela penghamba dan pengumpul harta. Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;i&gt;“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah dan celakalah hamba khamilah. Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah”&lt;/i&gt; [HR. Bukhari].&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disamping itu, terdapat larangan bermewah-mewah dalam mahar dan terdapat teladan menyederhanakan walimah. Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;i&gt;“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya”&lt;/i&gt; [HR. Ahmad]. Beliau &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; juga, berdasarkan hadits Anas Bin Malik &lt;i&gt;Radhiyallahu’anhu&lt;/i&gt;, ketika menikahi Zainab Bintu Jahsy mengadakan walimah hanya dengan menyembelih seekor kambing [HR. Bukhari-Muslim].&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain itu rumah tangga bak sebuah organisasi, perlu manajemen yang baik agar dapat berjalan lancar. Maka hendaknya bagi seseorang yang hendak menikah untuk membuat perencanaan matang bagi rumah tangganya kelak. Misalnya berkaitan dengan tempat tinggal, pekerjaan, dll.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pilihlah Dengan Baik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu’alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda : &lt;i&gt;“Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius : nikah, cerai dan ruju’ ”&lt;/i&gt; (Diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali Nasa’i). Salah satunya dikarenakan menikah berarti mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup tidak hanya untuk satu-dua hari saja bahkan seumur hidup insya Allah. Jika demikian, merupakan salah satu kemuliaan syariat Islam bahwa orang yang hendak menikah diperintahkan untuk berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kriteria yang paling utama adalah &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;agama yang baik&lt;/span&gt;. Setiap muslim atau muslimah yang ingin beruntung dunia akhirat hendaknya mengidam-idamkan sosok suami atau istri yang baik agamanya, ia memahami aqidah Islam yang benar, ia menegakkan shalat, senantiasa mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Sebagaimana Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; menganjurkan memilih istri yang baik agamanya &lt;i&gt;“Wanita dikawini karena empat hal : ……. hendaklah kamu pilih karena agamanya (ke-Islamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka”&lt;/i&gt;. [HR. Bukhari- Muslim]. Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; juga mengancam orang yang menolak lamaran dari seorang lelaki shalih &lt;i&gt;“Jika datang kepada kalian lelaki yang baik agamanya (untuk melamar), maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi”&lt;/i&gt; [HR. Tirmidzi, Ibnu Majah].&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain itu ada beberapa kriteria lainnya yang juga dapat menjadi pertimbangan untuk memilih calon istri atau suami:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Sebaiknya ia berasal dari keluarga yang baik nasabnya (bukan keluarga pezina atau ahli maksiat)&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Sebaiknya ia sekufu. Sekufu maksudnya tidak jauh berbeda kondisi agama, nasab dan kemerdekaan dan kekayaannya&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Gadis lebih diutamakan dari pada janda&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Subur (mampu menghasilkan keturunan)&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu’alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;i&gt;“Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan jika engkau pandang…” &lt;/i&gt;[HR. Thabrani]&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Hendaknya calon istri memahami wajibnya taat kepada suami dalam perkara yang ma’ruf&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Hendaknya calon istri adalah wanita yang mengaja auratnya dan menjaga dirinya dari lelaki non-mahram.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Shalat Istikharah Agar Lebih Mantap&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pentingnya urusan memilih calon pasangan, membuat seseorang layak untuk bersungguh-sungguh dalam hal ini. Selain melakukan usaha, jangan lupa bahwa hasil akhir dari segala usaha ada di tangan Allah &lt;i&gt;Azza Wa Jalla&lt;/i&gt;. Maka sepatutnya jangan meninggalkan doa kepada Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; agar dipilihkan calon pasangan yang baik. Dan salah satu doa yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan shalat Istikharah. Sebagaimana hadits dari Jabir &lt;i&gt;Radhiyallahu’anhu&lt;/i&gt;, ia berkata: “Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam &lt;/i&gt;mengajarkan kepada kami istikharah dalam segala perkara sebagaimana beliau mengajarkan Al Qur’an” [HR. Bukhari].&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Datangi Si Dia Untuk Nazhor Dan Khitbah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah pilihan telah dijatuhkan, maka langkah selanjutnya adalah Nazhor. Nazhor adalah memandang keadaan fisik wanita yang hendak dilamar, agar keadaan fisik tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk melanjutkan melamar wanita tersebut atau tidak. Terdapat banyak dalil bahwa Islam telah menetapkan adanya Nazhor bagi lelaki yang hendak menikahi seorang wanita. Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam &lt;/i&gt;bersabda: &lt;i&gt;“Jika salah seorang dari kalian meminang wanita, maka jika dia bisa melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah”&lt;/i&gt; [HR. Abu Dawud].&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun dalam nazhor disyaratkan beberapa hal yaitu, dilarang dilakukan dengan berduaan namun ditemani oleh mahrom dari sang wanita, kemudian dilarang melihat anggota tubuh yang diharamkan, namun hanya memandang sebatas yang dibolehkan seperti wajah, telapak tangan, atau tinggi badan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalil-dalil tentang adanya nazhor dalam Islam juga mengisyaratkan tentang terlarangnya pacaran dalam. Karena jika calon pengantin sudah melakukan pacaran, tentu tidak ada manfaatnya melakukan Nazhor.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah bulat keputusan maka hendaknya lelaki yang hendak menikah datang kepada wali dari sang wanita untuk melakukan khitbah atau melamar. Islam tidak mendefinisikan ritual atau acara khusus untuk melamar. Namun inti dari melamar adalah meminta persetujuan wali dari sang wanita untuk menikahkan kedua calon pasangan. Karena persetujuan wali dari calon wanita adalah kewajiban dan pernikahan tidak sah tanpanya. Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;i&gt;“Tidak sah suatu pernikahan kecuali dengan keberadaan wali”&lt;/i&gt; [HR. Tirmidzi]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Siapkan Mahar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal lain yang perlu dipersiapkan adalah mahar, atau disebut juga mas kawin. Mahar adalah pemberian seorang suami kepada istri yang disebabkan pernikahan. Memberikan mahar dalam pernikahan adalah suatu kewajiban sebagaimana firman Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; yang artinya: &lt;i&gt;“Maka berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban” &lt;/i&gt;[QS. An Nisa: 24]. Dan pada hakekatnya mahar adalah ‘hadiah’ untuk sang istri dan mahar merupakan hak istri yang tidak boleh diambil. Dan terdapat anjuran dari Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; untuk tidak terlalu berlebihan dalam mahar, agar pernikahannya berkah. Sebagaimana telah dibahas di atas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu semua dijalani akhirnya sampailah di hari bahagia yang ditunggu-tunggu yaitu hari pernikahan. Dan tali cinta antara dua insan pun diikat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Belum Sanggup Menikah?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikianlah uraian singkat mengenai kiat-kiat bagi seseorang yang hendak menapaki tangga pernikahan. Nah, lalu bagaimana kiat bagi yang sudah ingin menikah namun belum dimampukan oleh Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt;? Allah &lt;i&gt;Subhanahu Wa Ta’ala&lt;/i&gt; berfirman yang artinya: &lt;i&gt;“Orang-orang yang belum mampu menikah hendaknya menjaga kesucian diri mereka sampai Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya”&lt;/i&gt; [QS. An Nur: 33]. As Sa’di menjelaskan ayat ini: “Yaitu menjaga diri dari yang haram dan menempuh segala sebab yang dapat menjauhkan diri keharaman, yaitu hal-hal yang dapat memalingkan gejolak hati terhadap hal yang haram berupa angan-angan yang dapat dikhawatirkan dapat menjerumuskan dalam keharaman” [&lt;i&gt;Tafsir As Sa’di&lt;/i&gt;]. Intinya, Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; memerintahkan orang yang belum mampu untuk menikah untuk bersabar sampai ia mampu kelak. Dan karena dorongan untuk menikah sudah bergejolak mereka diperintahkan untuk menjaga diri agar gejolak tersebut tidak membawa mereka untuk melakukan hal-hal yang diharamkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; juga menyarakan kepada orang yang belum mampu untuk menikah untuk banyak berpuasa, karena puasa dapat menjadi tameng dari godaan untuk bermaksiat [HR. Bukhari-Muslim]. Selama masih belum mampu untuk menikah hendaknya ia menyibukkan diri pada hal yang bermanfaat. Karena jika ia lengah sejenak saja dari hal yang bermanfaat, lubang kemaksiatan siap menjerumuskannya. Ibnul Qayyim Al Jauziyah memiliki ucapan emas: “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” (&lt;i&gt;Al Jawabul Kaafi Liman Sa’ala ‘An Ad Dawa Asy Syafi&lt;/i&gt;, hal. 109). Kemudian senantiasa berdoa agar Allah memberikan kemampuan untuk segera menikah. &lt;i&gt;Wallahul Musta’an&lt;/i&gt;. [Yulian Purnama]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diambil dari : Buletin &lt;a href="http://buletin.muslim.or.id/at-tauhid-tahun-v/kiat-kiat-menuju-pelaminan"&gt;At-Tauhid &lt;/a&gt;Edisi V/20 &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-71006919332318875?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/71006919332318875/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/kiat-kiat-menuju-pelaminan_7839.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/71006919332318875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/71006919332318875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/kiat-kiat-menuju-pelaminan_7839.html' title='Kiat-Kiat Menuju Pelaminan'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-6946025190987379711</id><published>2009-11-26T15:31:00.001+07:00</published><updated>2009-11-30T08:27:40.297+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Audio'/><title type='text'>Kajian Nikah A - Z</title><content type='html'>Tema : Nikah A - Z&lt;br /&gt;Pemateri : Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Latif Yusuf&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ia310805.us.archive.org/2/items/Audio_1725/NikahA-Z1KriteriaCalon.mp3"&gt;KriteriaCalon&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ia310805.us.archive.org/2/items/Audio_1725/NikahA-Z2ProsesNikah.mp3"&gt;ProsesNikah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ia310805.us.archive.org/2/items/Audio_1725/NikahA-Z3TanyaJawab.mp3"&gt;TanyaJawab&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ia310805.us.archive.org/2/items/Audio_1725/NikahA-Z4AkadMaharSyaratWalimah.mp3"&gt;AkadMaharSyaratWalimah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ia310805.us.archive.org/2/items/Audio_1725/NikahA-Z5AdabuzZifafTanyaJawab.mp3"&gt;AdabuzZifafTanyaJawab&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ia310805.us.archive.org/2/items/Audio_1725/NikahA-Z6HakSuamiIstriNikahYgHaram.mp3"&gt;HakSuamiIstriNikahYgHaram&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ia310805.us.archive.org/2/items/Audio_1725/NikahA-Z7TholaqTanya.mp3"&gt;TholaqTanya&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-6946025190987379711?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/6946025190987379711/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/kajian-nikah-z_26.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/6946025190987379711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/6946025190987379711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/kajian-nikah-z_26.html' title='Kajian Nikah A - Z'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-8385619698884993455</id><published>2009-11-26T15:19:00.003+07:00</published><updated>2009-11-26T15:20:52.419+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><title type='text'>Pernikahan Adalah Fitrah Bagi Manusia</title><content type='html'>Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam adalah agama fitrah, dan manusia diciptakan Allah ‘Azza wa Jalla sesuai dengan fitrah ini. Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla menyuruh manusia untuk menghadapkan diri mereka ke agama fitrah agar tidak terjadi penyelewengan dan penyimpangan sehingga manusia tetap berjalan di atas fitrahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan adalah fitrah manusia, maka dari itu Islam menganjurkan untuk menikah karena nikah merupakan gharizah insaniyyah (naluri kemanusiaan). Apabila gharizah (naluri) ini tidak dipenuhi dengan jalan yang sah, yaitu pernikahan, maka ia akan mencari jalan-jalan syaitan yang menjerumuskan manusia ke lembah hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah ‘Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), (sesuai) fitrah Allah, disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Ar-Ruum (30): 30]&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;A. Definisi Nikah&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;An-Nikaah menurut bahasa Arab berarti adh-dhamm (menghimpun). Kata ini dimutlakkan untuk akad atau persetubuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun menurut syari’at, Ibnu Qudamah rahima-hullaah berkata, “Nikah menurut syari’at adalah akad perkawinan. Ketika kata nikah diucapkan secara mutlak, maka kata itu bermakna demikian selagi tidak ada satu pun dalil yang memalingkan darinya.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Al-Mughni ma’a Syarhil Kabiir (IX/1130)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qadhi rahimahullaah mengatakan, “Yang paling sesuai dengan prinsip kami bahwa pernikahan pada hakikatnya berkenaan dengan akad dan persetubuhan sekaligus. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan yang telah dinikahi oleh ayahmu, kecuali (kejadian pada masa) yang telah lampau. Sungguh, perbuatan itu sangat keji dan dibenci (oleh Allah) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).” [An-Nisaa' (4): 22]&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Al-Mughni ma’a Syarhil Kabiir (IX/113). Lihat ‘Isyratun Nisaa' minal Aliif ilal Yaa (hal. 12) dan al-Jaami' liahkaamin Nisaa' (III/7)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Islam Menganjurkan Nikah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu berkata: “Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh imannya. Dan hendaklah ia bertaqwa ke-pada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi."&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (no. 7643, 8789). Syaikh al-Albani rahimahullaah menghasankan hadits ini, lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 625)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lafazh yang lain disebutkan, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang dikaruniai oleh Allah dengan wanita (isteri) yang shalihah, maka sungguh Allah telah membantunya untuk melaksanakan separuh agamanya. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam menjaga separuhnya lagi.” &lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits hasan lighairihi: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (no. 976) dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (II/161) dan dishahihkan olehnya, juga disetujui oleh adz-Dzahabi. Lihat Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (II/404, no. 1916)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;C. Islam Tidak Menyukai Hidup Membujang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintah-kan untuk menikah dan melarang keras kepada orang yang tidak mau menikah. Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk menikah dan melarang membujang dengan larangan yang keras.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"“Nikahilah wanita yang subur dan penyayang. Karena aku akan berbangga dengan banyaknya ummatku di hadapan para Nabi pada hari Kiamat.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih lighairihi: Diriwayatkan oleh Ahmad (III/158, 245), Ibnu Hibban dalam Shahihnya (no. 4017, Ta’liiqatul Hisaan ‘ala Shahiih Ibni Hibban) dan Mawaariduzh Zham’aan (no. 1228), ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (no. 5095), Sa’id bin Manshur dalam Sunannya (no. 490) dan al-Baihaqi (VII/81-82) dan adh-Dhiyaa' dalam al-Ahaadiits al-Mukhtarah (no. 1888, 1889, 1890), dari Sha-habat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini ada syawahid (penguat)nya dari Shahabat Ma’qil bin Yasar radhiyallaahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2050), an-Nasa-i (VI/65-66), al-Baihaqi (VII/81), al-Hakim (II/ 162) dan dishahihkan olehnya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 1784)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika tiga orang Shahabat radhiyallaahu ‘anhum datang bertanya kepada isteri-isteri Nabi shal-lallaahu ‘alaihi wa sallam tentang peribadahan beliau. Kemudian setelah diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan ibadah mereka. Salah seorang dari mereka berkata: “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa sepanjang masa tanpa putus.” Shahabat yang lain berkata: “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.” Yang lain berkata, “Sungguh saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan nikah selama-lamanya... dst” Ketika hal itu didengar oleh Nabi shal-lallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau keluar seraya bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku pun tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyu-kai Sunnahku, ia tidak termasuk golonganku.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5063), Muslim (no. 1401), Ahmad (III/241, 259, 285), an-Nasa-i (VI/60) dan al-Baihaqi (VII/77) dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu]&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Dan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang enggan melaksanakan sunnahku, maka ia bukan dari golonganku. Menikahlah kalian! Karena sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan seluruh ummat. Barang-siapa memiliki kemampuan (untuk menikah), maka menikahlah. Dan barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai baginya (dari berbagai syahwat).”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih lighairihi: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1846) dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 2383)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; Juga sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menikahlah, karena sungguh aku akan membang-gakan jumlah kalian kepada ummat-ummat lainnya pada hari Kiamat. Dan janganlah kalian menyerupai para pendeta Nasrani.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh al-Baihaqi (VII/78) dari Shahabat Abu Umamah radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini memiliki beberapa syawahid (penguat). Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1782)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mempunyai akal dan bashirah tidak akan mau menjerumuskan dirinya ke jalan kesesatan dengan hidup membujang. Sesungguhnya, hidup mem-bujang adalah suatu kehidupan yang kering dan gersang, hidup yang tidak memiliki makna dan tujuan. Suatu kehidupan yang hampa dari berbagai keutamaan insani yang pada umumnya ditegakkan atas dasar egoisme dan mementingkan diri sendiri serta ingin terlepas dari semua tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang membujang pada umumnya hanya hidup untuk dirinya sendiri. Mereka membujang bersama hawa nafsu yang selalu bergelora hingga kemurnian semangat dan rohaninya menjadi keruh. Diri-diri mereka selalu berada dalam pergolakan melawan fitrahnya. Kendati pun ketaqwaan mereka dapat diandalkan, namun pergolakan yang terjadi secara terus menerus lambat laun akan melemahkan iman dan ketahanan jiwa serta mengganggu kesehatan dan akan membawanya ke lembah kenistaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi orang yang enggan menikah, baik itu laki-laki atau wanita, mereka sebenarnya tergolong orang yang paling sengsara dalam hidup ini. Mereka adalah orang yang paling tidak menikmati kebahagiaan hidup, baik kesenangan bersifat biologis maupun spiritual. Bisa jadi mereka bergelimang dengan harta, namun mereka miskin dari karunia Allah ‘Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menolak sistem kerahiban (kependetaan) karena sistem tersebut bertentangan dengan fitrah manusia. Bahkan, sikap itu berarti melawan Sunnah dan kodrat Allah ‘Azza wa Jalla yang telah ditetapkan bagi makhluk-Nya. Sikap enggan membina rumah tangga karena takut miskin adalah sikap orang yang jahil (bodoh). Karena, seluruh rizki telah diatur oleh Allah Ta’ala sejak manusia berada di alam rahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia tidak akan mampu menteorikan rizki yang dikaruniakan Allah ‘Azza wa Jalla, misalnya ia mengatakan: “Jika saya hidup sendiri gaji saya cukup, akan tetapi kalau nanti punya isteri gaji saya tidak akan cukup!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan ini adalah perkataan yang bathil, karena bertentangan dengan Al-Qur'anul Karim dan hadits-hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan untuk menikah, dan seandainya mereka fakir niscaya Allah ‘Azza wa Jalla akan membantu dengan memberi rizki kepadanya. Allah ‘Azza wa Jalla menjanjikan suatu pertolongan kepada orang yang menikah, dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” [An-Nuur (24): 32]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menguatkan janji Allah ‘Azza wa Jalla tersebut melalui sabda beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada tiga golongan manusia yang berhak mendapat pertolongan Allah: (1) mujahid fi sabilillah (orang yang berjihad di jalan Allah), (2) budak yang menebus dirinya supaya merdeka, dan (3) orang yang menikah karena ingin memelihara kehor-matannya.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (II/251, 437), an-Nasa'i (VI/61), at-Tirmidzi (no. 1655), Ibnu Majah (no. 2518), Ibnul Jarud (no. 979), Ibnu Hibban (no. 4030, at-Ta’liiqatul Hisaan no. 4029) dan al-Hakim (II/160, 161), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan.”]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Salafush Shalih sangat menganjurkan untuk menikah dan mereka benci membujang, serta tidak suka berlama-lama hidup sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu pernah berkata, “Seandainya aku tahu bahwa ajalku tinggal sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah. Aku ingin pada malam-malam yang tersisa bersama seorang isteri yang tidak berpisah dariku.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Lihat Mushannaf ‘Abdurrazzaq (VI/170, no. 10382), Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (VI/7, no. 16144) dan Majma’uz Zawaa'id (IV/251)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Ibnu ‘Abbas bertanya kepadaku, ‘Apakah engkau sudah menikah?’ Aku menjawab, ‘Belum.’ Beliau kembali berkata, ‘Nikahlah, karena sesungguhnya sebaik-baik ummat ini adalah yang banyak isterinya.’”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Sanadnya shahih: Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 5069) dan al-Hakim (II/160)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim bin Maisarah berkata, “Thawus berkata kepadaku, ‘Engkau benar-benar menikah atau aku mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan ‘Umar kepada Abu Zawaid: Tidak ada yang menghalangimu untuk menikah kecuali kelemahan atau kejahatan (banyak-nya dosa)."&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq (VI/170, no. 10384), Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (VI/6, no. 16142), Siyar A’lamin Nubala (V/48)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thawus juga berkata, “Tidak sempurna ibadah seorang pemuda sampai ia menikah.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (VI/7, no. 16143) dan Siyar A’lamin Nubala’ (V/47)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-8385619698884993455?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/8385619698884993455/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/pernikahan-adalah-fitrah-bagi-manusia_26.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/8385619698884993455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/8385619698884993455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/pernikahan-adalah-fitrah-bagi-manusia_26.html' title='Pernikahan Adalah Fitrah Bagi Manusia'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-7129910456007606431</id><published>2009-11-26T15:17:00.001+07:00</published><updated>2009-11-30T08:27:40.298+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Audio'/><title type='text'>Kajian Indahnya Pernikahan</title><content type='html'>Tema : Indahnya Pernikahan&lt;br /&gt;Pemateri : Ustadz Abdul Hakim Bin Amir Abdat&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ia331428.us.archive.org/3/items/Pernikahan/Indahnya_Pernikahan_01_-_Ustadz_Abdul_Hakim_Bin_Umar_Abdat.mp3"&gt;IndahnyaPernikahan01&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ia331428.us.archive.org/3/items/Pernikahan/Indahnya_Pernikahan_02_-_Ustadz_Abdul_Hakim_Bin_Umar_Abdat.mp3"&gt;IndahnyaPernikahan02&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-7129910456007606431?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/7129910456007606431/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/kajian-indahnya-pernikahan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/7129910456007606431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/7129910456007606431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/kajian-indahnya-pernikahan.html' title='Kajian Indahnya Pernikahan'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-1611646880879792496</id><published>2009-11-26T14:58:00.004+07:00</published><updated>2009-11-26T15:27:44.902+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><title type='text'>Sungguh Indah, Bila Pernikahan Dihias dengan Sunnah...</title><content type='html'>Oleh : Al Ustadz Abu Abdillah Ad Dariniy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillaah… wash sholaatu wassalaamu alaa Rosulillaah… wa alaa aalihii washohbihii wa man waalaah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini ringkasan kitab Adab Zifaf (Etika Pernikahan), Karya Syeikh Albani rohimahulloh… Semoga bermanfaat bagi para pembaca, khususnya yang bersiap akan melangsungkan pernikahan dan mengakhiri masa lajangnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hendaklah dua sejoli yang akan merajut tali suci nikah, meniatkannya untuk membersihkan jiwanya dan menjaga dirinya dari apa yang diharamkan Alloh, karena dengan begitu pergaulan keduanya dicatat sebagai sedekah, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- “Pada kemaluan salah seorang diantara kalian ada sedekah”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rosululloh, apa dengan memuaskan syahwat, orang bisa menuai pahala?!” . Beliau menjawab: “Bukankah ia akan berdosa jika menaruhnya pada hal yang harom?! Begitu pula sebaliknya, ia akan mendapat pahala jika menaruhnya pada hal yang halal” (HR. Muslim: 1006).&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;2. Saat pertama kali bertemu atau hendak berhubungan, hendaknya suami meletakkan tangannya pada permulaan kepala istrinya, seraya membaca basmalah, doa untuk keberkahannya (misalnya dengan mengucapkan: “اللَّهُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْها، وَبَارِكْ لَهَا فِيَّ” = ya Alloh berkahilah dia untukku, dan berkahilah aku untuknya), dan doa berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyebut nama Alloh… Ya Alloh sungguh aku mohon padamu kebaikan wanita ini, dan kebaikan tabiatnya. Dan aku memohon perlindungan-Mu dari keburukannya dan keburukan tabiatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana sabda Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-: “Jika kalian telah menikahi wanita atau membeli budak, maka peganglah bagian depan kepalanya, ucapkanlah basmalah, berdoalah untuk keberkahannya, dan hendaklah ia mengucapkan… (yakni doa di atas)”. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan yang lainnya, sanadnya hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sholat sunat dua rekaat bersamanya, ketika hendak melakukan hubungan pertamanya, kemudian berdoa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْ أَهْلِيْ، وَبَارِكْ ِلأَهْلِيْ فِيَّ، اللَّهُمَّ ارْزُقْهُمْ مِنِّيْ، وَارْزُقْنِيْ مِنْهُمْ، اللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ فِيْ خَيْرٍ، وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ فِيْ خَيْرٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Alloh, berilah aku berkah dari istriku, (begitu pula sebaliknya) berilah istriku berkah dariku. Ya Alloh, berilah mereka rizki dariku, (begitu pula sebaliknya) berilah aku rizki dari mereka. Ya Alloh, kumpulkanlah kami jika itu baik bagi kami, dan pisahkanlah kami jika itu baik bagi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini disunnahkan karena para salaf dulu melakukannya, diantara mereka adalah: Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, Hudzaifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaqiq bin Salamah mengatakan: Suatu hari datang lelaki, namanya: Abu Huraiz, ia mengatakan: “Aku telah menikahi wanita muda dan perawan, tapi aku khawatir ia akan membuatku cekcok”, maka Abdulloh bin Mas’ud mengatakan: “Sesungguhnya kerukunan itu dari Alloh, sedang percekcokan itu dari setan, ia ingin membuatmu benci dengan apa yang Alloh halalkan bagimu. Jika kamu nanti menemuinya, maka suruh istrimu sholat dua rokaat dibelakangmu dan bacalah… (yakni doa di atas)!”  (HR. Abu Bakar ibnu Abi Syaibah dan Thobaroni, sanadnya shohih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bermesraan dengan istri sebelum berhubungan, misalnya dengan menyuguhkan minuman atau yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Asma’ binti Yazid, ia menceritakan: “(Ketika malam pertamanya Aisyah) aku meriasnya untuk Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, lalu aku panggil beliau agar melihat Aisyah yang sudah terias, dan beliau pun duduk di sampingnya. Kemudian disuguhkan kepada beliau gelas besar berisi susu, maka beliau meminumnya (sebagian), lalu memberikannya kepada Aisyah, tapi ia malah menundukkan kepalanya karena malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asma: Aku pun menegurnya dan ku katakan padanya: “Ambillah (gelas itu) dari tangan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-!”. Maka ia pun mau mengambil dan meminum sebagiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Nabi -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan padanya: “Berikanlah (sisanya) kepada teman wanitamu (yakni Asma’)!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asma: Aku pun balas mengatakan: “Wahai Rosululloh, ambil saja dulu, lalu minumlah, setelah itu baru kau berikan padaku!” Maka beliau pun mengambilnya, meminum, dan selanjutnya memberikannya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asma: Lalu aku duduk, dan ku letakkan gelas itu di atas lututku, kemudian mulai ku putar gelas itu sambil kutempelkan mulutku padanya, agar aku bisa mengenai bekas tempat minumnya Nabi -shollallohu alaihi wasallam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kepada para wanita yang berada di sekitarku, beliau mengatakan: “Berikanlah (wahai Asma’) kepada mereka!”. (Karena sungkan) mereka menjawab: “Kami tidak menyenanginya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka beliau mengatakan: “Jangan kalian satukan antara lapar dan bohong!”. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dengan dua sanad yang saling menguatkan, lihat Al-Musnad: 27044 dan 26925)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Hendaklah ia berdoa ketika menggaulinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nama Alloh… Ya Alloh jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari anak yang engkau karuniakan pada kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “(Dengan doa itu) apabila Alloh berkehendak memberikan anak, niscaya setan takkan mampu membahayakan anaknya selamanya”. (HR. Bukhori:141, dan Muslim:1434)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Boleh bagi suami menggauli istrinya di vagina-nya dari arah manapun ia kehendaki, baik dari depan atau belakang. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya): “Istri-istri kalian adalah ladang bagi kalian, maka datangilah ladang kalian itu dari mana saja kalian kehendaki!” (Al-Baqoroh: 223).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Haram bagi suami menggauli istrinya di dubur-nya, dan itu termasuk dosa besar, karena sabda Rosul -shollallohu alaihi wasallam-: “Terlaknat orang yang menggauli para wanita di dubur-nya (yakni lubang anus)”. (HR. Ibnu Adi, sanadnya hasan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Masyhur mengatakan: “Adapun orang yang menggauli istrinya di duburnya, maka ia telah melakukan tindakan yang melanggar syariat, baik asalnya maupun sifatnya, sehingga ia wajib bertaubat kepada Alloh, dan tidak ada kaffarot (tebusan) baginya kecuali bertaubat kepada Alloh azza wajall“. (Fatawa Syeikh Masyhur, hal. 11, Asy-Syamilah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Berwudhu antara dua sesi berhubungan, dan lebih afdholnya mandi. Sebagaimana Sabda Rosul -shollallohu alaihi wasallam-: “Jika salah seorang dari kalian selesai menggauli istrinya, dan ingin nambah lagi, maka hendaklah ia wudhu, karena itu lebih menggiatkannya untuk melakukannya lagi”. (HR. Muslim:308, dan Abu Nuaim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandi lebih afdhol, karena hadits riwayat Abu Rofi’: “Suatu hari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- keliling mendatangi istri-istrinya, beliau mandi di istrinya yang ini, dan mandi lagi di istrinya yang ini. Lalu aku menanyakan hal itu ke beliau: “Wahai Rosululloh, mengapa tidak mandi sekali saja?”. Beliau menjawab: “Karena (mandi berkali-kali) itu, lebih bersih, lebih baik, dan lebih suci”. (HR. Abu Dawud dan yang lainnya, sanadnya hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Suami istri dibolehkan mandi bersama di satu tempat, meski saling melihat aurat masing-masing. Ada banyak hadits menerangkan hal ini, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah mengatakan: “Aku pernah mandi bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dari satu tempat air, tangan kami saling berebut, dan beliau mendahuluiku, hingga aku mengatakan: “Biarkan itu untukku, biarkan itu untukku!”, ketika itu kami berdua sedang junub. (HR. Muslim: 321)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Usai berhubungan hendaklah wudhu sebelum tidur, dan lebih afdholnya mandi. Karena hadits riwayat Abdulloh bin Qois, ia mengatakan: Aku pernah menanyakan ke Aisyah: “Bagaimana Nabi -shollohu alaihi wasallam- dulu ketika junub, apa mandi sebelum tidur, atau sebaliknya tidur sebelum mandi?”. Ia menjawab: “Semuanya pernah beliau lakukan, kadang beliau mandi lalu tidur, dan kadang beliau wudhu lalu tidur”. Aku menimpali: “Segala puji bagi Alloh yang telah menjadikan perkara ini mudah”. (HR. Muslim: 307)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Jika istri sedang haid, suami tetap boleh melakukan apa saja dengannya, kecuali jima’. Sebagaimana sabda beliau: “Lakukan apa saja (dengan istri kalian) kecuali jima’“. (HR. Muslim: 302)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaffarot (tebusan) bagi orang yang menjima’ istrinya ketika haid, diterangkan dalam hadits riwayat Ibnu Abbas: Nabi -shollallohu alaihi wasallam- pernah ditanya tentang suami yang mendatangi istrinya ketika haid, maka beliau menjawab: “Hendaklah ia bersedekah dengan satu dinar atau setengah dinar!”. (HR. Abu Dawud dan yang lainnya, sanadnya shohih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Masyhur mengatakan: “Yang dimaksud dengan dinar di hadits itu adalah dinar emas, dan 1dinar emas itu sama dengan 1mitsqol, sedang 1mitsqol itu sama dengan 4,24 gram emas murni”. (Fatawa Syeikh Masyhur, hal 11, Asy-Syamilah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. ‘Azl (mengeluarkan sperma di luar vagina) dibolehkan, meski lebih baik ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena perkataan Jabir r.a.: “Dulu kami (para sahabat) melakukan ‘azl, di saat Alqur’an masih turun”. (HR. Bukhori:5209, dan Muslim:1440). Dalam riwayat lain dengan redaksi: “Kami (para sahabat) dulu melakukan ‘azl di masa Rosul -shollallohu alaihi wasallam- (masih hidup), lalu kabar itu sampai kepada beliau, tapi beliau tidak melarang kami”. (HR. Muslim:1440)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, lebih baik meninggalkannya sebagaimana sabda beliau -shollalloh alaihi wasallam-: “Azl itu pembunuhan yang samar”. (HR. Muslim, 1442).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Setelah malam pertama menggauli istrinya, disunnahkan pada pagi harinya untuk silaturahim mengunjungi para kerabatnya yang sebelumnya telah datang ke rumahnya, mengucapkan salam kepada mereka, mendoakan mereka, dan membalas kebaikan mereka dengan yang setimpal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diterangkan dalam hadits riwayat Anas, ia mengatakan: “Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pernah mengadakan walimah saat malam pertama beliau menggauli Zainab. Beliau mengenyangkan kaum muslimin dengan roti dan daging, lalu keluar mengunjungi para ibunda mukminin (isteri-isteri beliau yang lain), untuk mengucapkan salam dan mendoakan mereka, sebaliknya mereka juga memberikan salam dan mendoakan beliau. Beliau melakukan hal itu, pada pagi hari setelah malam pertamanya”. (HR. Bukhori: 4794).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Keduanya wajib menggunakan kamar mandi yang ada di rumahnya, dan tidak boleh masuk kamar mandi umum, berdasarkan hadits Jabir, Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa beriman pada Alloh dan hari akhir, maka jangan memasukkan istrinya di kamar mandi umum!”. (HR. Tirmidzi: 2801, sanadnya hasan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga hadits riwayat Ummu Darda’, ia mengatakan: Suatu hari, aku keluar dari kamar mandi umum, lalu Rosul -shollallohu alaihi wasallam- berpapasan denganku, beliau bertanya: “Wahai Ummu Darda’, dari mana?”. Ummu Darda’ menjawab: “Dari kamar mandi umum”. Maka beliau mengatakan: “Sungguh, demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah seorang wanita menanggalkan pakaiannya di selain rumah salah satu ibunya, melainkan ia telah merusak tabir yang ada antara dia dan Tuhannya yang maha penyayang”. (HR. Ahmad, sanadnya shohih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Kedua pasangan diharamkan menyebarkan rahasia kehidupan ranjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana sabda beliau: “Sungguh, orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Alloh pada hari kiamat nanti, adalah orang yang membuka (aurat) istrinya dan istrinya membuka (aurat)nya, lalu ia menyebarkannya”. (HR. Muslim:1437).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi mengatakan: “Hadits ini menunjukkan haramnya menyebarkan cerita hubungan suami istri, dan merinci apa yang terjadi pada istrinya, seperti ucapan, perbuatan dan semisalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sekedar menyebutkan jima’ (secara global) tanpa ada manfaat dan tujuan, maka hukumnya makruh, karena itu tidak sesuai dengan muru’ah (akhlak), padahal beliau -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda: “Barangsiapa beriman pada Alloh dan hari akhir, maka katakanlah yang baik atau (jika tidak), maka hendaklah ia diam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika ia menyebutkan hal itu, karena adanya tujuan dan manfaat, seperti mengingkari ketidak-sukaannya pada istrinya, atau istrinya menuduh suaminya impoten, atau semisalnya, maka itu tidak makruh, sebagaimana ucapan beliau -shollallohu alaihi wasallam-: “Sungguh aku akan melakukannya, aku dan istriku ini” (HR. Muslim: 350), begitu pula pertanyaan beliau kepada Abu Tholhah: “Apa malam tadi, kalian telah menjalani malam pertama?” (HR. Bukhori:5470, dan Muslim:2144), dan pesan beliau kepada Jabir: “Semangat dan semangatlah” (HR. Bukhori:2097, dan Muslim:715), wallohu a’lam. (lihat Syarah Shohih Muslm: 1437).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Mengadakan walimah (resepsi) wajib hukumnya setelah menjima’ istri, dengan dasar hadits Buraidah bin Hushoib, bahwa ketika Ali menikahi Fatimah, beliau mengatakan: “Pernikahan itu harus ada walimahnya”. (HR. Ahmad:22526, sanadnya la ba’sa bih). Juga sabda beliau kepada Abdur Rohman bin Auf: “Adakanlah walimah, walau hanya dengan (menyembelih) seekor kambing!”. (HR. Bukhori:2048, dan Muslim:1427).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Beberapa sunnah (tuntunan) dalam walimah, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Hendaknya diadakan selama tiga hari, setelah menjima’ istri. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Anas, ia mengatakan: “Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dulu menikahi shofiyah, beliau menjadikan anugerah kemerdekaannya sebagai maharnya, dan menjadikan walimah berlangsung tiga hari”. (HR. Abu Ya’la, sanadnya hasan)&lt;br /&gt;* Hendaknya mengundang para sholihin, baik yang kaya maupun yang miskin. Sebagaimana sabda beliau: “Janganlah berteman kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah menyantap makananmu kecuali orang yang bertakwa!”. (HR. Abu Dawud: 4832, Tirmidzi:2395, dan yang lainnya, sanadnya hasan)&lt;br /&gt;* Hendaklah menyembelih lebih dari satu kambing jika mampu. Sebagaimana sabda beliau: “Adakanlah walimah, walau hanya dengan (menyembelih) seekor kambing!”. (HR. Bukhori:2048, dan Muslim:1427).&lt;br /&gt;* Dianjurkan dalam pengadaan walimah, agar dibantu orang kaya dan lebih harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Anas, yang menceritakan kisah menikahnya Rosul -shollallohu alaihi wasallam- dengan Shofiyah, Anas berkata: “…Hingga ketika beliau di tengah perjalanan pulang, Ummu Sulaim mempersiapkan Shofiyah dan menyerahkannya kepada beliau pada malamnya, hingga paginya beliau berstatus arus (pengantin baru). Lalu beliau mengatakan: “Barangsiapa punya sesuatu, maka hendaklah ia bawa kemari!” (dalam riwayat lain redaksinya: “Barangsiapa punya makanan lebih, maka hendaklah dia mendatangkannya kepada kami”… Anas berkata: “Beliau pun menggelar karpet kulitnya, maka mulailah ada orang yang datang dengan keju, ada yang datang dengan kurma, ada juga yang datang dengan lemak, hingga bisa mereka jadikan hais. Kemudian mereka memakannya dan meminum air dari tadahan hujan yang ada di dekat mereka. Begitulah pelaksanaan walimahnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-. (HR. Ahmad:11581, Bukhori:371, dan Muslim:1365)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tidak boleh hanya mengundang yang kaya, dan tidak menyertakan yang miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana sabda beliau: “Seburuk-buruk makanan adalah hidangan walimah yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang kaya, sedang orang-orang miskin dilarang untuk mendatanginya” (HR. Bukhori:5177, dan Muslim:1432).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Wajib bagi yang diundang untuk menghadirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana sabda beliau: “Jika salah seorang dari kalian diundang walimah, maka hendaklah ia menghadirinya!”. (HR. Bukhori:5173, dan Muslim:1429). Juga sabdanya: “Jika salah seorang dari kalian diundang, maka hendaklah ia mengharinya, baik itu acara walimah atau pun acara lainnya!”. (HR. Muslim:1429). Juga sabdanya: “Barangsiapa tidak menghadiri udangan, berarti ia telah bermaksiat kepada Alloh dan Rosul-Nya”. (HR. Bukhori:5177, dan Muslim:1432).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jika yang diundang tidak puasa, maka hendaklah ia memakan hidangan yang ada. Sedang jika ia puasa, maka hendaklah ia tetap hadir dan mendoakan yang mengundangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana sabda beliau: “Jika yang diundang itu tidak puasa, maka makanlah (hidangan yang ada)! Sedang jika ia puasa, maka berdoalah untuknya!” (HR. Abu Dawud:3736, sanadnya shohih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jika yang diundang sedang puasa sunat, ia boleh membatalkan puasanya untuk makan hidangan walimah, sebagaimana diceritakan oleh Abu Sa’id Al-Khudri: Aku pernah membuatkan hidangan untuk Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, lalu beliau dan para sahabatnya mendatangi undanganku. Ketika hidangan disajikan, ada salah seorang berseloroh: “Aku sedang berpuasa”. Maka Rosul -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan: “Saudara kalian ini telah mengundang dan mengeluarkan biaya untuk kalian”, lalu beliau mengatakan padanya: “Batalkanlah puasamu, dan qodho’lah di hari lain jika kau menghendakinya!”. (HR. Al-Baihaqi di Sunan Kubro: 8622, sanadnya hasan).&lt;br /&gt;* Tidak boleh menghadiri undangan walimah, jika ada maksiatnya, kecuali bila bermaksud mengingkarinya dan berusaha menghilangkan kemaksiatan itu. Jika maksiatnya bisa hilang, (alhamdulillah), tapi bila tidak, ia harus pulang meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kisah sahabat Ali berikut: Aku pernah membuat makanan, lalu ku undang Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, beliau pun datang. Tapi ketika melihat ada gambar-gambar di rumah, beliau langsung kembali. Aku bertanya: “Wahai Rosululloh, -bapak dan ibuku kurelakan untuk menebusmu- apa yang membuatmu pulang lagi?”. Beliau menjawab: “Karena di rumah itu, ada banyak gambar, padahal para malaikat tidak sudi masuk rumah yang ada gambar-gambarnya!”. (HR. Ibnu Majah dan Abu Ya’la, sanadnya shohih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Untuk yang diundang disunatkan melakukan dua hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mendoakan orang yang mengadakan walimah, setelah selesai. Sebagaimana diceritakan oleh Abdulloh bin Busr, bahwa bapaknya pernah membuatkan makanan untuk Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan mengundangnya, maka beliau pun datang. Selesai makan, beliau mendoakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي مَا رَزَقْتَهُمْ وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Alloh, berkahilah rizki yang kau berikan pada mereka, serta ampuni dan rahmatilah mereka. (HR. Ibnu Abi syaibah, Muslim, dan yang lainnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mendoakan kedua mempelai dengan kebaikan dan keberkahan. Ada banyak hadits menerangkan hal ini, diantaranya:&lt;br /&gt;1. Doa beliau kepada jabir: “بَارَكَ اللهُ لَكَ” (semoga Alloh memberkahimu), atau mengatakan kepadanya “خَيْرًا” (semoga engkau diberi limpahan kebaikan). (HR. Bukhori:5367, dan Muslim:715).&lt;br /&gt;2. Doa beliau kepada Ali: “اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِمَا, وَبَارِكْ لَهُمَا فِيْ بِنَائِهِمَا” (Ya Alloh, berkahilah keduanya, dan berkahilah hubungan keduanya). (HR. Ibnu Sa’d dan Thobaroni di Mu’jam Kabir, sanadnya hasan).&lt;br /&gt;3. Doa kaum wanita Anshor kepada Aisyah: “عَلَى الْخَيْرِ وَالْبَرَكَةِ, وَعَلَى خَيْرِ طَائِرٍ” (selamat atas kebaikan, keberkahan, dan keberuntungan yang besar). (HR. Bukhori:3894, dan Muslim:1422)&lt;br /&gt;4. Dari Abu Huroiroh: bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- jika mendoakan orang yang menikah mengatakan: “بَارَكَ اللهُ لَكَ, وَبَارَكَ عَلَيْكَ, وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ” (semoga Alloh memberikan keberkahan padamu, menurunkannya atasmu, dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan). (HR. Abu Dawud:2130, Tirmidzi:1091 dan yang lainnya, sanadnya shohih sesuai kriteria Imam Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Boleh bagi pengantin wanita melayani tamu laki-laki, jika tidak menimbulkan fitnah dan mengenakan hijab syar’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana hadits Sahl bin Sa’d, ia mengatakan: Ketika Abu Usaid telah mengumpuli istrinya, ia mengundang Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan para sahabatnya, maka tidak ada yang membuat dan menyodorkan hidangan, melainkan istrinya, Ummu Usaid… Pada hari itu, istrinya -yang pengantin baru itulah- yang melayani tamu laki-laki. (HR. Bukhori:5176, dan Muslim:2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Boleh juga mengijinkan para wanita untuk mengumumkan pernikahan dengan menabuh duff (rebana) saja, dan melantunkan nyanyian yang dibolehkan (asal baitnya tidak bercerita kecantikan dan kata-kata kotor).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rubayyi’ binti Mu’awwidz mengatakan: Nabi -shollallohu alaihi wasallam- pernah menemuiku di pagi hari malam pertamaku, lalu beliau duduk di atas ranjangku seperti posisimu denganku (sekarang ini), di saat itu ada banyak anak kecil wanita menabuh duff, mengenang bapak-bapak mereka yang gugur di perang badr, hingga salah seorang anak wanita itu ada yang mengatakan: “Di sisi kita ada Nabi yang tahu hari esok”. Maka Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menegurnya: “Jangan berkata seperti itu, tapi katakanlah apa yang kau ucapkan sebelumnya”. (HR. Bukhori:4001)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Hendaklah berusaha meninggalkan hal yang dilarang syariat, terutama ketika acara pernikahan, misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Memajang gambar yang bernyawa di dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Sungguh, rumah yang ada gambarnya tidak dimasuki para malaikat “. (HR. Bukhori: 2105, dan Muslim: 2107)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah mengatakan: Rosul -shollallohu alaihi wasallam- pernah masuk menemuiku, saat itu aku menutupi lemari kecil dengan kain tipis yang bergambar, [dalam riwayat lain redaksinya: "yang bergambar kuda bersayap"]. Melihat itu, beliau langsung merobeknya, dan berubah raut wajahnya. Beliau mengatakan: “Sesungguhnya orang yang paling pedih adzabnya di hari kiamat adalah, mereka yang menyaingi ciptaan Alloh” Aisyah mengatakan: Akhirnya kain itu ku potong dan kujadikan satu atau dua bantal. (HR. Bukhori: 5954, dan Muslim: 2107).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui lebih banyak hadits tentang larangan melukis obyek bernyawa, silahkan merujuk ke artikel kami di link berikut: http://addariny.wordpress.com/2009/06/30/651/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Syeikh Albani berpendapat haramnya menutup dinding rumah dengan kain, meski bukan dengan sutra, karena itu termasuk isrof dan hiasan yang tidak sesuai syariat. Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَأْمُرْنَا أَنْ نَكْسُوَ الْحِجَارَةَ وَالطِّينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Alloh tidak menyuruh kita untuk menutupi batu dan tanah. (HR. Muslim: 2106)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi mengatakan: “Para ulama memakai hadits itu sebagai dalil larangan menutup dinding dan lantai dengan kain, larangan itu adalah karohah tanzih, bukan larangan yang mengharamkan, dan inilah pendapat yang benar. Sedang Syeikh Abul Fath Nashr Al-Maqdisi dari sahabat kami (madzhab syafi’i) berpendapat haramnya hal itu. Tapi, dalam hadits ini tidak ada yang menunjukkan keharamannya, karena hakekat lafalnya: “Alloh tidak menyuruh kita melakukan itu”, ini berarti bahwa hal itu tidak wajib dan tidak sunat, dan tidak menunjukkan pengharaman sesuatu, wallohu a’lam. (Syarah Shohih Muslim, hadits no: 2106)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mencabut alis dan lainnya, karena Rosul -shollallohu alaihi wasallam- telah melaknat orang yang berbuat demikian. (HR. Bukhori: 4886, dan Muslim: 2125)&lt;br /&gt;* Mewarnai kuku dengan cat (sehingga menutupi jalannya air wudhu). Adapun sunnahnya adalah mewarnainya dengan hinna’.&lt;br /&gt;* Memanjangkan kuku, karena itu bertentangan dengan fitrah. Rosul bersabda: “Lima hal termasuk fitrah: “Khitan, mengerik bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak” (HR. Bukhori: 5889, dan Muslim: 257).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh juga melarang kita membiarkannya lebih dari 40 malam, sebagaimana perkataan Anas bin Malik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الْأَظْفَارِ وَنَتْفِ الْإِبِطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لَا نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami diberi batasan waktu untuk: Menyukur kumis, memotong kuku, mencabuti ketiak, dan mengerik bulu sekitar kemaluan, (yakni) agar kami tak membiarkannya lebih dari 40 malam. (HR. Muslim: 258)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mencukur jenggot, karena memelihara jenggot itu wajib hukumnya, sebagaimana sabda beliau: Cukur-tipislah kumis dan panjangkanlah jenggot, selisilah kaum majusi!. (HR. Muslim: 260)&lt;br /&gt;* Mempelai pria mengenakan cincin tunangan dari emas. Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian sutra dan emas diharamkan untuk umatku yang laki-laki, dan dihalalkan untuk mereka yang wanita. (HR. Tirmidzi: 1720, dishohihkan oleh Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Wajib hukumnya memperlakukan istri dengan baik, dan menuntunnya kepada hal-hal yang halal, khususnya bila istrinya masih muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Sebaik-baik kalian, adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik diantara kalian terhadap istriku” (HR. Tirmidzi: 3895, dishohihkan Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga bersabda: “Berilah nasehat baik pada wanita (istri), karena mereka itu tawananmu”. (HR. Tirmidzi: 1163, Ibnu Majah: 1851, dan yang lainnya. Dihasankan oleh Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga bersabda: “Janganlah lelaki mukmin membenci wanita mukminah (istrinya), karena jika dia benci salah satu tabiatnya, pasti ada hal lain yang ia suka” (HR. Muslim: 1469).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah mengisahkan: Suatu hari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pulang dari perang tabuk atau perang khoibar. (Saat itu) lemari kecil Aisyah tertutup tirai, lalu berhembuslah angin, yang menyingkap tirai itu, sehingga terlihatlah banyak mainan boneka wanita milik Aisyah. Beliau bertanya: “Apa ini, wahai Aisyah?”, ia menjawab: “Anak-anak perempuanku”. Diantara mainannya itu beliau juga melihat ada boneka kuda bersayap dua yang terbuat dari kain, lalu mengatakan: “Kalau yang di tengah ini apa?”, ia menjawab: “itu kuda”, beliau menimpali: “terus apa yang diatasnya?”, ia menjawab: “dua sayapnya”, beliau mengatakan: “kuda mempunyai dua sayap?”, ia menjawab: “bukankah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman memiliki kuda bersayap?!”. (Mendengar itu) beliau langsung tersenyum hingga kulihat gigi-gigi gerahamnya. (HR. Abu Dawud: 4932 dan yang lainnya, sanadnya hasan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Sebaiknya suami membantu pekerjaan rumah istrinya, bila ada waktu senggang dan tidak sedang lelah. Sebagaimana disebutkan Aisyah: “Dahulu beliau -shollallohu alaihi wasallam- biasa membantu istrinya, dan beliau pergi untuk sholat bila tiba waktunya”. (HR. Bukhori: 676). Aisyah juga mengatakan: “Beliau itu manusia seperti yang lainnya, mencuci pakaiannya, memerah kambingnya, dan membantu istrinya”. (HR. Ahmad: 25662, sanadnya kuat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Pesan-pesan untuk kedua mempelai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Hendaklah keduanya ta’at kepada Alloh dan saling mengingatkan untuk itu. Hendaklah keduanya menjalankan syariat-Nya yang tetap dalam Qur’an dan Sunnah, dan tidak meninggalkannya hanya karena taklid, atau adat masyarakat, atau madzhab tertentu, Alloh berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidaklah pantas bagi mukmin dan mukminah, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu hukum dalam urusan mereka, untuk memilih (pilihan lainnya), karena barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya, sungguh ia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata. (Al-Ahzab: 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Hendaklah keduanya menjaga hak dan kewajiban masing-masing. Maka janganlah istri menuntut suaminya hak yang sama dalam segala hal! Sebaliknya, janganlah suami memanfaatkan harta dan posisinya sebagai kepala rumah tangga, untuk mendholimi istrinya, seperti memukulnya tanpa ada sebab syar’i. Alloh azza wajall berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para istri itu memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut, dan para suami itu memiliki kelebihan di atas mereka. Dan Alloh adalah maha perkasa lagi maha bijaksana. (Al-Baqoroh: 228)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mu’awiyah bin Haidah bertanya: “Wahai Rosululloh, apa hak istri atas suaminya?” Beliau menjawab: “Yaitu, memberinya makan dan sandang jika memintanya, tidak mengatakan ‘Qobbahakilloh’ (semoga Alloh menjadikanmu buruk), tidak memukul wajahnya, [tidak mendiamkannya kecuali di dalam rumahnya]“. (HR. Abu Dawud: 2142,  dan Ahmad: 19541).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosul juga bersabda: “Orang yang adil akan menduduki singgasana dari cahaya diatas tangan kanan Alloh yang maha penyayang, dan kedua tangan-Nya itu kanan, yaitu mereka yang adil dalam mengatur kekuasaannya, keluarganya, dan tanggung jawab yang serahkan padanya. (HR. Muslim: 1827).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila keduanya tahu hal ini dan menerapkannya dengan baik, niscaya Alloh akan menjadikan hidup keduanya baik, tentram, bahagia. Alloh berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa melakukan kebajikan dalam keimanan, baik laki-laki maupun perempuan, pasti Kami berikan padanya kehidupan yang baik, dan Kami pasti membalas mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An-Nahl: 97)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- khusus untuk sang istri:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذا صلت المرأة خمسها وحصنت فرجها وأطاعت بعلها دخلت من أي أبواب الجنة شاءت&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila perempuan mendirikan sholatnya, menjaga kehormatannya, dan mentaati suaminya, ia pasti masuk surga dari pintu manapun ia kehendaki. (HR. Thobaroni, sanadnya hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairoh mengatakan: Rosululloh pernah ditanya: “Siapa wanita yang paling baik?”, beliau menjawab: “Yaitu wanita yang menyenangkan bila suaminya memandangnya, mentaati bila diperintah, dan ia tidak menyelisihi suaminya karena sesuatu yang dibencinya, baik dengan diri maupun hartanya” (HR. Nasa’i: 3231 dan yang lainnya, dishohihkan oleh Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Seluruh dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang sholihah”. (HR. Muslim:  1467)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنِ الْحُصَيْنِ بْنِ مِحْصَنٍ، أَنَّ عَمَّةً لَهُ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَاجَةٍ، فَفَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا، فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوهُ إِلَّا مَا عَجَزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Hushoin bin Mihshon: bahwa bibinya pernah menemui Rosululloh  shollallohu alaihi wasallam- karena suatu keperluan, setelah selesai beliau bertanya: “Apa anda bersuami?”. “Ya”, jawabku. “Bagaimana sikapmu terhadapnya?” tanya beliau. “Aku bersungguh-sungguh di dalam (menaati dan melayani)-nya, kecuali pada hal yang tidak ku mampui”, jawabku. Maka beliau mengatakan: “Lihatlah bagaimana hubunganmu dengannya! karena suamimu itu surga dan nerakamu”. (HR. Ahmad: 18524 dan yang lainnya, sanadnya shohih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَصُمْ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنْ فِي بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah istri berpuasa selain Romadhon saat suaminya bersamanya, kecuali dengan izinnya. Istri juga tidak boleh mengijinkan orang lain masuk rumah, kecuali dengan izin suaminya. (HR. Muslim: 1026)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه فلم تأته فبات غضبان عليها لعنتها الملائكة حتى تصبح [وفي رواية : حتى ترجع] [وفي أخرى: حتى يرضى عنها]ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika suami mengajak istrinya ke ranjang, tapi ia tidak menurutinya hingga suaminya marah, maka para malaikat melaknatnya “hingga pagi tiba“ (HR. Bukhori: 3237, dan Muslim: 1436)… [dalam riwayat lain: "hingga ia kembali (menurutinya)"] (HR. Bukhori: 5194, dan Muslim: 1436)… [dalam riwayat lain: "hingga si suami merelakannya"] (HR. Muslim: 1736).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya aku boleh menyuruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, tentu aku sudah menyuruh istri untuk sujud kepada suaminya. (HR. Abu Dawud: 2140, Tirmidzi: 1159, Ibnu Majah: 1853, Ahmad: 18913, dan yang lainnya, dishohihkan Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهَا كُلَّهُ حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا عَلَيْهَا كُلَّهُ، حَتَّى لَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى ظَهْرِ قَتَبٍ لَأَعْطَتْهُ إِيَّاهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seorang istri tidak akan memenuhi hak Alloh atasnya dengan sempurna, hingga ia memenuhi hak suaminya dengan sempurna, hingga seandainya si suami meminta dirinya saat di pelana, maka ia tidak menolak ajakannya. (HR. Ahmad: 18913, dan yang lainnya, dishohihkan Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا تؤذي امرأة زوجها في الدنيا إلا قالت زوجته من الحور العين: لا تؤذيه قاتلك الله فإنما هو عندك دخيل يوشك أن يفارقك إلينا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya ketika di dunia, kecuali istrinya dari kalangan bidadari mengatakan padanya: “Janganlah engkau menyakitinya, qootalakillah, karena suamimu itu sebenarnya tamu, yang sebentar lagi meninggalkanmu untuk menemui kami”. (HR. Ahmad: 21596, Tirmidzi: 1174, dan Ibnu Majah: 2014, dishohihkan Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah… selesai sudah ringkasan ini… semoga bermanfaat bagi para pembaca… dan kurang lebihnya kami mohon maaf… wassalam…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://addariny.wordpress.com/"&gt;Addariny&lt;/a&gt;, di Madinah, 8 Romadhon 1430 / 29 Agustus 2009.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-1611646880879792496?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/1611646880879792496/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/sungguh-indahbila-pernikahan-dihias.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/1611646880879792496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/1611646880879792496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/sungguh-indahbila-pernikahan-dihias.html' title='Sungguh Indah, Bila Pernikahan Dihias dengan Sunnah...'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-8834790324849148761</id><published>2009-11-21T14:06:00.016+07:00</published><updated>2009-11-30T08:27:40.300+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Audio'/><title type='text'>Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tema Kajian : Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pembicara :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="post-body" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://ia341318.us.archive.org/1/items/Download_325/YazidJawas-BingkisanIstimewaMenujuKeluargaSakinah1.mp3"&gt;BingkisanMenujuKeluargaSakinah1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ia341318.us.archive.org/1/items/Download_325/YazidJawas-BingkisanIstimewaMenujuKeluargaSakinah2.mp3"&gt;BingkisanMenujuKeluargaSakinah2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ia341318.us.archive.org/1/items/Download_325/YazidJawas-BingkisanIstimewaMenujuKeluargaSakinah3.mp3"&gt;BingkisanMenujuKeluargaSakinah3&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://ia341318.us.archive.org/1/items/Download_325/YazidJawas-BingkisanIstimewaMenujuKeluargaSakinah4.mp3"&gt;BingkisanMenujuKeluargaSakinah4&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-8834790324849148761?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/8834790324849148761/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/httpia341318.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/8834790324849148761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/8834790324849148761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/httpia341318.html' title='Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-6376260096801680632</id><published>2009-11-19T21:38:00.012+07:00</published><updated>2009-12-04T08:51:42.801+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><title type='text'>Tata Cara Pernikahan Dalam Islam (3)</title><content type='html'>&lt;b&gt;WALIMATUL 'URUSY&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;3. Walimah&lt;br /&gt;Walimatul 'urusy (pesta pernikahan) hukumnya wajib&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Ini adalah pendapat Imam asy-Syafi’i , Imam Malik dan Ibnu Hazm azh-Zhahiri. Berdasarkan perintah Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam kepada Shahabat ‘Abdurrahman bin ‘Auf agar mengadakan walimah. Sedangkan Jumhur ulama berpendapat bahwa walimah hukumnya sunnah muakkadah. Wallaahu a’lam]&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;dan diusahakan sesederhana mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Selenggarakanlah walimah meskipun hanya dengan menyembelih seekor kambing” &lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2049 dan 5155), Muslim (no. 1427), Abu Dawud (no. 2109), an-Nasa'i (VI/119-120), at-Tirmidzi (no. 1094), Ahmad (III/190, 271), ath-Thayalisi (no. 2242) dan lainnya, dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;• Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan orang-orang yang mengadakan walimah agar tidak hanya mengundang orang-orang kaya saja, tetapi hendaknya diundang pula orang-orang miskin. Karena makanan yang dihidangkan untuk orang-orang kaya saja adalah sejelek-jelek hidangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya saja untuk makan, sedangkan orang-orang miskin tidak diundang. Barangsiapa yang tidak menghadiri undangan walimah, maka ia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya” &lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5177), Muslim (no. 1432), Abu Dawud (no. 3742), Ibnu Majah (no. 1913) dan al-Baihaqi (VII/262), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lafazh ini milik Muslim]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Sebagai catatan penting, hendaknya yang diundang itu orang-orang shalih, baik kaya maupun miskin, sesuai sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;“Janganlah engkau bergaul melainkan dengan orang-orang mukmin dan jangan makan makananmu melainkan orang-orang yang bertaqwa”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt; &lt;i&gt;[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4832), at-Tir-midzi (no. 2395), al-Hakim (IV/128) dan Ahmad (III/38), dari Shahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Orang yang diundang menghadiri walimah, maka dia wajib untuk memenuhi undangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika salah seorang dari kamu diundang menghadiri acara walimah, maka datangilah!”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5173), Muslim (no. 1429 (96)), Abu Dawud (no. 3736) dan at-Tirmidzi (no. 1098), Ibnu Majah (no. 1914), Ahmad (II/20, 22, 37, 101), al-Baihaqi (VII/ 262) dan al-Baghawi (IX/138), dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Memenuhi undangan walimah hukumnya wajib, meskipun orang yang diundang sedang berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila seseorang dari kalian diundang makan, maka penuhilah undangan itu. Apabila ia tidak berpuasa, maka makanlah (hidangannya), tetapi jika ia sedang berpuasa, maka hendaklah ia men-do’akan (orang yang mengundangnya)”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1431 (106)), Ahmad (II/507), al-Baihaqi (VII/263) dan lafazh ini miliknya, dari Abu Hurairah]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Dan apabila yang diundang memiliki alasan yang kuat atau karena perjalanan jauh sehingga menyulitkan atau sibuk, maka boleh baginya untuk tidak menghadiri undangan tersebut.&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Al-Insyiraah fii Adaabin Nikaah (hal. 41-42)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan riwayat dari ‘Atha' bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu pernah diundang acara walimah, sementara dia sendiri sibuk membereskan urusan pengairan. Dia berkata kepada orang-orang, “Datangilah undangan saudara kalian, sampaikanlah salamku kepadanya dan kabarkanlah bahwa aku sedang sibuk”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam Mushannaf (no. 19664). Al-Hafizh berkata, “Sanadnya shahih.” (Fat-hul Baari IX/247)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Disunnahkan bagi yang diundang menghadiri walimah untuk melakukan hal-hal berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;: Jika seseorang diundang walimah atau jamuan makan, maka dia tidak boleh mengajak orang lain yang tidak diundang oleh tuan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan riwayat dari Abu Mas’ud al-Anshari, ia berkata, “Ada seorang pria yang baru saja menetap di Madinah bernama Syu’aib, ia punya seorang anak penjual daging. Ia berkata kepada anaknya, ‘Buatlah makanan karena aku akan mengundang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.’ Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang bersama empat orang disertai seseorang yang tidak diundang. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau mengundang aku bersama empat orang lainnya. Dan orang ini ikut bersama kami. Jika engkau izinkan biarlah ia ikut makan, jika tidak maka aku suruh pulang.’ Syu’aib menjawab, ‘Tentu, saya mengizinkannya’”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan al-Bukhari (no. 2081, 2456, 5434, 5461), Muslim (no. 2036 (138)), Ahmad (IV/120, 121) dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (IX/145, no. 2320)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;: Mendo’akan bagi shahibul hajat (tuan rumah) setelah makan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a yang disunnahkan untuk diucapkan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, ampunilah mereka, sayangilah mereka dan berkahilah apa-apa yang Engkau karuniakan kepada mereka”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/187-188), dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Dalam riwayat Muslim dengan lafazh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, berkahilah apa-apa yang Engkau karuniakan kepada mereka, ampunilah mereka dan sayangilah mereka.”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2042), at-Tirmidzi (no. 3576), Abu Dawud (no. 3729), dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau dengan lafazh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, berikanlah makan kepada orang yang memberi makan kepadaku, dan berikanlah minum kepada orang yang memberi minum kepadaku”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2055), Ahmad (VI/2, 3, 4, 5), dari Sahabat al-Miqdad bin al-Aswad radhiyallaahu ‘anhu. Do’a tersebut diucapkan pula bila kita diundang makan atau makan di rumah orang lain ketika bertamu atau lainnya]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau dengan lafazh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah berbuka di sisi kalian orang-orang yang berpuasa, dan telah menyantap makanan kalian orang-orang yang baik, dan para Malaikat telah mendo’akan kalian.”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Diriwayatkan oleh Ahmad (III/118, 138), Abu Dawud (no. 3854), al-Baihaqi (VII/287), an-Nasa'i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 299) dan Ibnu Sunni (no. 482), dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Do’a ini diucapkan ketika seseorang berbuka puasa di rumah orang lain, juga ketika kita diundang makan. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 171) cet. Darus Salam, th. 1423 H]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;: Mendo’akan kedua mempelai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a yang disunnahkan untuk diucapkan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi pernikahanmu, serta semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2130), at-Tirmidzi (no. 1091), Ahmad (II/381), Ibnu Majah (no. 1905), al-Hakim (II/183) dan al-Baihaqi (VII/148), dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Disunnahkan menabuh rebana pada hari dilaksanakannya pernikahan.&lt;br /&gt;Ada dua faedah yang terkandung di dalamnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Publikasi (mengumumkan) pernikahan.&lt;br /&gt;2. Menghibur kedua mempelai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits dari Muhammad bin Hathib, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pembeda antara perkara halal dengan yang haram pada pesta pernikahan adalah rebana dan nyanyian (yang dimainkan oleh anak-anak kecil)”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh an-Nasa-i (VI/127-128), at-Tirmi-dzi (no. 1088), Ibnu Majah (no. 1896), Ahmad (III/418 dan IV/259), al-Hakim (II/183) dan ia berkata, “Sanadnya shahih.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, ia pernah mengantar mempelai wanita ke tempat mempelai pria dari kalangan Anshar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai ‘Aisyah, apakah ada hiburan yang me-nyertai kalian? Sebab, orang-orang Anshar suka kepada hiburan.”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5162), al-Hakim (II/183-184), al-Baihaqi (VII/288) dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 2267)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mengirimkan bersamanya seorang gadis (yang masih kecil -pen) untuk memukul rebana dan menyanyi?” ‘Aisyah bertanya, “Apa yang dia nyanyikan?” Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Dia mengucapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami datang kepada kalian, kami datang kepada kalian&lt;br /&gt;Hormatilah kami, maka kami hormati kalian&lt;br /&gt;Seandainya bukan karena emas merah&lt;br /&gt;Niscaya kampung kalian tidaklah mempesona&lt;br /&gt;Seandainya bukan gandum berwarna coklat&lt;br /&gt;Niscaya gadis kalian tidaklah menjadi gemuk.&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1900), Ahmad (III/391), al-Baihaqi (VII/289), dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Umumkanlah (meriahkanlah) pernikahan.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (no. 1285 al-Mawaarid), Ahmad (IV/5), al-Hakim (II/183) dan al-Baihaqi (VII/288), dari ‘Abdullah bin Zubair radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-6376260096801680632?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/6376260096801680632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/tata-cara-pernikahan-dalam-islam_3147.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/6376260096801680632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/6376260096801680632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/tata-cara-pernikahan-dalam-islam_3147.html' title='Tata Cara Pernikahan Dalam Islam (3)'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-9175627764473404794</id><published>2009-11-19T21:20:00.004+07:00</published><updated>2009-12-04T08:51:42.804+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><title type='text'>Tata Cara Pernikahan Dalam Islam (2)</title><content type='html'>&lt;b&gt;AQAD NIKAH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;2. Aqad Nikah&lt;br /&gt;Dalam aqad nikah ada beberapa syarat, rukun dan kewajiban yang harus dipenuhi, yaitu adanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Rasa suka sama suka dari kedua calon mempelai&lt;br /&gt;2. Izin dari wali&lt;br /&gt;3. Saksi-saksi (minimal dua saksi yang adil)&lt;br /&gt;4. Mahar&lt;br /&gt;5. Ijab Qabul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Wali&lt;br /&gt;Yang dikatakan wali adalah orang yang paling dekat dengan si wanita. Dan orang paling berhak untuk menikahkan wanita merdeka adalah ayahnya, lalu kakeknya, dan seterusnya ke atas. Boleh juga anaknya dan cucunya, kemudian saudara seayah seibu, kemudian saudara seayah, kemudian paman.&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Al-Mughni (IX/129-134), cet. Darul Hadits]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Ibnu Baththal rahimahullaah berkata, “Mereka (para ulama) ikhtilaf tentang wali. Jumhur ulama di antaranya adalah Imam Malik, ats-Tsauri, al-Laits, Imam asy-Syafi’i, dan selainnya berkata, “Wali dalam pernikahan adalah ‘ashabah (dari pihak bapak), sedangkan paman dari saudara ibu, ayahnya ibu, dan saudara-saudara dari pihak ibu tidak memiliki hak wali.”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Fat-hul Baari (IX/187)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disyaratkan adanya wali bagi wanita. Islam mensyaratkan adanya wali bagi wanita sebagai penghormatan bagi wanita, memuliakan dan menjaga masa depan mereka. Walinya lebih mengetahui daripada wanita tersebut. Jadi bagi wanita, wajib ada wali yang membimbing urusannya, mengurus aqad nikahnya. Tidak boleh bagi seorang wanita menikah tanpa wali, dan apabila ini terjadi maka tidak sah pernikahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;“Siapa saja wanita yang menikah tanpa seizin walinya, maka nikahnya bathil (tidak sah), pernikahannya bathil, pernikahannya bathil. Jika seseorang menggaulinya, maka wanita itu berhak mendapatkan mahar dengan sebab menghalalkan kemaluannya. Jika mereka berselisih, maka sulthan (penguasa) adalah wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali.”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[&lt;i&gt;Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2083), at-Tirmidzi (no. 1102), Ibnu Majah (no. 1879), Ahmad (VI/47, 165), ad-Darimi (II/137), Ibnul Jarud (no. 700), Ibnu Hibban no. 1248-al-Mawaarid), al-Hakim (II/168) dan al-Baihaqi (VII/105) dan lainnya, dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha. Hadits ini dishahihkan Syaikh al-Albani dalam kitabnya Irwaa-ul Ghaliil (no. 1840), Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1524) dan Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 880)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak sah nikah melainkan dengan wali.” &lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2085), at-Tirmidzi (no. 1101), Ibnu Majah (no. 1879), Ahmad (IV/394, 413), ad-Darimi (II/137), Ibnu Hibban (no. 1243 al-Mawaarid), al-Hakim (II/170, 171) dan al-Baihaqi (VII/107) dari Shahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak sah nikah kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang adil.”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq (VI/196, no. 10473), ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (XVIII/142, no. 299) dan al-Baihaqi (VII/125), dari Shahabat ‘Imran bin Hushain. Hadits ini dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 7557). Hadits-hadits tentang syarat sahnya nikah wajib adanya wali adalah hadits-hadits yang shahih. Tentang takhrijnya dapat dilihat dalam kitab Irwaa-ul Ghaliil fii Takhriij Ahaadiits Manaris Sabil (VI/235-251, 258-261, no. 1839, 1840, 1844, 1845, 1858, 1860)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang wali ini berlaku bagi gadis maupun janda. Artinya, apabila seorang gadis atau janda menikah tanpa wali, maka nikahnya tidak sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sahnya nikah tanpa wali tersebut berdasarkan hadits-hadits di atas yang shahih dan juga berdasarkan dalil dari Al-Qur’anul Karim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan apabila kamu menceraikan isteri-isteri (kamu), lalu sampai masa ‘iddahnya, maka jangan kamu (para wali) halangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari Akhir. Itu lebih suci bagimu dan lebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” [Al-Baqarah : 232]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas memiliki asbaabun nuzul (sebab turunnya ayat), yaitu satu riwayat berikut ini. Tentang firman Allah: “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka,” al-Hasan al-Bashri rahimahullaah berkata, Telah menceritakan kepadaku Ma’qil bin Yasar, sesungguhnya ayat ini turun berkenaan dengan dirinya. Ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pernah menikahkan saudara perempuanku dengan seorang laki-laki, kemudian laki-laki itu menceraikannya. Sehingga ketika masa ‘iddahnya telah berlalu, laki-laki itu (mantan suami) datang untuk meminangnya kembali. Aku katakan kepadanya, ‘Aku telah menikahkan dan mengawinkanmu (dengannya) dan aku pun memuliakanmu, lalu engkau menceraikannya. Sekarang engkau datang untuk meminangnya?! Tidak! Demi Allah, dia tidak boleh kembali kepadamu selamanya! Sedangkan ia adalah laki-laki yang baik, dan wanita itu pun menghendaki rujuk (kembali) padanya. Maka Allah menurunkan ayat ini: ‘Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka.’ Maka aku berkata, ‘Sekarang aku akan melakukannya (mewalikan dan menikahkannya) wahai Rasulullah.’” Kemudian Ma‘qil menikahkan saudara perempuannya kepada laki-laki itu.&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (5130), Abu Dawud (2089), at-Tirmidzi (2981), dan lainnya, dari Shahabat Ma’qil bin Yasar radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Ma’qil bin Yasar ini adalah hadits yang shahih lagi mulia. Hadits ini merupakan sekuat-kuat hujjah dan dalil tentang disyaratkannya wali dalam akad nikah. Artinya, tidak sah nikah tanpa wali, baik gadis maupun janda. Dalam hadits ini, Ma’qil bin Yasar yang berkedudukan sebagai wali telah menghalangi pernikahan antara saudara perempuannya yang akan ruju’ dengan mantan suaminya, padahal keduanya sudah sama-sama ridha. Lalu Allah Ta’ala menurunkan ayat yang mulia ini (yaitu surat al-Baqarah ayat 232) agar para wali jangan menghalangi pernikahan mereka. Jika wali bukan syarat, bisa saja keduanya menikah, baik dihalangi atau pun tidak. Kesimpulannya, wali sebagai syarat sahnya nikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaah berkata, “Para ulama berselisih tentang disyaratkannya wali dalam pernikahan. Jumhur berpendapat demikian. Mereka berpendapat bahwa pada prinsipnya wanita tidak dapat menikahkan dirinya sendiri. Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang telah disebutkan di atas tentang perwalian. Jika tidak, niscaya penolakannya (untuk menikahkan wanita yang berada di bawah perwaliannya) tidak ada artinya. Seandainya wanita tadi mempunyai hak menikahkan dirinya, niscaya ia tidak membutuhkan saudara laki-lakinya. Ibnu Mundzir menyebutkan bahwa tidak ada seorang Shahabat pun yang menyelisihi hal itu.”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Fat-hul Baari (IX/187)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam asy-Syafi’i rahimahullaah berkata, “Siapa pun wanita yang menikah tanpa izin walinya, maka tidak ada nikah baginya (tidak sah). Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Maka nikahnya bathil (tidak sah).’”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Al-Umm (VI/35), cet. III/Darul Wafaa’, tahqiq Dr. Rif’at ‘Abdul Muththalib, th. 1425 H]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Hazm rahimahullaah berkata, “Tidak halal bagi wanita untuk menikah, baik janda maupun gadis, melainkan dengan izin walinya: ayahnya, saudara laki-lakinya, kakeknya, pamannya, atau anak laki-laki pamannya...”&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[&lt;i&gt;l-Muhalla (IX/451)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Qudamah rahimahullaah berkata, “Nikah tidak sah kecuali dengan wali. Wanita tidak berhak menikahkan dirinya sendiri, tidak pula selain (wali)nya. Juga tidak boleh mewakilkan kepada selain walinya untuk menikahkannya. Jika ia melakukannya, maka nikahnya tidak sah. Menurut Abu Hanifah, wanita boleh melakukannya.&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Dinukil secara ringkas dari kitab al-Mughni (IX/119), cet. Darul Hadits-Kairo, th. 1425 H, tahqiq Dr. Muhammad Syarafuddin dan Dr. As-Sayyid Muhammad as-Sayyid]&lt;/span&gt; &lt;/i&gt;Akan tetapi kita memiliki dalil bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pernikahan tidak sah, melainkan dengan adanya wali.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Keharusan Meminta Persetujuan Wanita Sebelum Pernikahan&lt;br /&gt;Apabila pernikahan tidak sah, kecuali dengan adanya wali, maka merupakan kewajiban juga meminta persetujuan dari wanita yang berada di bawah perwaliannya. Apabila wanita tersebut seorang janda, maka diminta persetujuannya (pendapatnya). Sedangkan jika wanita tersebut seorang gadis, maka diminta juga ijinnya dan diamnya merupakan tanda ia setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta perintahnya. Sedangkan seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta ijinnya.” Para Shahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah ijinnya?” Beliau menjawab, “Jika ia diam saja.”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5136), Muslim (no. 1419), Abu Dawud (no. 2092), at-Tirmidzi (no. 1107), Ibnu Majah (no. 1871) dan an-Nasa-i (VI/86)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma bahwasanya ada seorang gadis yang mendatangi Rasulullah shal-lallaahu ‘alaihi wa sallam dan mengadu bahwa ayahnya telah menikahkannya, sedangkan ia tidak ridha. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan pilihan kepadanya (apakah ia ingin meneruskan pernikahannya, ataukah ia ingin membatalkannya).&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[&lt;i&gt;Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2096), Ibnu Majah (no. 1875). Lihat Shahih Ibni Majah (no. 1520) dan al-Wajiiz (hal. 280-281)]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Mahar&lt;br /&gt;“Dan berikanlah mahar (maskawin) kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan.” [An-Nisaa’ : 4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahar adalah sesuatu yang diberikan kepada isteri berupa harta atau selainnya dengan sebab pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahar (atau diistilahkan dengan mas kawin) adalah hak seorang wanita yang harus dibayar oleh laki-laki yang akan menikahinya. Mahar merupakan milik seorang isteri dan tidak boleh seorang pun mengambilnya, baik ayah maupun yang lainnya, kecuali dengan keridhaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syari’at Islam yang mulia melarang bermahal-mahal dalam menentukan mahar, bahkan dianjurkan untuk meringankan mahar agar mempermudah proses pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di antara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya dan mudah rahimnya.”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/77, 91), Ibnu Hibban (no. 1256 al-Mawaarid) dan al-Hakim (II/181). Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Irwaa-ul Ghaliil (VI/350)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Urwah berkata, “Yaitu mudah rahimnya untuk melahirkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.’”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2117), Ibnu Hibban (no. 1262 al-Mawaarid) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (I/221, no. 724), dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallaahu ‘anhu. Dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Shahiihul Jaami’ (no. 3300)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya seseorang tidak memiliki sesuatu untuk membayar mahar, maka ia boleh membayar mahar dengan mengajarkan ayat Al-Qur’an yang dihafalnya.&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Berdasarkan hadits yang diriwauyatkan oleh al-Bukhari (no. 5087) dan Muslim (no. 1425)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Khutbah Nikah&lt;br /&gt;Menurut Sunnah, sebelum dilangsungkan akad nikah diadakan khutbah terlebih dahulu, yang dinamakan Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat.&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Lihat kitab Khutbatul Haajah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Maktabah al-Ma’arif, th. 1421 H, dan Syarah Khutbah Haajah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, takhrij wa ta’liq Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Daarul Adh-ha, th. 1409 H]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Adapun teks Khutbah Nikah adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.&lt;br /&gt;Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” [Ali ‘Imran : 102]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai manusia! Bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada Allah yang dengan Nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguh-nya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” [An-Nisaa' : 1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, nis-caya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan meng-ampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar.” [Al-Ahzaab : 70-71]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amma ba’du: &lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Khutbah ini dinamakan khutbatul haajah, yaitu khutbah pembuka yang biasa dipergunakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk mengawali setiap majelisnya. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan khutbah ini kepada para Shahabatnya radhiyallaahu ‘anhum. Khutbah ini diriwayatkan dari enam Shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/392-393), Abu Dawud (no. 1097 dan 2118), an-Nasa-i (III/104-105), at-Tirmidzi (no. 1105), Ibnu Majah (no. 1892), al-Hakim (II/182-183), ath-Thayalisi (no. 336), Abu Ya’la (no. 5211), ad-Darimi (II/142) dan al-Baihaqi (III/214 dan VII/146), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini shahih. &lt;br /&gt;Hadits ini ada beberapa syawahid (penguat) dari beberapa Shahabat, yaitu:&lt;br /&gt;1. Shahabat Abu Musa al-Asy’ari (Majma’uz Zawaa-id IV/288).&lt;br /&gt;2. Shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas (Muslim no. 868, al-Baihaqi III/214).&lt;br /&gt;3. Shahabat Jabir bin ‘Abdillah (Ahmad II/37, Muslim no. 867 dan al-Baihaqi III/214).&lt;br /&gt;4. Shahabat Nubaith bin Syarith (al-Baihaqi III/215).&lt;br /&gt;5. Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha.&lt;br /&gt;Lihat Khutbatul Haajah Allatii Kaana Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam Yu’allimuhaa Ash-haabahu, karya Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, cet. IV/ al-Maktab al-Islami, th. 1400 H dan cet. I/ Maktabah al-Ma’arif, th. 1421 H. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap khutbahnya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam selalu memulai dengan memuji dan menyanjung Allah Ta’ala serta ber-tasyahhud (mengucapkan dua kalimat syahadat) sebagaimana yang diriwayatkan oleh para Shahabat:&lt;br /&gt;1. Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallaahu ‘anha, ia berkata: “... Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau bersabda: Amma ba’du....” (HR. Al-Bukhari, no. 86, 184 dan 922)&lt;br /&gt;2. ‘Amr bin Taghlib, dengan lafazh yang sama dengan hadits Asma’. (HR. Al-Bukhari, no. 923)&lt;br /&gt;3. ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha berkata: “...Tatkala selesai shalat Shubuh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menghadap kepada para Shahabat, beliau bertasyahhud (mengucapkan kalimat syahadat) kemudian bersabda: Amma ba’du...” (HR. Al-Bukhari, no. 924)&lt;br /&gt;4. Abu Humaid as-Sa’idi berkata: “Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri khutbah pada waktu petang sesudah shalat (‘Ashar), lalu beliau bertasyahhud dan menyanjung serta memuji Allah yang memang hanya Dia-lah yang berhak mendapatkan sanjungan dan pujian, kemudian bersabda: Amma ba’du...” (HR. Al-Bukhari no. 925).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;    &lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;br /&gt;“Setiap khutbah yang tidak dimulai dengan tasyahhud, maka khutbah itu seperti tangan yang berpenyakit lepra/kusta.” (HR. Abu Dawud no. 4841; Ahmad II/ 302, 343; Ibnu Hibban, no. 1994-al-Mawaarid; dan selainnya. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 169).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Syaikh al-Albani, yang dimaksud dengan tasyahhud di hadits ini adalah khutbatul haajah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para Shahabat radhiyallaahu ‘anhum, yaitu: “Innalhamdalillaah...” (Hadits Ibnu Mas’ud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah: “Khutbah ini adalah Sunnah, dilakukan ketika mengajarkan Al-Qur-an, As-Sunnah, fiqih, menasihati orang dan semacamnya.... Sesungguhnya hadits Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, tidak mengkhususkan untuk khutbah nikah saja, tetapi khutbah ini pada setiap ada keperluan untuk berbicara kepada hamba-hamba Allah, sebagian kepada se-bagian yang lainnya...” (Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah, XVIII/286-287)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah berkata, “...Sesungguhnya khutbah ini dibaca sebagai pembuka setiap khutbah, apakah khutbah nikah, atau khutbah Jum’at, atau yang lainnya (seperti ceramah, mengajar dan yang lainnya-pent.), tidak khusus untuk khutbah nikah saja, sebagaimana disangka oleh sebagian orang...” (Khutbatul Hajah (hal. 36), cet. I/ Maktabah al-Ma’arif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau melanjutkan: “Khutbatul haajah ini hukumnya sunnah bukan wajib, dan saya membawakan hal ini untuk menghidup-kan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang ditinggalkan oleh kaum Muslimin dan tidak dipraktekkan oleh para khatib, penceramah, guru, pengajar dan selain mereka. Mereka harus berusaha untuk menghafalnya dan mempraktekkannya ketika memulai khutbah, ceramah, makalah, atau pun mengajar. Semoga Allah merealisasikan tujuan mereka.” (Khutbatul Haajah (hal. 40) cet. I/ Maktabah al-Ma’arif, dan an-Nashiihah (hal. 81-82) cet. I/ Daar Ibnu ‘Affan/th. 1420 H.)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-9175627764473404794?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/9175627764473404794/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/tata-cara-pernikahan-dalam-islam_19.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/9175627764473404794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/9175627764473404794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/tata-cara-pernikahan-dalam-islam_19.html' title='Tata Cara Pernikahan Dalam Islam (2)'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-7528732407534928179</id><published>2009-11-19T20:37:00.006+07:00</published><updated>2009-12-04T08:51:42.807+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><title type='text'>Tata Cara Pernikahan Dalam Islam (1)</title><content type='html'>&lt;b&gt;KHITBAH (PEMINANGAN)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tata cara pernikahan berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih sesuai dengan pemahaman para Salafush Shalih, di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Khitbah (Peminangan)&lt;br /&gt;Seorang laki-laki muslim yang akan menikahi seorang muslimah, hendaklah ia meminang terlebih dahulu karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain. Dalam hal ini Islam melarang seorang laki-laki muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang membeli barang yang sedang ditawar (untuk dibeli) oleh saudaranya, dan melarang seseorang meminang wanita yang telah dipinang sampai orang yang meminangnya itu meninggalkannya atau mengizinkannya.&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5142) dan Muslim (no. 1412), dari Shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Lafazh ini milik al-Bukhari]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Disunnahkan melihat wajah wanita yang akan dipinang dan boleh melihat apa-apa yang dapat mendorongnya untuk menikahi wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila seseorang di antara kalian ingin meminang seorang wanita, jika ia bisa melihat apa-apa yang dapat mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah!”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (III/334, 360), Abu Dawud (no. 2082) dan al-Hakim (II/165), dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallaahu ‘anhu pernah meminang seorang wanita, maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihatlah wanita tersebut, sebab hal itu lebih patut untuk melanggengkan (cinta kasih) antara kalian berdua.” &lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1087), an-Nasa-i (VI/69-70), ad-Darimi (II/134) dan lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1511)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam at-Tirmidzi rahimahullaah berkata, “Sebagian ahli ilmu berpendapat dengan hadits ini bahwa menurut mereka tidak mengapa melihat wanita yang dipinang selagi tidak melihat apa yang diharamkan darinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang melihat wanita yang dipinang, telah terjadi ikhtilaf di kalangan para ulama, ikhtilafnya berkaitan tentang bagian mana saja yang boleh dilihat. Ada yang berpendapat boleh melihat selain muka dan kedua telapak tangan, yaitu melihat rambut, betis dan lainnya, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya.” Akan tetapi yang disepakati oleh para ulama adalah melihat muka dan kedua tangannya. Wallaahu a’lam.&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Lihat pembahasan masalah ini dalam Syarhus Sunnah (IX/17) oleh Imam al-Baghawi, Syarh Muslim (IX/210) oleh Imam an-Nawawi, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (I/97-208, no. 95-98) oleh Syaikh al-Albani, al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah (V/34-36) oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah dan Fiqhun Nazhar (hal. 82-89)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketika Laki-Laki Shalih Datang Untuk Meminang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang laki-laki yang shalih dianjurkan untuk mencari wanita muslimah ideal -sebagaimana yang telah kami sebutkan- maka demikian pula dengan wali kaum wanita. Wali wanita pun berkewajiban mencari laki-laki shalih yang akan dinikahkan dengan anaknya. Dari Abu Hatim al-Muzani radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak kalian). Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.’”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits hasan lighairihi: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1085). Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1022)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh juga seorang wali menawarkan puteri atau saudara perempuannya kepada orang-orang yang shalih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Bahwasanya tatkala Hafshah binti ‘Umar ditinggal mati oleh suaminya yang bernama Khunais bin Hudzafah as-Sahmi, ia adalah salah seorang Shahabat Nabi yang meninggal di Madinah. ‘Umar bin al-Khaththab berkata, ‘Aku mendatangi ‘Utsman bin ‘Affan untuk menawarkan Hafshah, maka ia berkata, ‘Akan aku pertimbangkan dahulu.’ Setelah beberapa hari kemudian ‘Utsman mendatangiku dan berkata, ‘Aku telah memutuskan untuk tidak menikah saat ini.’’ ‘Umar melanjutkan, ‘Kemudian aku menemui Abu Bakar ash-Shiddiq dan berkata, ‘Jika engkau mau, aku akan nikahkan Hafshah binti ‘Umar denganmu.’ Akan tetapi Abu Bakar diam dan tidak berkomentar apa pun. Saat itu aku lebih kecewa terhadap Abu Bakar daripada kepada ‘Utsman.&lt;br /&gt;Maka berlalulah beberapa hari hingga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam meminangnya. Maka, aku nikahkan puteriku dengan Rasulullah. Kemudian Abu Bakar menemuiku dan berkata, ‘Apakah engkau marah kepadaku tatkala engkau menawarkan Hafshah, akan tetapi aku tidak berkomentar apa pun?’ ‘Umar men-jawab, ‘Ya.’ Abu Bakar berkata, ‘Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang menghalangiku untuk menerima tawaranmu, kecuali aku mengetahui bahwa Rasulullah telah menyebut-nyebutnya (Hafshah). Aku tidak ingin menyebarkan rahasia Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Jika beliau meninggalkannya, niscaya aku akan menerima tawaranmu.’”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5122) dan an-Nasa-i (VI/77-78). Lihat Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 3047)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Shalat Istikharah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang laki-laki telah nazhar (melihat) wanita yang dipinang serta wanita pun sudah melihat laki-laki yang meminangnya dan tekad telah bulat untuk menikah, maka hendaklah masing-masing dari keduanya untuk melakukan shalat istikharah dan berdo’a seusai shalat. Yaitu memohon kepada Allah agar memberi taufiq dan kecocokan, serta memohon kepada-Nya agar diberikan pilihan yang baik baginya.&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Al-Insyiraah fii Aadabin Nikaah (hal. 22-23) oleh Syaikh Abu Ishaq al-Khuwaini, Jaami’ Ahkaamin Nisaa'(III/216) oleh Musthafa al-‘Adawi dan Adabul Khithbah waz Zifaaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 21-22) oleh ‘Amr ‘Abdul Mun’im Salim]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Hal ini berdasarkan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami shalat Istikharah untuk memutuskan segala sesuatu sebagaimana mengajari surat Al-Qur'an.” Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian mempunyai rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaknya melakukan shalat sunnah (Istikharah) dua raka’at, kemudian membaca do’a:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan aku memohon kekuatan kepada-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan ke-Mahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu yang Mahaagung, sungguh Engkau Mahakuasa sedang aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui dan Engkaulah yang Maha Mengetahui yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (orang yang mempunyai hajat hendaknya menyebut persoalannya) lebih baik dalam agamaku, penghidupanku, dan akibatnya terhadap diriku (atau Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘..di dunia atau akhirat) takdirkan (tetapkan)lah untukku, mudahkanlah jalannya, kemudian berilah berkah atasnya. Akan tetapi, apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini membawa keburukan bagiku dalam agamaku, penghidupanku, dan akibatnya kepada diriku (atau Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘...di dunia atau akhirat’) maka singkirkanlah persoalan tersebut, dan jauhkanlah aku darinya, dan takdirkan (tetapkan)lah kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berikanlah keridhaan-Mu kepadaku.’”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1162), Abu Dawud (no. 1538), at-Tirmidzi (no. 480), an-Nasa-i (VI/80), Ibnu Majah (no. 1383), Ahmad (III/334), al-Baihaqi (III/52) dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Tatkala masa ‘iddah Zainab binti Jahsy sudah selesai, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Zaid, ‘Sampaikanlah kepadanya bahwa aku akan meminangnya.’ Zaid berkata, ‘Lalu aku pergi mendatangi Zainab lalu aku berkata, ‘Wahai Zainab, bergembiralah karena Rasulullah mengutusku bahwa beliau akan meminangmu.’’ Zainab berkata, ‘Aku tidak akan melakukan sesuatu hingga aku meminta pilihan yang baik kepada Allah.’ Lalu Zainab pergi ke masjidnya &lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Yaitu mushalla tempat shalat di rumahnya] &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Lalu turunlah ayat Al-Qur'an&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Yaitu surat al-Ahzaab ayat 37. Allah telah menikahkan Nabi shallal-laahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab binti Jahsyi melalui ayat ini]&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang dan langsung masuk menemuinya.”&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1428 (89)), an-Nasa-i (VI/79), dari Shahabat Anas radhiyallaahu ‘anhu]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam an-Nasa’i rahimahullaah memberikan bab terhadap hadits ini dengan judul Shalaatul Marhidza Khuthibat wastikhaaratuha Rabbaha (Seorang Wanita Shalat Istikharah ketika Dipinang).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fawaaid (Faedah-Faedah) Yang Berkaitan Dengan Istikharah:&lt;br /&gt;1. Shalat Istikharah hukumnya sunnah.&lt;br /&gt;2. Do’a Istikharah dapat dilakukan setelah shalat Tahiyyatul Masjid, shalat sunnah Rawatib, shalat Dhuha, atau shalat malam.&lt;br /&gt;3. Shalat Istikharah dilakukan untuk meminta ditetapkannya pilihan kepada calon yang baik, bukan untuk memutuskan jadi atau tidaknya menikah. Karena, asal dari pernikahan adalah dianjurkan.&lt;br /&gt;4. Hendaknya ikhlas dan ittiba’ dalam berdo’a Istikharah.&lt;br /&gt;5. Tidak ada hadits yang shahih jika sudah shalat Istikharah akan ada mimpi, dan lainnya.&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Jaami’ Ahkaamin Nisaa' (III/218-222)]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-7528732407534928179?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/7528732407534928179/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/tata-cara-pernikahan-dalam-islam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/7528732407534928179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/7528732407534928179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/tata-cara-pernikahan-dalam-islam.html' title='Tata Cara Pernikahan Dalam Islam (1)'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-505395321146143670</id><published>2009-11-18T20:16:00.014+07:00</published><updated>2009-12-04T08:51:42.811+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><title type='text'>Konsep Islam Tentang Perkawinan (3)</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;TATA CARA PERKAWINAN DALAM ISLAM&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tata cara perkawinan berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah yang Shahih (sesuai dengan pemahaman para Salafus Shalih -peny), secara singkat penulis sebutkan dan jelaskan seperlunya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Khitbah (Peminangan)&lt;br /&gt;Seorang muslim yang akan mengawini seorang muslimah hendaknya ia meminang terlebih dahulu, karena dimungkinkan ia sedang di pinang oleh orang lain, dalam hal ini Islam melarang seorang muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain (Muttafaq 'alaihi). Dalam khitbah disunnahkan melihat wajah yang akan dipinang (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi No. 1093 dan Darimi).&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;[2]. Aqad Nikah&lt;br /&gt;Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.&lt;br /&gt;b. Adanya Ijab Qabul.&lt;br /&gt;c. Adanya Mahar.&lt;br /&gt;d. Adanya Wali.&lt;br /&gt;e. Adanya Saksi-saksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan menurut sunnah sebelum aqad nikah diadakan khutbah terlebih dahulu yang dinamakan Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Walimah&lt;br /&gt;Walimatul 'urusy hukumnya wajib dan diusahakan sesederhana mungkin dan dalam walimah hendaknya diundang orang-orang miskin. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang mengundang orang-orang kaya saja berarti makanan itu sejelek-jelek makanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya saja untuk makan, sedangkan orang-orang miskin tidak diundang. Barangsiapa yang tidak menghadiri undangan walimah, maka ia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya".&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits Shahih Riwayat Muslim 4:154 dan Baihaqi 7:262 dari Abu Hurairah]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan penting hendaknya yang diundang itu orang-orang shalih, baik kaya maupun miskin, karena ada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Janganlah kamu bergaul melainkan dengan orang-orang mukmin dan jangan makan makananmu melainkan orang-orang yang taqwa".&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim 4:128 dan Ahmad 3:38 dari Abu Sa'id Al-Khudri].&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SEBAGIAN  PENYELEWENGAN  YANG  TERJADI DALAM PERKAWINAN YANG WAJIB DIHINDARKAN/DIHILANGKAN.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Pacaran&lt;br /&gt;Kebanyakan orang sebelum melangsungkan perkawinan biasanya "Berpacaran" terlebih dahulu, hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan individu, atau masa penjajakan atau di anggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih terhadap lawan jenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya anggapan seperti ini, kemudian melahirkan konsesus bersama antar berbagai pihak untuk menganggap masa berpacaran sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar-wajar saja. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berintim-intim dua insan yang berlainan jenis, terjadi pandang memandang dan terjadi sentuh menyentuh, yang sudah jelas semuanya haram hukumnya menurut syari'at Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya".&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dalam Islam tidak ada kesempatan untuk berpacaran dan berpacaran hukumnya haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Tukar Cincin.&lt;br /&gt;Dalam peminangan biasanya ada tukar cincin sebagai tanda ikatan, hal ini bukan dari ajaran Islam. (Lihat Adabuz-Zifaf, Syaikh Nashiruddin Al-AlBani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Menuntut Mahar Yang Tinggi.&lt;br /&gt;Menurut Islam sebaik-baik mahar adalah yang murah dan mudah, tidak mempersulit atau mahal. Memang mahar itu hak wanita, tetapi Islam menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun cerita teguran seorang wanita terhadap Umar bin Khattab yang membatasi mahar wanita, adalah cerita yang salah karena riwayat itu sangat lemah. [Lihat Irwa'ul Ghalil 6, hal. 347-348].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. Mengikuti Upacara Adat.&lt;br /&gt;Ajaran dan peraturan Islam harus lebih tinggi dari segalanya. Setiap acara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam, maka wajib untuk dihilangkan. Umumnya umat Islam dalam cara perkawinan selalu meninggikan dan menyanjung adat istiadat setempat, sehingga sunnah-sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang benar dan shahih telah mereka matikan dan padamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sangat ironis...!. Kepada mereka yang masih menuhankan adat istiadat jahiliyah dan melecehkan konsep Islam, berarti mereka belum yakin kepada Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?". [Al-Maaidah : 50]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang mencari konsep, peraturan, dan tata cara selain Islam, maka semuanya tidak akan diterima oleh Allah dan kelak di Akhirat mereka akan menjadi orang-orang yang merugi, sebagaimana firman Allah Ta'ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". [Ali-Imran : 85]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. Mengucapkan Ucapan Selamat Ala Kaum Jahiliyah.&lt;br /&gt;Kaum jahiliyah selalu menggunakan kata-kata Birafa' Wal Banin, ketika mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Ucapan Birafa' Wal Banin (semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak) dilarang oleh Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Al-Hasan, bahwa 'Aqil bin Abi Thalib nikah dengan seorang wanita dari Jasyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah : Birafa' Wal Banin. 'Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata : "Janganlah kalian ucapkan demikian !. Karena Rasulullah shallallhu 'alaihi wa sallam melarang ucapan demikian". Para tamu bertanya :"Lalu apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid ?". 'Aqil menjelaskan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ucapkanlah : Barakallahu lakum wa Baraka 'Alaiykum" (Mudah-mudahan Allah memberi kalian keberkahan dan melimpahkan atas kalian keberkahan). Demikianlah ucapan yang diperintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam".&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits Shahih Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Darimi 2:134, Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad 3:451, dan lain-lain]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do'a yang biasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ucapkan kepada seorang mempelai ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baarakallahu laka wa baarakaa 'alaiyka wa jama'a baiynakumaa fii khoir"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do'a ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dari Abu hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam jika mengucapkan selamat kepada seorang mempelai, beliau mengucapkan do'a : (Baarakallahu laka wabaraka 'alaiyka wa jama'a baiynakuma fii khoir) Mudah-mudahan Allah memberimu keberkahan, Mudah-mudahan Allah mencurahkan keberkahan atasmu dan mudah-mudahan Dia mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan".&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Hadits Shahih Riwayat Ahmad 2:38, Tirmidzi, Darimi 2:134, Hakim 2:183, Ibnu Majah dan Baihaqi 7:148]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]. Adanya Ikhtilath.&lt;br /&gt;Ikhtilath adalah bercampurnya laki-laki dan wanita hingga terjadi pandang memandang, sentuh menyentuh, jabat tangan antara laki-laki dan wanita. Menurut Islam antara mempelai laki-laki dan wanita harus dipisah, sehingga apa yang kita sebutkan di atas dapat dihindari semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]. Pelanggaran Lain.&lt;br /&gt;Pelanggaran-pelanggaran lain yang sering dilakukan di antaranya adalah musik yang hingar bingar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KHATIMAH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rumah tangga yang ideal menurut ajaran Islam adalah rumah tangga yang diliputi Sakinah (ketentraman jiwa), Mawaddah (rasa cinta) dan Rahmah (kasih sayang), Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu hidup tentram bersamanya. Dan Dia (juga) telah menjadikan di antaramu (suami, istri) rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir".[Ar-Ruum : 21].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rumah tangga yang Islami, seorang suami dan istri harus saling memahami kekurangan dan kelebihannya, serta harus tahu pula hak dan kewajibannya serta memahami tugas dan fungsiya masing-masing yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga upaya untuk mewujudkan perkawinan dan rumah tangga yang mendapat keridla'an Allah dapat terealisir, akan tetapi mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tentram dan bahagia mendadak dilanda "kemelut" perselisihan dan percekcokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila sudah diupayakan untuk damai sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an surat An-Nisaa : 34-35, tetapi masih juga gagal, maka Islam memberikan jalan terakhir, yaitu "perceraian".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita berupaya untuk melakasanakan perkawinan secara Islam dan membina rumah tangga yang Islami, serta kita wajib meninggalkan aturan, tata cara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam. Ajaran Islam-lah satu-satunya ajaran yang benar dan diridlai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala [Ali-Imran : 19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan yang menyejukkan hati kami, dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertaqwa". [Al-Furqan : 140].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amiin.&lt;br /&gt;Wallahu a'alam bish shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 10-11/Th I/1415-1994. Diterbitkan Oleh Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Gedung Umat Islam Lt II Kartopuran 241A Surakarta 57152]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/content/173/slash/2"&gt;almanhaj &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-505395321146143670?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/505395321146143670/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/konsep-islam-tentang-perkawinan_1395.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/505395321146143670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/505395321146143670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/konsep-islam-tentang-perkawinan_1395.html' title='Konsep Islam Tentang Perkawinan (3)'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-7753159632319698033</id><published>2009-11-18T16:00:00.009+07:00</published><updated>2009-12-04T08:51:42.814+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><title type='text'>Konsep Islam Tentang Perkawinan (2)</title><content type='html'>&lt;b&gt;TUJUAN PERKAWINAN DALAM ISLAM&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;[1]. Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia Yang Asasi&lt;br /&gt;Di tulisan terdahulu kami sebutkan bahwa perkawinan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan aqad nikah (melalui jenjang perkawinan), bukan dengan cara yang amat kotor menjijikan seperti cara-cara orang sekarang ini dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;[2]. Untuk Membentengi Ahlak Yang Luhur.&lt;br /&gt;Sasaran utama dari disyari'atkannya perkawinan dalam Islam di antaranya ialah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang telah menurunkan dan meninabobokan martabat manusia yang luhur. Islam memandang perkawinan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efefktif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya". [Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami.&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya Thalaq (perceraian), jika suami istri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah, sebagaimana firman Allah dalan ayat berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang bail. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang dhalim". [Al-Baqarah : 229].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni keduanya sudah tidak sanggup melaksanakan syari'at Allah. Dan dibenarkan rujuk (kembali nikah lagi) bila keduany sanggup menegakkan batas-batas Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah lanjutan ayat di atas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Kemudian jika si suami menthalaqnya (sesudah thalaq yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dikawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami yang pertama dan istri) untuk kawin kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, diternagkannya kepada kaum yang (mau) mengetahui ". [Al-Baqarah : 230]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami istri melaksanakan syari'at Sialm dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari'at Islam adalah wajib. Oleh karena itu setiap muslim dan muslimah yang ingin membina rumah tangga yang Islami, maka ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon pasangan yang ideal, yaitu: Harus Kafa'ah dan Shalihah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a]. Kafa'ah Menurut Konsep Islam&lt;br /&gt;Pengaruh materialisme telah banyak menimpa orang tua. Tidak sedikit zaman sekarang ini orang tua yang memiliki pemikiran, bahwa di dalam mencari calon jodoh putra-putrinya, selalu mempertimbangkan keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan saja. Sementara pertimbangan agama kurang mendapat perhatian. Masalah Kufu' (sederajat, sepadan) hanya diukur lewat materi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Islam, Kafa'ah atau kesamaan, kesepadanan atau sederajat dalam perkawinan, dipandang sangat penting karena dengan adanya kesamaan antara kedua suami istri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami inysa Allah akan terwujud. Tetapi kafa'ah menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta ahlaq seseorang, status sosial, keturunan dan lain-lainnya. Allah memandang sama derajat seseorang baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau kaya. Tidak ada perbedaan dari keduanya melainkan derajat taqwanya [Al-Hujurat : 13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal". [Al-Hujurat : 13].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka tetap sekufu' dan tidak ada halangan bagi mereka untuk menikah satu sama lainnya. Wajib bagi para orang tua, pemuda dan pemudi yang masih berfaham materialis dan mempertahanakan adat istiadat wajib mereka meninggalkannya dan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi yang Shahih. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Wanita dikawini karena empat hal : Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (ke-Islamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka". [Hadits Shahi Riwayat Bukhari 6:123, Muslim 4:175]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b]. Memilih Yang Shalihah&lt;br /&gt;Orang yang mau nikah harus memilih wanita yang shalihan dan wanita harus memilih laki-laki yang shalih. Menurut Al-Qur'an wanita yang shalihah ialah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Wanita yang shalihah ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri bila suami tidak ada, sebagaimana Allah telah memelihara (mereka)". [An-Nisaa : 34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Al-Qur'an dan Al-Hadits yang Shahih di antara ciri-ciri wanita yang shalihah ialah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ta'at kepada Allah, Ta'at kepada Rasul, Memakai jilbab yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah (Al-Ahzab : 32), Tidak berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahram, Ta'at kepada kedua Orang Tua dalam kebaikan, Ta'at kepada suami dan baik kepada tetangganya dan lain sebagainya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kriteria ini dipenuhi Insya Allah rumah tangga yang Islami akan terwujud. Sebagai tambahan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih wanita yang peranak (banyak keturunannya) dan penyayang agar dapat melahirkan generasi penerus umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah.&lt;br /&gt;Menurut konsep Islam, hidup sepenunya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadatan dan amal shalih di samping ibadat dan amal-amal shalih yang lain, sampai-sampai menyetubuhi istri-pun termasuk ibadah (sedekah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah !. Mendengar sabda Rasulullah para shahabat keheranan dan bertanya : "Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?" Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab : "Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? "Jawab para shahabat :"Ya, benar". Beliau bersabda lagi : "Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala !". [Hadits Shahih Riwayat Muslim 3:82, Ahmad 5:1167-168 dan Nasa'i dengan sanad yang Shahih].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. Untuk Mencari Keturunan Yang Shalih.&lt;br /&gt;Tujuan perkawinan di antaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam, Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?". [An-Nahl : 72]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang terpenting lagi dalam perkawinan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan Islam yang benar. Kita sebutkan demikian karena banyak "Lembaga Pendidikan Islam", tetapi isi dan caranya tidak Islami. Sehingga banyak kita lihat anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq Islami, diakibatkan karena pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami istri bertanggung jawab mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang tujuan perkawinan dalam Islam, Islam juga memandang bahwa pembentukan keluarga itu sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/content/173/slash/1"&gt;almanhaj&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-7753159632319698033?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/7753159632319698033/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/konsep-islam-tentang-perkawinan_18.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/7753159632319698033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/7753159632319698033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/konsep-islam-tentang-perkawinan_18.html' title='Konsep Islam Tentang Perkawinan (2)'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4720400177657787017.post-9194380792771626344</id><published>2009-11-16T23:18:00.019+07:00</published><updated>2009-12-04T08:51:42.819+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><title type='text'>Konsep Islam Tentang Perkawinan (1)</title><content type='html'>Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MUQADIMAH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Persoalan perkawinan adalah persoalan yang selalu aktual dan selalu menarik untuk dibicarakan, karena persoalan ini bukan hanya menyangkut tabiat dan hajat hidup manusia yang asasi saja tetapi juga menyentuh suatu lembaga yang luhur dan sentral yaitu rumah tangga. Luhur, karena lembaga ini merupakan benteng bagi pertahanan martabat manusia dan nilai-nilai ahlaq yang luhur dan sentral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Karena lembaga itu memang merupakan pusat bagi lahir dan tumbuhnya Bani Adam, yang kelak mempunyai peranan kunci dalam mewujudkan kedamaian dan kemakmuran di bumi ini. Menurut Islam Bani Adamlah yang memperoleh kehormatan untuk memikul amanah Illahi sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana firman Allah Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata : "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?. Allah berfirman : "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". [Al-Baqarah : 30].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkawinan bukanlah persoalan kecil dan sepele, tapi merupakan persoalan penting dan besar. 'Aqad nikah (perkawinan) adalah sebagai suatu perjanjian yang kokoh dan suci (mitsaqon gholidhoo), sebagaimana firman Allah Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat". [An-Nisaa' : 21].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, diharapkan semua pihak yang terlibat di dalamnya, khusunya suami istri, memelihara dan menjaganya secara sunguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan perkawinan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan khitbah (peminangan), bagaimana mendidik anak, serta memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai dalam proses nafaqah dan harta waris, semua diatur oleh Islam secara rinci dan detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya untuk memahami konsep Islam tentang perkawinan, maka rujukan yang paling sah dan benar adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah Shahih (yang sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih -pen), dengan rujukan ini kita akan dapati kejelasan tentang aspek-aspek perkawinan maupun beberapa penyimpangan dan pergeseran nilai perkawinan yang terjadi di masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak semua persoalan dapat penulis tuangkan dalam tulisan ini, hanya beberapa persoalan yang perlu dibahas yaitu tentang : Fitrah Manusia, Tujuan Perkawinan dalam Islam, Tata Cara Perkawinan dan Penyimpangan Dalam Perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PERKAWINAN ADALAH FITRAH KEMANUSIAAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam adalah agama fithrah, dan manusia diciptakan Allah Ta'ala cocok dengan fitrah ini, karena itu Allah Subhanahu wa Ta'ala menyuruh manusia menghadapkan diri ke agama fithrah agar tidak terjadi penyelewengan dan penyimpangan. Sehingga manusia berjalan di atas fitrahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkawinan adalah fithrah kemanusiaan, maka dari itu Islam menganjurkan untuk nikah, karena nikah merupakan gharizah insaniyah (naluri kemanusiaan). Bila gharizah ini tidak dipenuhi dengan jalan yang sah yaitu perkawinan, maka ia akan mencari jalan-jalan syetan yang banyak menjerumuskan ke lembah hitam. Firman Allah Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) ; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus ; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". [Ar-Ruum : 30].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Islam Menganjurkan Nikah&lt;br /&gt;Islam telah menjadikan ikatan perkawinan yang sah berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagi satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan perkawinan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata : "Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi".&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Islam Tidak Menyukai Membujang&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras kepada orang yang tidak mau menikah. Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata : "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras". Dan beliau bersabda : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Nikahilah perempuan yang banyak anak dan penyayang. Karena aku akan berbanggga dengan banyaknya umatku dihadapan para Nabi kelak di hari kiamat".&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits Riwayat Ahmad dan di shahihkan oleh Ibnu Hibban]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri-istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang peribadatan beliau, kemudian setelah diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan peribadatan mereka. Salah seorang berkata : Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus. Dan yang lain berkata : Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya .... Ketika hal itu di dengar oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau keluar seraya bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu, sungguh demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golongannku".&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mempunyai akal dan bashirah tidak akan mau menjerumuskan dirinya ke jalan kesesatan dengan hidup membujang. Kata Syaikh Hussain Muhammad Yusuf : "Hidup membujang adalah suatu kehidupan yang kering dan gersang, hidup yang tidak mempunyai makna dan tujuan. Suatu kehidupan yang hampa dari berbagai keutamaan insani yang pada umumnya ditegakkan atas dasar egoisme dan mementingkan diri sendiri serta ingin terlepas dari semua tanggung jawab".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang membujang pada umumnya hanya hidup untuk dirinya sendiri. Mereka membujang bersama hawa nafsu yang selalu bergelora, hingga kemurnian semangat dan rohaninya menjadi keruh. Mereka selalu ada dalam pergolakan melawan fitrahnya, kendatipun ketaqwaan mereka dapat diandalkan, namun pergolakan yang terjadi secara terus menerus lama kelamaan akan melemahkan iman dan ketahanan jiwa serta mengganggu kesehatan dan akan membawanya ke lembah kenistaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi orang yang enggan menikah baik itu laki-laki atau perempuan, maka mereka itu sebenarnya tergolong orang yang paling sengsara dalam hidup ini. Mereka itu adalah orang yang paling tidak menikmati kebahagian hidup, baik kesenangan bersifat sensual maupun spiritual. Mungkin mereka kaya, namun mereka miskin dari karunia Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menolak sistem kerahiban karena sistem tersebut bertentangan dengan fitrah kemanusiaan, dan bahkan sikap itu berarti melawan sunnah dan kodrat Allah Ta'ala yang telah ditetapkan bagi mahluknya. Sikap enggan membina rumah tangga karena takut miskin adalah sikap orang jahil (bodoh), karena semua rezeki sudah diatur oleh Allah sejak manusia berada di alam rahim, dan manusia tidak bisa menteorikan rezeki yang diakaruniakan Allah, misalnya ia berkata : "Bila saya hidup sendiri gaji saya cukup, tapi bila punya istri tidak cukup ?!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan ini adalah perkataan yang batil, karena bertentangan dengan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah memerintahkan untuk kawin, dan seandainya mereka fakir pasti Allah akan membantu dengan memberi rezeki kepadanya. Allah menjanjikan suatu pertolongan kepada orang yang nikah, dalam firman-Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". [An-Nur : 32]&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menguatkan janji Allah itu dengan sabdanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya".&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[Hadits Riwayat Ahmad 2 : 251, Nasa'i, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits No. 2518, dan Hakim 2 : 160 dari shahabat Abu Hurairah radliyallahu 'anhu]&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Salafus-Shalih sangat menganjurkan untuk nikah dan mereka anti membujang, serta tidak suka berlama-lama hidup sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas'ud radliyallahu 'anhu pernah berkata : "Jika umurku tinggal sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus menemui Allah sebagai seorang bujangan".&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;[Ihya Ulumuddin dan Tuhfatul 'Arus hal. 20]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/content/173/slash/0"&gt;almanhaj &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4720400177657787017-9194380792771626344?l=www.abinyarasyid.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/feeds/9194380792771626344/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/konsep-islam-tentang-perkawinan_5723.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/9194380792771626344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4720400177657787017/posts/default/9194380792771626344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.abinyarasyid.co.cc/2009/11/konsep-islam-tentang-perkawinan_5723.html' title='Konsep Islam Tentang Perkawinan (1)'/><author><name>Abu Rasyid al-'Abbad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14052933181444379101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_WbbI1fhtMB4/SwQkmJkl8AI/AAAAAAAAABY/QWYAdNg5YxE/S220/cooltext440491255.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
